
**Pengenalan Tokoh Tambahan **
Tangan kanan Zhao Lantian : Wen Zhiling
Sebelumnya di novel Kembalinya sang Puteri. . .
Yingjun dan Yueji kembali bertemu di dalam Rumah Bordil Baihe, namun hanya Yingjun yang mengingat Yueji pada pertemuannya di kios kue bulan bukan saat mereka bertemu dibawah jurang hutan. Yingjun yang saat itu sedang memainkan sebuah Sitar untuk mengiringi tarian para gadis terus menatap Yueji tanpa diketahui olehnya karena
suaranya yang membuat semua orang terpana.
Di dalam Rumah Bordil Baihe, banyak penari yang sedang menunjukkan kemampuannya dalam berlenggak-lenggok menghibur para tamu. Yueji yang saat itu berpakaian seperti laki-laki pun ikut menikmatinya. Ia terduduk disudut ruangan sambil terus memperhatikannya dan dengan hati-hati mengeluarkan buku untuk mengabadikannya.
Sejenak ia berhenti untuk kembali memperhatikan setiap sisi dari model yang sedang dilukisnya, tanpa ia sadari ada seorang anak yang mengendap-endap mendekatinya dan langsung menarik buku itu dari pegangannya. Yueji yang terkejut pun berteriak
“Hei, Kau. Kembalikan buku itu!!” lalu mengejarnya
“Hei, Berhenti disitu!” sambil terus berlari. Karena badannya yang kecil, anak itu mampu berlari kesudut sempit pasar bahkan ke lorong-lorong sehingga menyulitkan Yueji untuk bisa menangkapnya.
Di sebuah tikungan pasar ketika anak itu berlari kearah lain langkah kaki Yueji terhenti oleh pasukan patroli kerajaan yang menghalangi jalannya. Bukan menyuruh mereka minggir tapi Yueji malah terpaku, badannya seketika mematung menikmati ketampanan salah seorang dari tentara tersebut. Ia adalah kepala polisi Zhao
Lantian. (Yueji, Yueji, dia memang mudah terpesona saat melihat pria tampan. Maklum saja, selama 20 tahun hidup di Gua dalam hutan satu-satunya laki-laki yang dapat ia lihat hanya kakek tua petapa itu).
“Nona. . .Nona!” tak berapa lama, Yueji tersadar oleh suara beratnya.
“Apa yang sedang anda lakukan?” mereka pikir Yueji sengaja menghalangi jalan mereka yang sedang berpatroli, bukan malah sebaliknya merekalah yang menghalangi jalan Yueji mengejar anak kecil yang mencuri buku miliknya.
“Oh Dewa, anak itu, kemana anak itu pergi?”
“Hei, nona. Ada apa denganmu? Menyingkirlah dan jangan halangi tugas kami yang sedang berpatroli ini!” salah seorang dari mereka yang menegurnya dengan nada tinggi
“Ah, tuan. Tolong bantu aku menemukan anak yang tadi berlari didepanku, ia mencuri barang berharga milikku, tuan” pintanya
“Hei, kau pasti sedang mengarang cerita untuk menggoda kepala polisi Zhao kami bukan? Menyingkirlah!”
“Inginku seperti itu. . .Tidak, aku benar-benar sedang mengejar pencuri tadi, dan bukankah kalian yang sedang menghalangi jalanku?” ucapnya yang semakin terdengar lirih
“Apa kau bilang?” bentaknya
__ADS_1
“Zhiling, tenanglah! Nona, apa yang kau katakan itu benar?” tanya kepala polisi Zhao. Ternyata orang yang sedari tadi membuat Yueji kesal bernama Zhiling, tangan kanan Zhao Lantian yang merupakan putra dari salah seorang Bentara (tugasnya menerima tamu kehormatan dari negara lain dan melayani mereka selama kunjungan). Jabatannya berada tepat dibawah kepala polisi Zhao dan mereka telah mengenal sejak kecil.
“Benar, tuan. Aku tidak bohong! Dia mencuri barang berharga milikku saat berada di Rumah Bordil Baihe”
“Apa yang ia curi?”
“Sebuah buku lukis”
“Haha, kau ingin kami mencari seorang pencuri yang hanya mencuri sebuah buku yang tak berguna seperti itu?” suara meledek Zhiling yang membuat Yueji naik pitam
“Apa kau bilang? Hei, jaga mulutmu!”
“Kepala polisi Zhao, lebih baik kita lanjutkan berpatroli saja dan jangan hiraukan omong kosongnya!”
“Tunggu tuan, aku benar-benar butuh pertolonganmu” tangannya meraih lengan kepala polisi Zhao seraya memohon padanya
“Beraninya kau!. . .”
“Sudahlah. Bagaimanapun ini sebuah kasus pencurian, sekecil apapun barangnya tetap harus kita cari dan tangkap pelakunya” ucap kepala polisi Zhao yang menenangkan bawahannya
“Nona, kemana anak itu pergi dan bagaimana ciri-cirinya?”
“Baiklah, kami akan mencoba mencari kesana dan kau boleh mencari kearah lain” mereka pun mulai berpencar.
Zhao Lantian adalah putra dari Zhao Baoyu yang memiliki kedudukan sebagai Taiwei atau Perwira Agung di negara Taiyang. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun, ia sudah dipercaya menjadi Kepala Polisi Provinsi I yang dinamakan dengan Zhou. Dalam beberapa peperangan, Zhao Lantian seringkali memimpin pasukan Kavaleri atau Pasukan berkuda untuk mempetahankan garis perbatasan kerajaan.
Buku lukis Yueji direbut oleh seorang pencuri kecil. Di tengah pengejarannya ia bertemu dengan tentara kerajaan yang sedang berpatroli dan meminta mereka untuk membantunya menemukan buku berharga miliknya yang merupakan peninggalan dari sang Ibunda. Karena luasnya area pasar, mereka memutuskan berpencar untuk mencarinya.
Setelah cukup lama mencari, Yueji berhenti karena mendengar suatu kegaduhan di salah satu lorong sempit. Ia melihat sebuah perundungan yang dilakukan oleh sekelompok orang dewasa terhadap seorang anak kecil yang sepertinya ia kenal. Ketika di dekati ternyata anak yang sedang mengalami perundungan itu adalah pencuri buku miliknya.
“Kau pikir benda ini berguna? Untuk apa kau memberikannya padaku?” pekik salah seorang perundung yang berteriak pada anak yang sedang berlutut ditanah. Sedangkan benda yang ia maksud adalah buku lukis milik Yueji.
** Tunggu\, buku itu. . .**
“Bawa dia!” anak itu diseret oleh beberapa orang dan hendak dibawanya pergi
__ADS_1
“Berhenti! Lepaskan anak itu!” serunya menghentikan langkah mereka
“Siapa kau? Berani-beraninya menghentikanku!”katanya dengan nada tinggi
“Kenapa kalian merundung anak yang tak berdaya ini? Lepaskan dia!”
“Apa urusannya denganmu? Anak ini membuatku kesal, aku hanya sedang memberinya pelajaran agar dia bisa bekerja lebih baik.”
“Jadi kau yang menyuruhnya untuk mencuri?”
“Mencuri? Dari mana kau tau itu?”
“Dia pemilik
buku itu, tuan” ujar anak yang tengah kesakitan itu
“Oh, jadi kau yang punya benda tak berguna ini?” menyeringai
“Bos, kita manfaatkan kesempatan emas ini. Suruh dia untuk menebusnya dengan harga yang tinggi dan kita bisa mendapatkan uang yang banyak. . .”rencana licik yang keluar dari mulut anak buahnya
“Kau pikir aku tidak tau itu. Tanpa kau beritahupun aku sudah paham bodoh!” hentaknya menggunakan buku
“Hei, apa yang kau lakukan. Kau dapat merusak buku itu! Kembalikan padaku!”
“Kembalikan? Kau harus menukarnya dulu dengan 50 tael perak baru bisa mendapatkannya kembali” perdebatan pun tak terelakkan
“Apa, 50 Tael perak? Kau gila! Kenapa aku harus membayar mahal untuk benda milikku sendiri?”
“Milikmu? Benda jelek ini sudah berada di tanganku, jadi sekarang ini milikku. Jika kau ingin mendapatkannya maka kau harus membayarnya!”
“Atas dasar apa kau menganggapnya milikmu?”
“Jangan pedulikan dia bos. Ia pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkannya kembali. Tetap paksa dia untuk menebusnya dengan harga yang tinggi!”
“Diam Bodoh! Tak usah mengajariku. Aku tau apa yang harus aku lakukan!” kembali membentak
“Tuan, tolong selamatkan dulu ibuku. Dia membutuhkan pertolongan sekarang” merangkaknya sambil menangis pada para pecundang itu dan tangannya memegang kakinya sembari memohon.
__ADS_1
“Kerjamu saja tak becus, kenapa aku harus menolongmu? Menyingkir dariku!” mengibaskan kakinya hingga membuatnya tersungkur
“Hei, jangan kasar terhadapnya!” berjongkok dan menolongnya