Kembalinya Sang Puteri

Kembalinya Sang Puteri
Episode 3


__ADS_3

Sebelumnya di novel Kembalinya sang Puteri. . .


Setelah dua puluh tahun berlalu, ketiga Gadis itu tumbuh besar bersama-sama. Sesuai janji Ren Xia pada Selir Xiao Meili yang tak lain adalah ibunda dari Yueji bahwa ia akan menganggap Yueji seperti anaknya sendiri dan Yi Mei serta Yi Cao akan menjadi kakaknya. Meski begitu, Ren Xia tetap memberitahu Yueji tentang Ibu kandungnya, walaupun tak menjelaskannya secara rinci. Hal ini dilakukan, agar kehidupan Yueji tak dipenuhi rasa dendam atas apa yang terjadi pada ibunya di masa lalu. Ketiga gadis itu belajar Kungfu bersama-sama dan dan berkat Kakek petapa mereka telah menguasai beberapa jurus Kungfu. Seperti apa kehebatan mereka? Yuk, ikuti kisahnya berikut ini. . .


Lanjutan. . .


Beberapa hidangan pun telah siap dimeja didalam Gua dan Yueji mengambil sebuah daging lalu langsung melahapnya. Sambil mengunyah tangan Yueji mengambil sebuah Bakpao lalu menggambar sesuatu diatasnya.


“Kau ini, makanan pun masih kau jadikan mainan?” Kakek Yinshi yang terlihat kesal pada tingkah Yueji


“Kakek, lihatlah!” ternyata sedari tadi Yueji sedang menggambar wajah Kakek Yin di Bakpao itu dan kemudian memperlihatkan hasil karyanya.


“Kau. . .” namun bukannya mendapat pujian, kakek itu terlihat semakin kesal


“Yueji, selesaikan dulu makanannya. Jangan membuat tuan petapa marah lagi” mendinginkan keadaan antara kakek dan cucu itu. Meski sering membuatnya kesal, tapi kakek Yin sangat senang dengan Yueji sehingga ia selalu


melayani setiap tingkah dari Yueji yang masih terlihat kekanakan saat berhadapan dengannya.


“Tuan harap maklum, kebiasaan Yueji memang sama persis seperti ibunya dulu saat masih remaja. Beliau tidak pernah bisa melihat permukaan yang kosong dan langsung mengisinya dengan berbagai gambar yang ia


inginkan. Oleh karena itu, saya tidak hera jika saat ini Yueji juga melakukannya” jelas Ren Xia menuangkan sup kedalam mangkuk kakek Yin


“Benarkah apa yang dikatakan bibi tadi?” sahut Yueji


“Tentu saja. . .Beliau adalah orang yang tidak menyia-nyiakan kekosongan pada suatu benda dan akan mengisinya dengan hal-hal yang indah. Oleh karena itu, sekarang tuan puteri semakin mengingatkan saya


tentangnya.


“Bibi, panggil saja namaku. Bukankah Ibu juga menyuruh Bibi untuk tak segan padaku?” ucapnya sambil hendak memasukkan Bakpao bergambar wajah kakek Yin kedalam mulutnya

__ADS_1


“Eh. .eh. .apa yang kau lakukan? Kenapa kau mau memakannya?” Kakek Yin langsung merebut Bakpao itu dari Yueji saat ia hendak memakannya


“Bukannya tadi kakek kesal saat aku menunjukannya? Kenapa sekarang malah merebutnya? Kembalikan, aku masih lapar!” pertengkaran kecil pun dimulai


“Masih ada banyak disana, kenapa kau ingin memakan yang ada gambar wajahku?” menyembunyikan Bakpao itu dibelakang punggungnya.


“Tidak mau, aku mau itu! Lagi pula yang menggambarnya aku!” mencoba meraihnya dan hendak merebutnya. Kakek dan Cucu itu tampak lucu ketika sedang berselisih, hanya gara-gara sebuah Bakpaopun mereka berebut layaknya seorang anak kecil. Ren Xia dan kedua putrinya hanya tertawa melihat kekonyolan mereka berdua.


Setelah selesai makan, Yuejipun menepi dan bersandar di dinding Gua sambil memejamkan matanya.


“Hei, sedang apa kau disitu? Ayo lanjutkan berlatih lagi!” Suruh sang kakek


“Kakek, kita lanjutkan besok saja. Aku mengantuk karena kekenyangan” sahut Yueji dengan suara menggelayutnya


“Huh. . .sudahlah, tidak ada habisnya berdebat denganmu. Yi Mei, Yi Cao, lanjutkan latihan kalian!” melangkah pergi keluar Gua


“Baik kakek!” merekapun bersiap-siap dan mengikuti kakek Yin keluar Gua untuk melanjutkan latihan kungfunya


“Bibi, sampai kapan bibi akan memanggilku seperti itu”


“Baik, baik. . .Yueji”


“Ada apa Bi? Apa yang ada ditangan bibi?” duduk dengan tegak


“Ini adalah abu jasad dari nyonya Xiao yang selama ini sengaja bibi simpan. Bibi pikir, sebagai puterinya kau lebih berhak untuk melarungkannya. Jadi aku masih menyimpannya dengan baik. Dan buku ini adalah buku gambar yang dibuat khusus oleh kakekmu untuk ibumu karena beliau tau apa yang nyonya Xiao sukai. Tapi sayang, sebelum buku ini penuh dengan gambar-gambar indahnya nyonya telah pergi untuk selamanya. Sekarang kau sudah dewasa, tumbuh menjadi gadis yang baik dan tentunya menuruni bakat dari ibumu yang juga pandai menorehkan tinta diatas kertas, oleh karena itu akan aku serahkan kedua benda berharga ini padamu sekarang.” Menyerahkan kedua benda itu pada Yueji


“Selama ini aku selalu penasaran dengan wajah Ibuku. Apakah ia cantik?”


“Tentu saja! Beliau adalah orang yang sangat cantik. Bukan hanya rupanya namun juga hatinya.”

__ADS_1


“Aku percaya itu karena Bibi juga orang yang baik. .meski aku belum pernah melihat wajahnya dan sekarang hanya bisa memegang abu jasadnya, tapi aku bahagia karena dapat lahir dari rahimnya” kata Yueji sambil memegang dan memandangi kendi kecil itu. Suasanapun menjadi haru


“Ada satu benda lagi yang beliau berikan padaku. .” mengeluarkan sesuatu dari balik  punggungnya


“Apa itu?”


“Bukalah!” menyerahkan sebuah gulungan yang ada ditangannya


“Ini. . .” perlahan-lahan membuka gulungan yang ternyata berisi gambar wajah selir Xiao yang sempat ia buat sesaat sebelum melahirkan.


“Itulah wajah Ibumu. Ia menggambarnya sebelum melahirkanmu. Ia mengatakan bahwa inilah yang akan membuatmu mengenalnya meski kau tak dapat menyentuhnya secara langsung” jelasnya dengan berkaca-kaca


“Benarkah bi?” tangannya seketika bergetar dan matanya mulai tak dapat membendung kesedihannya ketika melihat sosok wanita cantik yang tergambar pada gulungan itu.


“Seperti inikah wajah ibuku?” suaranya bergetar, air matanya jatuh mengalir dan menetes dipipinya


“Benar. . .Nyonya sengaja menggambarnya agar kau tidak penasaran dan mengenal Ibundamu sendiri”


“Entah apa yang ia rasakan saat melukis wajahnya sendiri, sehingga gambar ini terlihat tertekan dan sedih membuatku kasihan melihatnya” berlinang air mata


“Apa yang dialami oleh nyonya pada masa lalu, biarlah menjadi kenangan nyonya saja. Beliau berharap agar kau bisa hidup bahagia tanpa bebannya di masa lalu”


“Baiklah bibi, aku mengerti. Tapi untuk buku ini, apa yang harus aku lakukan dengannya?”


“Saya melayani nyonya sejak beliau belum menikah. Nyonya pernah bilang bahwa nyonya ingin melihat dunia luar, berjalan mengikuti arah bulan dan mengabadikannya dalam satu buku. Tapi setelah nyonya menikah, beliau tidak bisa keluar rumah dengan bebas karena tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Sehingga keinginannya terhenti tanpa sempat mengisinya”


“Begitu ya. . .Kalau begitu, bagaimana jika aku yang mewujudkan keinginannya bi? Aku akan melakukan apa yang belum sempat ibuku lakukan dimasa lalu”


“Kau akan pergi melihat dunia luar seperti keinginan ibumu?”

__ADS_1


“Benar bi. . .bagaimana  menurutmu?” memegang tangan Ren Xia


Apa jawaban Ren Xia atas permintaan Yueji yang ingin mewujudkan mimpi ibunya? Tunggu di Next Eps ya. . .


__ADS_2