
Masih di Novel Kembalinya sang Puteri
Setelah selesai menemani Zhao Lantian membeli beberapa barang, mereka bertiga pun pergi ke sebuah rumah makan untuk mengisi perut. Sedangkan Zhiling kembali ke Kamp untuk menggantikan Lantian melatih prajurit lainnya.
Sampai disalah satu tempat makan mereka duduk bertiga dan memesak dua botol arak.
“Kenapa hanya dua? Paman, satu botol arak lagi!” seru Yueji pada pemilik tempat makanan
“Tidak boleh!!” suara Yingjun dan Lantian serentak menyela omongan Yueji
“Kenapa? Bukankah kalian mengajakku kesini untuk mentraktirku?” kedua pria itu menatap Yueji
“Kita tidak pernah mengajakmu kesini, kau sendiri yang mengikuti” Yingjun
“Kita? Aku juga tidak pernah mengundangmu kemari dan kau sendiri juga yang mengikutiku sampai kesini!” kata Lantian dengan nada ketus dan wajah datarnya
“Apa kau pikir aku mau mengikutimu tanpa alasan?”
“Lalu?”
“Tentu saja ada yang ingin aku bicarakan denganmu?”
“Apa itu?” kedua pria itu kembali menatap Yueji
“A. . .Ada apa?” bingungnya yang ditatap kedua pria tampan itu
“Sudahlah, kita bicarakan nanti saja! Aku tak ingin orang asing tau tentang hal yang akan aku sampaikan padamu” karena ada Yueji bersama mereka, akhirnya urusan yang ingin dibicarakan pun tertunda
“Cih, dasar! Bilang saja kalian ingin berduaan! (kesalnya) Paman, aku minta dua botol arak sekarang!” serunya kembali
“TIDAK BOLEH!!” bentak kedua pria itu pada gadis lemah yang duduk diantara mereka.
Setelah beberapa menit mereka bertiga, maksudku kedua pria tampan itu menghabiskan araknya dan Yueji hanya meminum secawan air putih yang membuat wajahnya jengkel sepanjang jamuan. Saat kedua pria itu bangkit dari kursinya dan hendak pergi, Yueji tetap duduk terdiam memejamkan mata dengan wajah yang redut dan tangan yang terlipat diatas meja.
“Kenapa kau memejamkan mata? Ada apa dengan wajahmu?” tanya Yingjun
“Apa kau merasa tidak enak badan? Kalau begitu, kita akan mengantarmu kembali ke Penginapan untuk beristirahat” ucap Lantian tetap dengan wajah datarnya
“Sepertinya. . .bukan itu!” Yingjun
“Apa maksudmu?“(tersenyum tipis) Dia hanya sedang kesal karena tak bisa meminum seteguk arak pun”
“Nona, maksudku Yueji, pikirkan kondisimu saat ini. Kau baru saja pulih dari luka, jadi lebih baik perhatikan makanan dan minuman yang masuk ketubuhmu!” saran Lantian
“Eh, Sejak kapan kau peduli padanya?”
“Aku. . .” kata Lantian menggantung
__ADS_1
“Baiklah, baiklah, terima kasih sarannya!” tiba-tiba berdiri dan menyela pembicaraan Yingjun dan Lantian kemudian melangkah melewati mereka berdua
“Kau mau kemana?” seru Yingjun yang membuat Yueji menghentikan langkahnya lalu berbalik badan
“Kembali ke Penginapan, Tuan!” jawabnya dengan senyum paksa
“Kalau begitu, biar kita antar!”sambung Lantian
“Tidak, tidak usah. Bukankah kalian ingin berduaan? Jangan sampai aku mengganggu waktu kalian! Aku bisa pergi sendiri!” tetap dengan senyum paksanya lalu melangkah pergi meninggalkan dua pria tampan itu.
“Berduaan? Kata-kata yang konyol! Oh, bukankah kau bilang ada yang ingin dibicarakan denganku? Apa itu?” ucap Lantian mengingatkan
“Aku? Kapan aku bicara seperti itu?” mengelak
“Kau mengatakannya tadi aku mendengarnya dengan sangat jelas!”
“Mungkin kau sedang mabuk karena aku juga merasa sedikit pusing saat ini, jadi aku harus kembali ke Penginapan. Kau juga sebaiknya pulang dan beristirahat” menepuk-nepuk pundak Lantian kemudian pergi meninggalkannya
Sembari terus melangkah, Yueji terus memikirkan tentang kelanjutan perjalanannya bersama kedua kakaknya. Kapan ia akan memulainya kembali, “entahlah” pikirnya.
*Brukk. . .*pundak sebelah kirinya bersinggungan dengan seseorang yang membuatnya jatuh bersamaan dengan orang itu.
“Ugh” suara kesakitan dari Yueji memegangi lukanya
“Kau tidak apa-apa?” Yingjun yang sedari tadi berada dibelakangnya saat melihatnya jatuh langsung berlari menolongnya
“Hua’er? Kenapa kau. . .(ucapnya terhenti mengingat Yueji yang terlihat kesakitan) Apakah masih terasa
sakit?”
“Sedikit” jawabnya dengan nada yang semakin kecil
“Aku akan membawamu ke Penginapan! Hua’er, ikut denganku!” menggendongnya kembali ke Penginapan bersama Hua’er dibelakangnya
Penginapan Changhu
Tabib terlihat sedang memeriksa Yueji yang saat itu terpejam dengan kerut didahinya tanda ia sedang merasakan sakit yang amat dalam, sedangkan Yingjun yang terus berada disampingnya dan memperhatikannya.
“Bagaimana keadaannya tabib?” tanya Yingjun
“Tidak ada masalah yang serius, Tuan. Hanya saja luka nona masih dalam proses penyembuhan, sebaiknya hindari untuk berbenturan ataupun beraktifitas berat yang lainnya” jelas tabib
“Baik tabib. Terima kasih!”
“Kalau begitu, saya undur diri Tuan, Puteri!”
“Kenapa kau bisa keluar sendirian? Mana Yuiyi (pelayannya)?”
__ADS_1
“Yuiyi bilang sedang tidak enak badan, karena terlalu bosan dirumah jadi aku keluar sendirian” jawabnya menunduk
“Sudah aku bilang jangan keluar rumah jika tidak ada yang menjagamu bukan? Kau tidak hanya ceroboh tapi kurang memperhatikan sekelilingmu! Bagaimana jika yang bertabrakan denganmu adalah seorang bandit atau perampok, apa yang akan kau lakukan dengan mereka?”
“Maaf kak, aku benar-benar tidak sengaja” masih tertunduk
“Huuh, kau ini terlalu keras dengan adikmu!” ucapnya yang tiba-tiba membuka mata
“Kau sudah sadar?”
“Sudah kubilang tidak apa-apa bukan? Hanya terasa sedikit saja” terduduk
“Kak Yueji, maafkan Hua’er yang terlalu ceroboh dan tak melihatmu di depan”
“Hei, sudahlah ini hanya luka kecil. Lagipula bukan hanya kau, aku juga terlalu fokus memikirkan sesuatu sehingga tak sadar menabrakmu”
“Tapi. . .”
“Jangan dengarkan kakakmu, dia sudah terlalu tua untuk tau mengenai keinginan remaja sepertimu. Kau boleh keluar kapan saja saat kau mau, tapi tetap jaga pandanganmu agar tak bersinggungan lagi dengan orang lain” nasihat keluar dari mulut Yueji
“Aku terlalu tua? Seharusnya kau yang lebih dewasa! Siapa kau memberi nasihat sepeti itu pada Hua’er? Kau saja tidak tau jika yang aku lakukan semua ini demi kebaikannya. Kau tau berapa banyak orang yang mungkin akan melukainya diluar sana? Karena aku tak bisa selalu ada bersamanya, jadi aku menyuruhnya untuk tetap diam dirumah. Apa itu salah?” bentaknya pada Yueji
“Kenapa. . .kau jadi marah padaku?”
“Karena kau terlalu sok tau dan memberikan nasihat yang salah padanya. Aku kakaknya, jadi aku yang paling berhak mengaturnya. Jangan pernah lagi memberikan saran yang hanya akan menyesatkan dan membahayakan bagi adikku!” setelah membentak Yueji berkali-kali, Yingjun pergi keluar untuk menenangkan diri.
Sikapnya itu karena ia terlalu khawatir. Sang ibunda berkata bahwa ia akan selalu datang membayangi hidupnya dan keluarganya. Bukan tidak mungkin jika ia akan datang dan melukai Hua’er juga yang termasuk adik satu-satunya.
“Hah, ada apa dengannya? Bukankah tadi dia membawaku kemari dengan terburu-buru karena khawatir? Kenapa sekarang malah begitu gigih memarahiku?”
“Kak, maafkan kak Yingjun ya. Dia memiliki alasan tersendiri bersikap seperti itu”
“Apapun alasannya, bukankah terlalu aneh mengubah suasana hatinya begitu cepat? Aku merasa lebih sakit dari sebelumnya!”
“Kak, ia memiliki masa-masa yang sulit selama ini. Jadi, aku bisa memahaminya ketika kak Yingjun bersikap seperti itu. Ini juga bukan pertama kalinya untukku!” perhatian sang adik
“Jadi, kau biasa dibentak olehnya seperti itu? Dia benar-benar bukan kakak yang baik!”
“Bukan begitu. Sebenarnya. . .”
“Ada apa? Katakanlah!”
“Tapi. . .” menatap kearah luar dimana Yingjun berdiri
“Tenang saja! Aku tak akan memberitahunya!”
Akhirnya, Xia Hua pun menceritakan segala yang terjadi pada Yingjun mengenai sang ibundanya.
__ADS_1