
Masih di Novel Kembalinya Sang Puteri
“Suamiku! (datang Xueji membawa teh dan camilan untuknya yang sedang melamun) Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?”
“. . .Um, hanya urusan kerajaan” katanya berdalih
“Benarkah? Kalo begitu, dimana Yingjun. Hua’er bilang dia kemari ingin menemuimu, kau sudah bertemu dengannya?”
“Sudah. . .Dia baru saja pergi”
“Pergi? Kenapa buru-buru sekali, kau membuatnya kesal lagi kan?
“Kau ini, dia mana pernah tak kesal padaku?”
“Lalu, apa yang ingin ia bicarakan denganmu?”
“Dia hanya memberitahu bahwa sang Puteri terluka karena diserang oleh seseorang kemarin malam”
“Apa? Lalu, bagaimana kondisinya?”
“Aku juga belum tau pasti, dia hanya mengatakan bahwa sang Puteri belum sadarkan diri dan masih menerima perawatan oleh saudarinya”
“Kita harus segera kesana untuk melihat keadaannya, suamiku”
“Kau benar. Tapi sebaiknya, jika kau ingin pergi bawalah beberapa penjaga untuk mengawalmu kesana atau kau bisa pergi denganku. Aku takut orang itu akan muncul lagi nantinya”
“Baiklah, aku mengerti. Aku akan menunggumu pulang dan kita akan kesana bersama-sama. Bagaimana?”
“Begitu lebih baik”
Penginapan Changhu, kamar Yueji
Diatas ranjang terlihat badan mungilnya terbaring lemah tak berdaya. Keringat bercucuran, badan pun berguncang, wajahnya tampak pucat dan gelisah serta nafasnya berhembus tak beraturan. Rupanya ia sedang mengalami mimpi buruk yang tiba-tiba membangunkannya dari tidur panjangnya.
“Huuh, huuh (nafas panjang yang berulang-ulang dihembuskan) kenapa aku bisa ada disini dan kenapa aku merasakan sakit didadaku? Dimana kakak-kakakku?”benaknya yang mencoba untuk duduk sambil memegang dadanya
“Kau sudah bangun, nona? (kata Paman Pubu yang datang membawakan bubur untuknya) sebentar, Paman panggilkan tabib dahulu!” membantunya duduk lalu pergi
“Paman. . .” memanggil dengan suara yang lemah
“Iya nona, anda perlu sesuatu?” berbalik arah
“Dimana kakak-kakakku?”
“Mereka sedang pergi keluar dan menitipkan nona pada Paman. Sebentar, Paman panggilkan tabib dahulu!” melangkah keluar kamar
__ADS_1
Tak berapa lama Yingjun pun datang
“Kau sudah sadar?” membawa sebuah botol ramuan penguat Fisik untuknya.
Kenapa dia yang datang? Bukankah Paman bilang akan memanggilkan tabib untukku?
“Bagaimana keadaanmu?” duduk disamping Yueji
“Aku tidak apa-apa, hanya sedikit sakit disebelah sini (memegang bagian yang sakit) Kenapa kau yang kemari? Dimana Paman?”
“Sedang menyiapkan makanan. Aku membawakan ramuan Penguat Fisik lagi untukmu. Nona Yi Mei bilang bahwa ramuan yang kemarin sudah habis, jadi aku bawakan lagi untukmu. Minumlah dahulu!” menyerahkan botol itu
“Kau. . .tidak sedang membohongiku dan berencana membunuhku kan? mengamati botol yang dipegang oleh Yingjun
“Membunuhmu? Untuk apa membunuhmu dengan sebuah racun, aku bisa saja menggunakan tanganku untuk melakukannya dan itu lebih mudah untuk dilakukan pada seorang wanita yang sedang tak berdaya dihadapanku ini”
Benar juga apa yang ia katakan Aku, akan meminumnya nanti. . .”
“Kau harus meminumnya sekarang, apa kau butuh bantuanku untuk meminumkannya?” wajahnya semakin mendekat. Mendengar ucapannya, fikiran Yueji mengarah pada hal yang pernah ia lakukan terhadap Yingjun, hanya saja berbeda posisi kali ini Yingjun yang akan membantunya meminumkan ramuan itu dari mulut ke mulut.
“Ti. .Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri!” meminumnya dengan segera sehingga tersedak dan membuat dadanya sakit
“Kau tidak apa-apa? Pelan-pelan saja, tidak akan ada yang merebutnya darimu!” kedua tangannya memegang pundak Yueji lalu memberikannya segelas air. Mendapat perhatian dari Yingjun, hatinya pun mulai goyah dan luluh akan kebaikan yang diberikan olehnya.
“Terima kasih. . .” ucapnya malu-malu
“Entahlah, aku hanya ingat bahwa malam itu sangat gelap kemudian tiba-tiba ada bayangan yang menyerangku dari arah belakang. Sebenarnya kemampuan bertarungnya tidaklah seberapa, hanya saja ia memiliki tenaga dalam yang cukup kuat. Ketika aku lengah, ia mulai mengeluarkan jurusnya lalu menyerangku begitu saja hingga aku terjatuh dan setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi” jelasnya
“Menurut penuturan kakak-kakakmu, ia memakai jubah bertudung berwarna hitam dengan topeng yang menutupi sebagian wajahnya, apa itu benar?”
“Itu benar. Berkat jubah itu ia jadi mudah bersembunyi dalam kegelapan sehingga sulit untuk dideteksi dengan mata telanjang. Tunggu, sepertinya aku sempat melihat wajahnya”
“Apa kau bilang? Bagaimana mungkin?”
“Aku menggunakan Mata Jiwa untuk bisa membaca pergerakannya dan saat itulah aku berhasil membuka topengnya. Dia. . .seorang wanita, usianya sekitar empat puluh tahun, memiliki mata yang tajam, dan juga. . .”
“Dan juga. . . Apa yang kau lihat?”
“Dia memiliki sebuah tanda berwarna hitam dan berbentuk Api dibawah telinga sebelah kirinya. Dia juga mengguankan seluruh jurusnya menggunakan tangan kirinya, dia adalah seorang yang Kidal”
Kidal? Kenapa ciri-cirinya mirip sekali dengan ibuku? Apa benar ia yang melakukan semua ini?
“Hei, ada apa? Kau mengenalnya?”
“Tidak, hanya saja dimalam yang sama para prajutit kerajaan juga diserang olehnya. Mereka sama-sama mengalami hancur rusuk dan jantung, kau lebih beruntung karena tak ada yang selamat dari mereka”
__ADS_1
“Hancur rusuk dan jantung? Separah itukah?”
“Em. Tapi, bekas luka ditubuhku mereka bukanlah berasal dari serangan tangan kiri melainkan tangan kanan. Itu artinya yang menyerangmu berbeda dengan yang menyerang para prajurit kerajaan”
“Oh. . . Tunggu, luka ditubuhku yang berbeda? Bagaimana kau tau luka ditubuhku dan para prajurit itu berbeda? Jangan-jangan kau. . .” menutupi bagian depan tubuhnya
“Apa yang kau pikirkan? Bukankah tadi kau bilang bahwa yang menyerangmu adalah seorang yang kidal? Kau juga terluka dibagian tubuh sebelah kiri sudah tentu bekasnya juga akan berbentuk telapak tangan kiri bukan?”
“Begitu rupanya?”
“Kenapa? Apa kau pikir, aku memeriksanya secara pribadi dan melihat bagian tubuhmu itu?” mendekatkan wajahnya
“Kau. . .” kesalnya yang sedang digoda oleh Yingjun
“Ah, aku lupa menanyakan hal ini padamu?” menarik badannya
“Apa?”
“Kenapa kau selalu melarikan diri ketika melihatku? Apa yang kau sembunyikan dariku?” tanyanya dengan wajah serius
“Apa. . .maksudmu? Siapa yang melarikan diri?”
“Aku selalu menjadi pusat perhatian para wanita ketika aku berada diluar rumah. Mereka akan otomatis mendekat padaku tanpa aku memintanya. Tapi tidak dengan dirimu, kau langsung lari terbirit-birit saat bertemu denganku dan itu tidak hanya terjadi sekali saja. Kata pemilik kios Kue Bulan waktu itu bahwa aku terlalu tampan sehingga kau lari begitu melihat wajahku. Apakah kau memiliki Phobia terhadap rupa pria yang tampan? Jika itu benar, kau benar-benar rugi!”
Narsis sekali pria ini! Bagaimana dia mengatakan semua itu tanpa berkedip bahkan tersenyum? Benar-benar menyebalkan!”
“Kau belum menjawab pertanyaanku dan sekarang malah mengolokku?”
“Siapa bilang aku memiliki Phobia terhadap pria tampan? Aku hanya kebetulan sedang teburu-buru karena sebuah urusan saat bertemu denganmu!”
“Benarkah?”
“Tentu saja! Apa lagi yang kau pikirkan?”
“Baguslah kalo begitu (bangkit dari duduknya kemudian berbisik pada Yueji) Aku pikir kau takut jatuh cinta padaku saat pertama kali melihatku”
“Kau!!” kesalnya menjauhkan diri dari godaan pria tampan satu ini. Sambil tersenyum, Yingjun meninggalkan Yueji
yang sedang kesal lalu berbalik arah dan berkata
“Habiskan makananmu agar kau cepat pulih. Jika masih ada yang terasa tidak enak, kau bisa memanggilku atau Paman Pubu” ucapnya dengan lembut yang membuat kekesalan Yueji mereda
“Aku mengerti!” jawabnya tertunduk luluh
__ADS_1
Bersambung. . .