
Masih di Kembalinya Sang Puteri
Pengenalan Tokoh Baru : Zhu Meihwa
Setelah Yi mei pulang, mereka pun menjelaskan apa yang sudah mereka bahas tadi. Meski sempat tak setuju, akhirnya Yi Mei membiarkannya.
“Oh ya, aku tidak pulang sendiri”
“Apa maksudmu?”
“Aku sempat bertemu dengan Kepala Polisi Zhao dalam perjalanan pulang. Dia ikut bersamaku dan sekarang ada di luar sedang menunggumu” yang ia maksud adalah Yueji
“Aku?”
“Iya, kau. Karena aku pikir kau belum sadar jadi aku menyuruhnya menunggu diluar selagi aku mengecek keadaanmu. Tapi, aku pikir kau sudah cukup sehat untuk menemuinya”
“Ada hal apa ia mau menemuiku?”
“Kau bisa menanyakannya saat bertemu dengannya. Dia sedang menunggu diruangan depan, kau bisa pergi”
“Baiklah. . .” Yueji pergi keruangan depan Penginapan menemeui Zhao Lantian
“Kepala Polisi Zhao?” panggilnya menghampiri Zhao lantian
“Nona Yueji. . .”jawab sambil menoleh
“Kak Yi Mei bilang kau ingin menemuiku? Ada apa?” tanyanya berhadapan
“Um, aku hanya ingin tau keadaan nona karena sebelumnya kondisi anda terlihat sangat tidak baik”
Dia mengkhawatirkan aku?? Gawatt, jantungku berdetak tak terkendali. Semoga saja ia tak mendengarnya
“Bagaimana keadaan nona Yueji sekarang?”
“Aku. . .Baik. . .Semuanya baik, lebih baik dari sebelumnya (sebelum kau mengkhawatirkan aku)”
“Syukurlah kalo begitu. Um, sebenarnya ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan mengenai kejadian malam itu. Bersediakah nona Yueji memberi jawaban?”
“Malam itu? Boleh, dengan senang hati” mereka pun duduk dan Zhao Lantian mulai menanyakan beberapa hal pada Yueji. Perbincangan itu cukup lama terjadi, hingga Puteri Neiyan dan pelayannya keluar dari ruang tamu pribadi Yingjun dan melihat Yueji dan Zhao Lantian duduk berhadapan di ruangan depan Penginapan.
“Bukankah itu gadis yang sebelumnya ada di depan ruangan Yingjun? Kenapa dia terlihat dekat sekali dengan Kepala Polisi Zhao Lantian? Apakah mereka ada hubungan khusus?” ucap Neiyan yang berhenti sejenak melihat Yueji dan Zhao Lantian serius berbincang.
__ADS_1
“Sepertinya mereka memiliki hubungan khusus Tuan Puteri” kata salah satu pelayannya
“Benarkah? Menurutmu begitu? Sudahlah, apa hubungannya denganku. Ayo kembali, Ayah pasti mencariku!”
“Baik Tuan Puteri!” jawab mereka serentak
x-x-x-x-x-x-x
“Terima Kasih, Nona Yueji. Keterangan dari anda sangat membantu!”
“Jangan sungkan. Jika ada hal lain yang bisa aku bantu, katakan saja aku pasti bersedia!”
“Jawaban anda hari ini saya rasa cukup, jadi. . .”
“Bisakah kau tidak terlalu bersikap kaku denganku? Usiamu memang berada diatasku, tapi mengingat kita akan selalu bertemu karena kasus ini, bukankah kau seharusnya lebih bisa membuat dirimu nyaman saat bertemu denganku?”
“Itu. . .”
“Ayolah. . .Kedepannya kita akan saling membutuhkan, jadi tak perlu canggung saat memanggilku.” ucapnya memaksa
“. .Ba. .baiklah. Oh ya, kapan anda. . .maksudku ‘kau’ akan kembali melanjutkan perjalanan?”
“Aku sudah memutuskan untuk tinggal beberapa hari lagi disini sembari menunggu lukaku sembuh. Lagipula aku adalah satu-satunya saksi yang masih hidup setelah diserang oleh manusia bertopeng itu dan kau juga pasti masih butuh bantuanku untuk menangkapnya, bukan? Setelah kasus ini selesai mungkin aku akan segera pergi”
“Em!” angguknya.
Setelah mengantar Zhao Lantian pergi, Yueji kembali ke kamarnya namun dihadang oleh Yingjun yang heran melihatnya tersenyum sejak keluar darri ruang depan Penginapan.
“Sepertinya ada yang sedang membuatmu senang?” ucap Yingjun yang tiba-tiba berdiri dihadapan Yueji yang hendak menuju kamar
“Dari mana kau tau?” ia yang biasanya cuek dan selalu ketus terhadap Yingjun, karena suasana hatinya yang sedang gembira akhirnya dapat juga tersenyum
“Wajahmu sudah semerah buah Keci dan senyummu yang selebar itu, siapa yang tidak dapat menduga bahwa kau sedang bahagia sekarang?”
“Begitukah?” mengangkat kedua tangan untuk menutupi wajahnya dan tanpa sadar ia pun berlalu melewati Yingjun dengan santainya
“Baru kali ini dia dapat menjawab pertanyaanku dengan tenang. Sebenarnya, siapa yang membuatnya tersipu malu seperti itu?” ucapnya yang melihat Yueji memasuki kamarnya
“Tuan!” suara Jianke yang tiba-tiba datang entah darimana
“Ada apa? (Jianke berbisik) Kenapa kau baru memberitahuku!?”
__ADS_1
“Um, maaf tuan. Bukankah kemarin anda bilang bahwa sedang tidak ingin diganggu dan ingin fokus pada kesembuhan Nona Yueji?”
“. . .kapan aku. . .mengatakannya? (berdalih dengan gugup) sudahlah, kita kesana sekarang!”
“Baik Tuan!”
Rumah Bordil Baihe
Ternyata Jianke memberitahu Yingjun mengenai informasi yang ia terima dari pemilik Rumah Bordil Baihe, yaitu Zhu Meihwa. Dulunya ia adalah seorang istri dari salah satu pejabat Qing, namun dijual oleh suaminya pada penadah manusia karena sudah dianggap tak cantik lagi. Saat itu Meihwa yang tengah hamil besar berada didalam kerangkeng besi ditengah-tengah pasar sedang dilelang oleh para penadah tersebut.
Yingjun yang saat itu melihatnya merasa kasihan lalu membelinya dengan niat ingin menyelamatkannya. Karena terlalu tertekan dengan situasi yang menimpanya, bayi dalam kandungannya pun meninggal dunia. Ia meminta pada Yangli untuk menampungnya karena tak tau harus pergi kemana saat itu dan pada akhirnya Yangli membawanya ke salah satu rumah rahasia miliknya yang berada jauh dari kerajaan Qing. Karena ia tau jika gadis itu di bawa ke kediamannya, Qingwei bisa saja cemburu dan melakukan hal buruk pada Meihwa.
Di tempat itu tidak hanya menyembuhkannya, merawatnya, namun Yangli juga mengajarkan bela diri padanya. Sejak saat itulah ia merasa berhutang budi pada Yangli sehingga saat peperangan dengan Taiyang dan Hanxing tiba, ia juga membantunya untuk membawa Yingjun pergi ke Taiyang. Setelah sampai, ia diperkenalkan dengan Xuejie dan menjadi pelayan setianya serta bertugas menjaga Yingjun kecil yang saat itu menjadi pendiam. Dengan kesabarannya, Zhu Meihwa yang saat itu masih remaja berhasil merubah sifat Yingjun menjadi lebih ceria dan mereka menjadi akrab layaknya seorang kakak adik.
Singkat cerita, ia memutuskan untuk hidup diluar lingkup keluarga Yangli dan pergi ke Rumah Bordil. Karena kecantikannya, ia menjadi sangat populer hingga berhasil mencapai puncak dalam waktu singkat dan menjadi pemilik Rumah Bordil Baihe sampai sekarang. Yingjun pun seringkali datang ke Rumah Bordil bukan hanya bermain musik, tapi juga menemui orang yang mengasuhnya sejak berada di Taiyang.
“Yingjun, kau sudah datang?” sambut Zhu Meihwa
“Bagaimana kak? Apa yang kau katakan itu benar?” melangkah dengan tergesa-gesa
“Aku sudah memastikannya dan apa yang aku sampaikan pada Jianke, semuanya adalah benar. Saat itu, aku sedang berada diluar dan tidak sengaja melihat dua orang yang sedang beradu jurus dengan sengitnya. Salah satu dari mereka memakai topeng dan berhasil dibuka oleh gadis yang menjadi lawannya kemudian terlempar kearahku,
aku pun mengambilnya”
“Mana topeng itu?”
“Ini. . .(menyerahkan topeng berukuran setengah wajah) tak berapa lama, gadis itu tersungkur karena Jurus Telapak Dewa milik orang berbaju hitam itu”
“Apakah Kakak sempat melihat wajahnya?”
“Sayangnya tidak, karena tempat itu sangat gelap. Tapi, ada satu hal lagi yang ingin kuberikan padamu”
“Apa itu? (Zhu Meihwa mengeluarkan sebuah liontin berbentuk bunga persik berwarna merah darah) Liontin ini?”
“Benar, itu milik ibumu. Aku tidak bisa menyangkalnya karena itu dibuat khusus oleh ayahmu untuknya. Aku melihat bahwa liontin ini sebelumnya terpasang dipedang yang berada ditangannya, namun karena pertarungan itu liontinnya jadi terlepas. Jika dia benar-benar ibumu linotin ini pasti sangat berharga baginya dan jika perkiraanku benar. . .” kata-katanya terhenti
“Dia akan kembali ke tempat itu untuk mencari liontinnya” sambung Yingjun
“Benar! Jadi, ini adalah kesempatanmu untuk menemui ibumu!”
“Aku tidak berharap akan bertemu dengan ibu karena liontin ini, karena apa yang terjadi sebelumnya adalah sebuah kejahatan yang fatal dan aku tak ingin mempercayainya”
__ADS_1
“Yingjun. . .” cemasnya
“Tapi aku akan tetap datang untuk melihatnya dan memastikannya sendiri bahwa apa yang Ayah dan Kakak pikirkan tidaklah benar!”