
Sebelumnya di novel Kembalinya sang Puteri. . .
Dengan berbagai pertimbangan, Ren Xia akhirnya menyetujui keinginan sang Putri untuk mewujudkan mimpi ibunya. Dengan dibekali jurus Kunfu yang mumpuni dan beberapa peralatan Kungfu, seperti Pedang dan busur panah, merekapun beranjak pergi meninggalkan Ren Xia dan Kakek Petapa serta Gua yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama 20 tahun itu. Yueji yang ditemani oleh Yi Mei dan Yi Cao berangkat kearah Timur mengikuti arah bulan untuk mulai melukis sembari berpetualang. Di tangah perjalanan, kira-kira apa lagi yang akan mereka hadapi? Ikuti perjalanan mereka dibawah ini. . .
Setelah melihat kejadian pembuangan seseorang didepan matanya, tanpa berfikir panjang Yueji langsung keluar dari persembunyiannya dan melihat keadaan seseorang yang di buang itu sesaat setelah orang-orang itu pergi.
“Apa mereka gila? Mengapa memperlakukan seseorang seperti sebuah barang?”
“Sepertinya seorang pria, dan banyak luka ditubuhnya” Yi Mei memperhatikan
“Dilihat dari pakaiannya, sepertinya seorang bangsawan. Ia juga terlihat sedikt rupawan meski banyak luka ditubuhnya" sambung Yi Cao
“ Apa dia masih hidup?” kata Yueji yang sedang berjongkok sambil memperhatikannya Yi Mei yang memiliki sedikit keterampilan medis berusaha untuk mendiagnosa keadaan pria itu.
“Sepertinya masih. Tapi,denyut nadinya sangat lemah peredaran darahnya juga tak beraturan banyak luka ditubuhnya sehingga membuatnya lemas karena kehilangan banyak darah. Kakinya terkilir dan tangannya patah karena terbentur batang pohon saat dijatuhkan dari atas. Yi Mei menjelaskan diagnosanya
“Lalu bagaimana cara menyelamatkannya?”
“Apa? Menyelamatkannya? Kenapa kita harus menyelamatkannya?” kata Yi Mei yang keberatan atas permintaan Yueji
“Bukankah kau mendiagnosanya karena kau ingin menyelamatkannya?”
“Itu karena kau bertanya padaku apa dia masih hidup atau tidak, makanya kau menjelaskannya padamu”
“Kau ini. . .Sudah, sekarang aku tanya kembali. Bagaimana cara menyelamatkannya?”
“Kau benar-benar ingin menyelamatkannya? Yueji, ia adalah orang yang baru saja dibuang. Siapa tau mereka melakukannya karena memang orang ini bukan orang baik. Meski dari pakaiannya terlihat mahal, mungkin saja ia hanya seorang pejabat kerajaan yang menyalahgunakan uang Negara dan dihukum cambuk lalu dibuang kemari. Untuk apa kau peduli dengannya?”
“Benarkah? (mengamati wajah pria tersebut yang penuh dengan luka lebam) Tapi. . .aku tidak merasa begitu. Wajahnya tidak menunjukkan bahwa ia adalah orang jahat”
__ADS_1
“Jangan tertipu oleh wajah Yueji. Kita lanjutkan saja perjalanan kita. Jika memang dia adalah orang yang baik, maka keluarganya pasti akan mencarinya” sambung Yi Cao
“Bukankah kak Yi Mei bilang bahwa nyawanya sedang terancam? Jika kita meninggalkannya disini dan ternyata tidak ada orang yang mencarinya, maka dia akan terbunuh disini. Apa kalian tidak merasa bersalah saat mengabaikan orang yang sedang membutuhkan pertolongan?”
“Jadi, kau masih ingin menyelamatkannya?” dijawab Yueji dengan anggukan
“Bukankah kakek memberikan beberapa obat pada kita? Apa manfaatnya? Apa itu bisa digunakan untuk menolong orang ini?” Yueji
“Tapi perjalanan kita masih panjang. Bagaimana jika kita terluka jika obatnya kita berikan padanya?” Yi Cao
“Banar Yueji. Kita tidak bisa mengambil risiko dengan menyelamatkan orang yang tidak kita kenal” sambung Yueji
“Ini bukan saatnya egois. Dia butuh pertolongan segera. Kita bisa mendapatkan obat itu lagi saat sampai di kota bukan? Lagipula obatnya bukan cuma satu. Ayolah kak. . .”
“Aku tidak tau bagaimana khasiat pasti dari pil ini. tapi menurut kakek selain bisa sebagai penawar racun tingkat rendah hingga sedang juga dapat untuk menyembuhkan luka dalam” mengeluarkan kotak berisi pil berwarna
merah sebesar kelereng
Dengan keadaan setengah sadar dan mata sedikit terbuka pria itu mulai perlahan-lahan menggerakkan tangannya namun karena kondisinya yang sangat lemah, ia kembali tak sadarkan diri. Yi Mei pun langsung memberikan pil itu lalu memasukannya kedalam mulutnya namun pria itu memuntahkannya kembali
“Sepertinya ia susah menelan obatnya karena terluka parah dan kehilangan kesadarannya. Kita perlu membantunya agar bisa menelan pil ini” ucap Yi Mei yang melihat kearah Yueji terlihat mengisyaratkan untuk melakukan sesuatu pada pria tersebut
“Kenapa kau melihatku. . .?” tanyanya dengan wajah sedikit bingung dan curiga dengan tatapan aneh sang kakak terhadapnya
“Bukankah kau ingin sekali menyelamatkannya? Aku harap kau bisa membantunya”
“Apa maksudmu?"
"Dia sulit menelan obatnya, jadi. . ." mengatup-ngatupkan mulutnya. Ternyata Yi Mei menyuruh Yueji untuk menyuapi obat pria itu menggunakan mulutnya karena ia yang bersikukuh agar menyelamatkannya
__ADS_1
"Kau, kau menyuruhku untuk melakukannya? Tidak adakah cara lain?"
"Hanya itu yang aku pikirkan! Memang tak ada cara lain" katanya semakin meyakinkan
“Apa yang kau pikirkan? Kenapa wajahmu tiba-tiba memerah?” kata Yi Cao yang terlihat bingung melihat ekspresi Yueji
"Haruskah. . . aku melakukannya?” tanya Yueji yang gugup ketika memikirkan jalan untuk membantu pria itu menelan pil nya menggunakan mulutnya
“Jika kau benar-benar ingin menyelamatkannya. . .mungkin. . .itu perlu dan bahkan harus dilakukan” jawab Yi Mei terbata-bata
"Kau ini. . .!"
"Jangan menyalahkanku. . .Cepatlah, agar kita bisa segera melanjutkan perjalanan selanjutnya. . ." ucap Yi Mei
**Akankah Yueji melakukannya dan menyerahkan ciuman pertamanya bersama pria asing yang sedang sekarat itu? **
“Ehem. ..ehem. . .baiklah. . .aku akan melakukannya hany karena ingin menolongnya. Benar, hanya demi menolongnya. Toh kita juga tak akan bertemu kembali, buka?”semakin gugup
“Ada apa dengan kalian?” kata Yi Cao yang mulai penasaran dengan yang dibicarakann oleh saudari kembarnya itu dengan Yueji.
“Bisakah kalian berbalik badan dulu? Aku akan mulai melakukannya!" pipinya yang mulai memerah tak dapat menutupi rasa malunya
“Lakukanlah dengan cepat!”
“Aku tau, kau pikir aku akan menikmatinya?. . .” jawabnya dengan suara yang semakin merendah.
Dengan berhati-hati Yueji mengangkat badan pria itu keatas pangkuannya dan ia mulai memasukkan pil itu kedalam mulutnya lalu mendekatkan wajahnya . Perlahan namun pasti bibir mereka mulai bersentuhan dengan lembutnya. Dalam kondisi setengah sadar pria itu mulai merasakan sentuhan yang diberikan oleh bibir Yueji dan merasakan ada yang masuk kedalam tenggorokannya. Pil itu lama-lama akhirnya menyeberang dari mulut ke mulut dengan dorongan nafas dan berhasil masuk kedalam tubuhnya. Detak jantung Yueji berdegup kencang ketika melihat pria itu dalam jarak dekat, senyum dibibirnya terbentuk seolah ada perasaan lega ketika ia merasa berhasil menyelamatkannya. Dalam mata yang setengah terbuka, pria itupun menatap wajah Yueji yang saat itu berada tepat diatasnya lalu terpejam kembali.
__ADS_1
“Hiduplah dengan baik dan jangan sampai terluka lagi” suara lirih dari Yueji mengakhiri romansa singkat antara mereka berdua.
Bagaimana sebenarnya perasaan Yueji terhadap pria tersebut? Apakah ia mulai menyukainya pada pandangan pertama? Dan Apakah pria itu akan selamat setelah mendapatkan pertolongan? Stay tune di next eps ya, Update besok. . .