Kembalinya Sang Puteri

Kembalinya Sang Puteri
Episode 4


__ADS_3

Sebelumnya di novel Kembalinya sang Puteri. . .


Sebelum meninggal, selir Xiao menitipkan Dua buah benda yang sangat berarti baginya untuk diberikan pada Putrinya saat Dewasa nanti, yaitu sebuah Buku lukis dan gulungan berisi wajah dirinya yang sempat ia lukis beberapa hari sebelum melahirkan. Kini Yueji telah dewasa oleh karena itu Ren Xia berfikir bahwa ia sudah harus menyampaikan amanat sang majikan yang sudah bersamanya sejak remaja pada putri satu-satunya. Setelah menerima dua benda amanat dari ibunya dan sebuah kendi kecil berisi abu jasad sang ibu, Yueji ingin mewujudkan mimpi sang ibu untuk melukis sembari berpetualang ke beberapa negara sambil membawa abu jasadnya. Keinginannya itu ia utarakan pada Ren Xia yang sudah merawat dan membesarkannya selama 20 tahun ini. Bagaimana tanggapan Ren Xia atas permintaan sang Putri?


“Tidak!! Kau tidak bisal melakukannya! Di luar sana terlalu bebrbahaya untukmu. Kau tau itu kan? Aku sudah berjanji pada ibumu untuk selalu menjagamu disini. Jadi lebih baik lupakan keinginanmu dan lukis apapun yang kamu lihat disekitar sini saja. Ya?" pintanya yang khawatir


“Tapi Bi, selama ini ibu telah banyak berkorban untukku. Aku selalu ingin seperti putri-putri yang lain, memasak bersama, tidur bersama bahkan jika kita bisa melukis, aku ingin melukis bersamanya. Aku ingin memberikan hadiah padanya ketika aku bisa menghasilkan uang sendiri, mewujudkan keinginannya, mimpinya dan harapannya. Tapi aku tidak bisa melakukannya karena ibuku sudah tiada. Setidaknya, dengan mewujudkan  keinginan ibuku, aku sudah bisa mewujudkan satu baktiku padanya dan tidak akan merasa bersalah lagi dengannya” air matanya menetes membasahi pipi membayangkan bahagianya bisa melakukan segala hal bersama seorang ibu yang tak pernah ia rasakan. Meskipun ada Ren Xia yang menggantikannya, menurutnya itu adalah suatu hal yang berbeda


“Tapi Yueji. . .”


“Bibi, aku mohon padamu. Aku ingin menjadi seorang putri yang sebenarnya, meskipun aku tidak bisa secara langsung mewujudkan mimpinya setidaknya aku akan berusaha untuk mewujudkan keinginannya” menyela sambil menggenggam tangan Ren Xia, sang bibi yang telah membesarkannya


Ren Xia masih merasa bahwa apa yang diinginkan putri dari majikannya itu tidak mungkin ia izinkan. Namun, karena keinginan Yueji yang kuat akhirnya ia mengalah dan mengizinkannya pergi berpetualang untuk melukis.


"Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku memang tak pernah bisa mencegah ketika kau sudah memiliki tekad yang kuat untuk melakukan suatu hal. Tapi kau harus ingat, jangan biarkan siapapun memegang atau melihat gambar dari lukisanmu ketika kau mulai mengisi buku ini. Jangan pernah pula untuk menunjukkan kemampuan melukismu pada siapapun, usahakan agar tidak terlalu dekat dengan orang asing. Mengerti?" tersebutlah sebuah syarat untuk Yueji lakukan saat berpetualang


"Kenapa harus seperti itu bi?" Kenapa aku tak boleh melakukan hal-hal yang kau sebutkan tadi?"


“Lakukan saja jika kau benar-benar akan ingin melakukan keinginan nyonya Xiao. Aku akan melarangnya jika kau tak dapat menyanggupinya!”


“Baik bi, aku tidak akan melakukannya” sambil tersenyum dan meyakinkan sang bibi agar tak mengkhawatirkannya. Iapun langsung berkemas dan membawa ketiga benda warisan dari sang ibunda untuk dibawanya melakukan perjalanan ke Timur mengikuti arah bulan.


Selesai berkemas. . .


“Yi Mei dan Yi Cao akan ikut denganmu dan menjagamu selama perjalanan” Ren Xia menyuruh kedua putrinya untuk menemani Yueji seperti janjinya pada selir Xiao dahulu yang mengatakan bahwa ia dan putri-putrinya akan selalu menjaga putri tunggal dari selir Xiao yang sebenarnya juga pewaris tunggal dari kerajaan Taiyang.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan bibi dan kakek jika mereka berdua ikut menemaniku?”


“Jangan khawatir terhadap kami, kami bisa menjaga diri.”


“Tapi apa kakek tidak terlalu tua untuk menjaga bibi disini? Aku tidak yakin. . .” masih sempat-sempatnya meledek


“Kau meragukan kemampuanku? Siapa yang selama ini mengajarimu Kungfu? Khawatirkan dirimu sendiri agar nanti tidak menyusahkan Yi Mei dan Yi Cao selama perjalanan!”


“Yueji, kami berdua akan baik-baik saja disini. .kau tenang saja”


“Baiklah. . .baiklah, aku percayakan Bibi pada kakek yah. . .”


“Kalau begitu, kami pamit ibu, kakek” ucap Yi Mei memberi salam pada mereka berdua disusul oleh Yi Cao dan Yueji


“. .mm. . Kalian berhati-hatilah. Ingat apa yang sudah ibu pesankan, kalian harus selalu menjaga nona dengan baik dan ketika tugas kalian selesai, segeralah kembali!”


“Aku bekalkan pedang dan busur panah ini untuk kalian pakai saat nyawa kalian terancam. Aku selalu mengingatkan kalian agar menggunakan benda tajam untuk dijadikan sebagai alat perlindungan diri hanya ketika keadaannya mendesak saja. Ingatlah untuk tidak melukai orang lain dengan alasan apapun kecuali mereka benar-benar membahayakan nyawa kalian.” Menyerahkan 2 pedang pada Yi Mei dan Yueji serta Busur panah pada Yi Cao


“Waaah, kakek membuatnya sendiri?” suara Yueji yang terkagum-kagum saat menerima pedang itu


“Tentu saja! Ingat, gunakan seperlunya!” jawab Kakek Yinshi


“Baik kakek!”


“Terimakasih kakek, kami pasti akan menggunakannya dengan baik” ucap Yi Mei dan Yi Cao bergantian

__ADS_1


“Kalau begitu, kami pergi. . .” Yueji memberikan salam dan diikuti oleh Yi Mei dan Yi Cao, 3 benda istimewa itu masing-masing dibawa oleh mereka bertiga dalam tas gendongnya. Yueji membawa abu jasad sang ibu, Yi Mei membawa bukunya dan Yi Cao membawa gulungannya.


Bagaimana perjalanan mereka selanjutnya?


Tiga jam kemudian, mereka sampai di sebuah desa. . .


“Apa ini yang namanya kota? Kenapa tampak sepi sekali?” ucap Yueji


“Masih butuh beberapa jam lagi untuk sampai di desa Yueji” sahut Yi Cao


“Bukankah kakek bilang hanya perlu 3 jam agar sampai di kota? Sepertinya ini sudah lebih dari 3 jam, tapi kenapa kita hanya melihat hutan disini?”


“Kau menyerah? Belum terlambat untuk kembali” ledek Yi Cao


“Rupanya Kakek membohongiku!!” kesalnya, melihat ekspresi Yueji gadis kembar itu hanya tersenyum.


“Tapi tidak mungkin kita kembali, karena ini kesempatanku untuk bisa melihat dunia luar” lanjut Yueji


Tak berapa lama kemudian ketiga gadis itu sampai disebuah jurang yang terlihat cukup curam dari atas dan tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki beberapa orang dari atas. Yueji, Yi Mei dan Yi Cao yang bersembunyi dan mengamati dari bawah melihat sekitar empat orang diatas yang sedang berdiskusi akan suatu hal dan seperti memapah seseorang. Sepertinya ada seorang laki-laki yang terbujur lemah yang ditenteng oleh mereka dan hendak dilemparkannya ke dalam jurang itu.


“Kita buang saja disini! Ketua bilang untuk melukainya saja, jurang ini cocok untuk sekedar menghilangkan jejaknya.”


“Kau benar. Baiklah, lempar dia sekarang. . .” diombang-ambingkan badan yang telah lemas itu dan terlihat sudah tak berdaya menggelinding hingga terantuk beberapa batang pohon hingga mendarat di depan tempat Yueji , Yi Mei dan Yi Cao bersembunyi. Tiga gadis itu yang melihatnya secara langsung pun terkejut akan apa yang mereka lihat saat itu.


“Tugas kita sudah selesai. Ayo pergi!” suara dari atas. . .

__ADS_1


“Ayo!” merekapun melangkah pergi meninggalkan tempat itu


Siapakah mereka sebenarnya dan siapa orang yang mereka lemparkan ke jurang itu? Ikuti terus kisah selanjutnya di next eps ya. . .


__ADS_2