
Kediaman Menteri Tao
Kita tinggalkan kisah perjalanan Sang Puteri Yueji, Yi Mei dan Yi Cao dahulu dan menengok si pria tampan yang bernama Yingjun itu di kediaman orang tuanya. Setelah beberapa hari terbaring ditempat tidur, akhirnya Yingjun sadar.
"Kamu sudah bangun, nak! Bagaimana perasaanmu sekarang?” ucap sang Ibunda yang datang membawa obat dan semangkuk bubur lalu menaruhnya diatas meja sudut
“. . .Kenapa aku bisa ada disini?” ujarnya lirih
“Kau tidak ingat apa yang terjadi?”
“Ugh. .” rintihnya sembari memegang kepalanya ketika mencoba untuk terduduk
“Berbaring saja, kau masih lemah dan perlu banyak istirahat!” sarannya
“Tidak apa-apa, aku sudah lebih baik, bi. Tapi apa yang terjadi padaku?”
“Sudahlah jangan pikirkan itu dulu yang terpenting sekarang kau baik-baik saja. Aku bawakan kamu bubur, makanlah selagi hangat dan minum juga obatnya agar kau cepat pulih”
“Terima kasih, bibi” perlahan-lahan menghabiskan suap demi suap bubur dalam mangkuk itu. Meski sudah 20 tahun berlalu, Yingjun masih belum bisa memanggil Xuejie IBU. Namun dengan lapang dada, ia tetap memperhatikannya dan menyayanginya. Xuejie adalah ibu sambung dari Yingjun dan merupakan istri kedua dari ayahnya. Ibu kandungnya sendiri bernama Wu Qingwei yang tak pernah diketahui keberadaannya.
“Saat Hua ‘er membawamu pulang dalam keadaan penuh luka ayahmu sangat khawatir. Dia bahkan langsung menyuruh beberapa orang untuk mencari tau siapa yang melakukan semua ini padamu”
“Lalu. . .dimana ayah sekarang?”
“Dia sedang ada di Istana, ada beberapa hal mendesak yang harus ia selesaikan. Minum dulu obatnya dan beristirahatlah kembali, aku yang akan memberi tau ayahmu nanti jika kau sudah sadar”
“. . .KAKAK. . .!” serunya lantang dan masuk dengan tergesa-gesa
“Hua ‘er, Jaga Sikapmu!” bentak sang Ibunda
“Maaf Ibu, aku hanya terlalu senang setelah mendengar kakak sudah sadar (sahutnya merunduk) Kak, bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Em, Sudah jauh lebih baik. Terima kasih karena sudah menanyakannya.” Serunya tetap dengan nada lirih
“Kakak membuatku khawatir saja. Saat aku dan paman Pubu menemukan kakak dihutan dengan kondisi penuh luka aku pikir kakak sudah. . .” enggan melanjutkan ucapannya
__ADS_1
“Hua ‘er apa yang kau pikirkan? Sudah, jangan ganggu kakakmu dan biarkan dia istirahat!”
“Sudah berapa lama aku tertidur?”
“Kau pingsan selama tiga hari”
“Bibi, aku sudah cukup lama disini sebaiknya aku kembali ke Changhu. Paman Pubu pasti sudah sangat khawatir karenaku.” Menyingkap selimutnya dan menurunkan kaki kanannya dari atas tempat tidurnya
“Ayahmu juga khawatir padamu, ia belum melihatmu sadar jadi pergilah setelah ayahmu kembali” menahannya untuk tidak pergi
“Aku akan menemuinya sendiri nanti” karena tak dapat dicegah, ia pun tetap pergi
“Baiklah kalau itu maumu. Biarkan Hua ‘er mengantarmu!”
“Tidak perlu bi, aku. . .”
“Baik bu, aku akan mengantarkannya dengan selamat. Tidak ada penolakan, Tuan Tampan! Aku akan menunggu anda di luar, cepatlah bersiap!” Yingjun pun tak dapat mengelak karena sikap manis adiknya itu yang malah membuatnya tersenyum tipis-tipis.
Kereta kuda telah menunggunya diluar kediaman dan terlihat Hua ‘er yang sudah berada di dalamnya kemudian mengajaknya untuk masuk agar bisa segera sampai di Penginapan Changhu. Sepanjang perjalanan obrolan ringan tercipta oleh mulut manis adik Yingjun yang memberondongnya dengan rentetan pertanyaan.
“Kau membaca isinya?” menatap tajam wajah Xia Hua
“Hampir saja keceplosan! Ah, tidak kak! Sebenarnya cuma sedikit hehe. . .aku hanya melihat sebuah nama yang tertera disitu lalu langsung aku lipat kembali dan aku berikan pada Ayah”
“Ayah pasti akan salah paham. Baguslah jika kau tidak membacanya. . . kau masih kecil, tidak perlu tau urusan orang dewasa”
“Selamat, untung saja kakakku yang tampan ini tidak curiga . .Usiaku sudah 17 tahun, bukankah itu terhitung dewasa?”
“Kau saja masih merengek ketika meminta sesuatu, apa itu yang disebut dewasa?” menggodanya
“Berhenti mengolokku!” jawabnya dengan memasang wajah masam
“Baiklah, baiklah. Tetaplah jadi anak kecil agar aku bisa menggodamu setiap hari” mencubit pipi
“Huh! Sakit !”
__ADS_1
“Kau ini. . .” sikap manja sang adik membuatnya tersenyum. Meski status mereka yang sebagai saudara tiri, namun tak menghilangkan kasih sayang diantara keduanya dan tetap berperilaku selayaknya saudara kandung
“Ah, aku lupa satu hal. . .Siapa saja orang yang bersama kakak saat itu?”
“Apa maksudmu?”
“Saat kami mencari kakak ke hutan, kami melihat ada seseorang yang melambaikan sebuah kain dari arah jurang tempat kakak terjatuh. Berkat kain itulah kami bisa menemukan kakak disana, tapi setelah beberapa orang yang turun kebawah untuk membawa kakak naik ke atas tidak ada siapapun disana kecuali tubuh kakak yang penuh
dengan darah dan tangan yang sudah tersangga. Tabib juga bilang kalau kakak sempat meminum ramuan yang membuat tenaga dalam pulih dengan sendirinya”
“Mungkin itu Jianke?” pengawal setianya
“Tidak mungkin. Dia saja baru datang saat kakak sudah sampai diatas. Lagipula yang aku lihat bukan hanya satu orang” mengingatnya kembali
Seseorang? Jangan-jangan apa yang aku lihat itu bukan sebuah fatamorgana melainkan nyata? Ternyata meski dalam keadaan setengah sadar, Yingjun mengetahui keberadaan Yueji yang saat itu menolongnya
“Kak?. . .Kakak?” menganggu lamunannya
“. . .Pak Kusir, tolong hentikan keretanya!” serunya dari dalam kereta
“Loh, kenapa berhenti? Ini masih cukup jauh, kak!”
"Mengantarnya sampai disini saja, kau kembalilah!”
“Tapi Ibu menyuruhku untuk mengantarmu sampai ke Changhu sedangkan ini saja baru sampai di pasar kota. Bagaimana kalau ibu marah ketika melihatku pulang cepat dan membiarkanmu kembali sendiri?” memang gadis kecil yang cerewet
“Ibumu tak akan melakukannya. Sudah. . .kembalilah! Oh, ada satu hal lagi, lain kali jika terjadi sesuatu jangan pernah untuk pergi sendiri, suruh orang lain saja kau tak perlu ikut karena itu terlalu berbahaya. Mengerti?” nasehatnya pada adik perempuan satu-satunya itu sambil mengusap kepalanya, tanpa dalih Xia Hua langsung mengangguk dan Yingjun melanjutkan perjalanan ke Changhu dengan berjalan kaki meninggalkan Hua ‘er, begitu ia akrab disapa ditampuk keramaian pekan. Sepanjang jalan terngiang-ngiang dibenaknya tentang seseorang yang disebutkan oleh sang adik dan terus mencoba untuk mengingatnya kembali.
“Siapa orang itu? Apa benar dia bukan Jianke dan bukan juga sebuah ilusiku saja? (gumamnya) Sudahlah, lebih baik aku membeli sesuatu untuk paman” menuju sebuah kios penjual kue
“Tolong berikan kue bulannya satu!” ucap dua orang bersamaan sehingga membuat mereka saling menoleh satu sama lain. Ternyata. . .suara itu berasal dari Yingjun dan Yueji yang sama-sama menginginkan kue bulan di kios itu.
Akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali ya. Bagaimana reaksi Yueji ketika melihat pria yang ia selamatkan telah pulih dan kini berada tepat di depannya? Menyapa atau malah melarikan diri?
Bersambung. . .
__ADS_1