
Sebelumnya di Novel Kembalinya Sang Puteri
Yueji, Yi Mei dan Yi Cao akhirnya kembali melanjutkan perjalanan mereka. Namun ditengah belum lama mereka beranjak dari Ibu Kota ada sebuah masalah yang menghambat langkah ketiga saudari itu.
Di sebuah desa perbatasan antara negara Taiyang dan Hanxing, yaitu Tianshi sedang mengalami wabah mematikan yang membuat desanya terisolasi dari dunia luar. Hal ini yang membuat Yueji, Yi Mei dan Yi Cao berinisiatif untuk membantu mereka. Tapi, apakah mereka akan berhasil? Stay Tune disini yuk. . .
Pagar yang melintang di tengah jalan mereka lewati dan mulai melangkahkan kakinya menuju desa Tianshi yang ternyata cukup jauh.
Pintu Masuk Desa Tianshi
Dalam diam mereka memperhatikan situasi di desa tersebut. Banyak para warga yang terlihat tergeletak tak terurus ditanah dengan kondisi yang memprihatinkan. Tua, dewasa, remaja, hingga anak-anak tak lepas dari wabah tersebut.
“Apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Yueji yang masih tak percaya dengan apa yang dilihat olehnya saat itu
“Aku juga tak tau” jawab Yi Mei yang ikut terperanjat
“Mereka terlihat sangat tersiksa” sambung Yi Cao
“Kak Yi Mei, bagaimana dengan diagnosismu?” tanya Yueji
“Aku. . .tidak tau pasti. Tapi sepertinya mereka terserang penyakit yang membuat kulit terlihat bercak-bercak merah”
“Apa penyebabnya?” Yueji
“Kebanyakan penyakit kulit disebabkan oleh Bakteri atau Virus yang masuk melalui kulit yang terluka atau sedang iritasi. Gejala ruam merah pada kulit akan muncul empat sampai enam hari kemudian dan ketika luka telah terbentuk biasanya itu sangat menular apalagi dalam keadaan udara yang tidak bersih atau dalam keadaan sistem kekebalan tubuh yang rendah” jelasnya
“Sebesar apa presentase penularannya?” still Yueji said
“Tergantung seberapa besar kekebalan tubuh manusianya dan juga kondisi sekitar. Jika dilihat dari situasi disana, mungkin lebih dari lima puluh persen presentase penularannya” lanjut jelasnya
“Cukup tinggi ternyata. Lalu, bagaimana cara menanganinya?”
“Cara yang paling efektif adalah menggunakan bubuk kunyit sebagai obat luar untuk mengobati infeksinya akibat bakteri. Tapi, aku tak tau apakah itu cukup untuk mencegah penularannya karena kondisi disana terlihat terlalu kacau”
“Lebih baik kita coba saja dulu. Yang terpenting masih ada sedikit solusi untuk mengobatinya”
“Baiklah. Kalau begitu, kita harus mencari beberapa tanaman kunyit dihutan” Yi Mei
“Sepertinya dalam perjalanan kemari, aku melihat beberapa tanaman kunyit liar dihutan. Sebaiknya kita kembali kesana dan segera mengambilnya” Yi Cao
“Baiklah, ayo”
__ADS_1
“Tunggu” sela Yueji
“Ada apa Yueji?” Yi Mei
“Sebaiknya aku tetap berjaga disini dan mengamati sekitarnya” ucap Yueji menyarankan
“Kau tidak berniat untuk diam-diam masuk kesana sendiri bukan?” suara Yi Mei yang tampak curiga
“Tentu saja tidak. Aku tidak ingin tumbang sebelum berhasil menolong mereka disana” jawabnya tegas
“Baiklah, kalau itu maumu. Aku dan Yi Cao akan pergi mengambil kunyit itu dan segera kembali kemari”
“Hati-hati dijalan”
Kamp Militer Mianyang
Sementara itu di Kamp militer Mianyang, Zhao Lantian yang tengah terduduk di tempatnya membaca setumpuk laporan mengenai kondisi keamanan di berbagai perbatasan. Betapa terkejutnya ia saat melihat ada secarik surat yang terselip diantara laporan itu bertuliskan nama Yueji didalamnya. Ia lebih terkejut saat membaca isinya dan langsung berteriak memanggil Zhiling untuk menemuinya.
“Zhiling. . .Zhiling” panggilnya dengan lantang
“Ketua (memberi hormat) ada hal apa sehingga anda tampak gusar?”
“Surat itu. . .” mengingat-ingat
“Ini surat dari nona Yueji yang mengabarkan bahwa mereka telah pergi dari Ibu Kota”
“Penjaga yang menerima surat itu dan mengantarkannya kemari sekitar tiga hari yang lalu”
“Tiga hari yang lalu? Kenapa kau baru memberitahukannya sekarang?” menaikkan nadanya
“Maaf ketua. Tapi saat penjaga mengantarkannya, anda hanya memerintahkan untuk meletakannya diatas meja sehingga tercampur dengan laporan yang lainnya. Beberapa hari ini anda terlihat sibuk diarea perbatasan Selatan, jadi aku tak sempat mengatakannya”
“Kau benar, aku melakukannya. Sepertinya, mereka telah melewati perbatasan timur dan sampai di negara Hanxing. Tapi, bukankah desa Tianshi sedang terkena wabah, bagaimana kondisi disana sekarang?”
“Tidak ada laporan terbaru Ketua. Hanya saja, Tuan Liu, Kepala Daerah desa Tianshi telah kembali ke Ibu Kota dan melaporkan sendiri pada Kaisar bahwa kondisi disana sedang dalam pemulihan dan sudah lebih baik dari sebelumnya”
“Syukurlah kalau begitu”
Istana Taiyang
Di dalam istana terlihat beberapa menteri dan para Kanselir sedang menghadap Kaisar yang tengah duduk di Singgasananya hendak menyambut kepulangan Menteri Tao Yangli dan Yingjun kembali dari bisnisnya dari negara tetangga.
__ADS_1
Akhirnya Ayah dan Anak itu memasuki istana dan memberi hormat pada Sang Kaisar. Kanselir Luo Jinxi yang berada dibarisan paling depan menatap mereka dengan sinisnya.
“Hormat Kami Yang Mulia” Ayah dan Anak yang memberi hormat bersamaan
“Bangkitlah, jangan terlalu sungkan. Kalian pasti lelah setelah melalui perjalanan yang jauh” memberi perintah
“Terima kasih Yang Mulia” bangkit bersamaan
“Kabar baik apa yang akan kalian sampaikan?” tanya Sang Kaisar dengan lembut
“Negosiasi dengan negara tetangga mengenai suntikan dana yang diminta berjalan dengan baik Yang Mulia. Kami telah membawa lima ratus ribu tael emas dalam peti yang mereka berikan secara langsung untuk diserahkan pada Istana”
“Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya. Kalian benar-benar hebat dalam bernegosiasi, tidak salah aku menunjukmu sebagai Menteri khusus yang menangani perihal keuangan negara” memujinya dengan bangga yang membuat Kanselir Luo Jinxi semakin tak senang
“Hamba hanya mencoba menjalankan tugas sebaik mungkin Yang Mulia”
“Begitukah? Dan kau Yingjun?”
“Hormat hamba, Yang Mulia”
“Kudengar beberapa hari yang lalu kau terluka parah, tapi aku malah menyuruhmu untuk ikut bersama ayahmu untuk berpergian jauh. Bagaimana kondisimu sekarang?”
“Terima Kasih karena telah bertanya mengenai keadaan hamba, Yang Mulia. Keadaan hamba sudah jauh lebih baik dari sebelumnya”
“Sebagai rasa terima kasihku dan sekaligus permintaan maaf dariku, aku ingin memberikan sebuah hadiah padamu”
“Terima Kasih, Yang Mulia. Tapi, hamba rasa itu tidak perlu. Sudah kewajiban hamba sebagai warga negara yang baik menjalankan tugas dengan baik yang diberikan langsung oleh istana apapun kondisinya”
“Kau benar, tapi aku tetap ingin memberimu hadiah karena dedikasimu”
“Tapi, Yang Mulia. . .”
“Jangan menolaknya atau kau akan melukai harga diriku di depan para menteri” memaksa dengan senyuman
“Mohon ampun Yang Mulia, hamba tidak bermaksud seperti itu” menunduk dalam penyesalan
“Sudahlah. Kanselir Luo, bacakan dekritku!” titahnya pada Kanselir
“Baik, Yang Mulia” segera melakukan tugasnya mengambil sebuah gulungan berisi dekrit Kaisar dan mulai membacakannya dengan suara lantang
“Dalam dedikasinya yang tinggi terhadap Istana Taiyang dan kesuksesannya dalam menjalankan tugas bernegosiasi dengan negara tetangga, maka dari itu Istana akan memberikan hadiah pada Menteri tao Yangli berupa dua buah karpet bersulam emas dari Persia”
“Waah, Karpet emas dari Persia? Bukankah itu sangat mahal? Mereka benar-benar beruntung ya?” suara riuh para menteri yang saling berbisik setelah mendengar hadiah yang akan diberikan pada Tao Yangli
__ADS_1