Kembalinya Sang Puteri

Kembalinya Sang Puteri
Episode 32


__ADS_3

Masih di Novel Kembalinya sang Puteri


Setelah mendengar cerita dari Xia Hua, Yueji merasa bersalah pada Yingjun


 “Aku tidak tau, Tuan Singa itu memiliki masa lalu yang sulit!”


Beberapa jam yang lalu saat Xia Hua menjelaskan mengenai sikap Yingjun


“Kakak bersikap seperti itu karena surat ancaman yang sering diterimanya” jelas Xia Hua


“Surat ancaman?”


“Benar. Beberapa tahun ini kakak semakin sering menerima surat-surat itu, terakhir kali saat ia pergi ke hutan dan aku menemukannya dalam keadaan terluka. Sebelumnya kakak juga menerima surat yang menuntunnya untuk pergi kehutan. Sebenarnya, aku sempat membaca isi surat itu dan ada sebuah nama tertulis didalamnya”


“Siapa?”


“. . .Wu Qingwei. . .”


“Wu. .Qingwei?”


“Saat aku tanyakan pada ibu, ia hanya menyuruhku untuk tetap diam dan tidak boleh membicarakan nama itu didepan kakak. Bahkan, ibu menyuruhku untuk melupakannya”


“Surat itu selalu mengatakan bahwa seseorang akan membunuh keluargaku jika kakak tak mau menuruti perintahnya. Oleh karena itu, kakak jadi panik dan khawatir berlebihan hingga menempatkan banyak penjaga dirumah kami. Dia tidak pernah ingin membuka masalahnya pada keluarganya dan selalu menanganinya sendiri. Bahkan Paman Pubu yang lebih dekat dengannya tidak tahu apa isi pikirannya.” Jelas gadis manis, adik satu-satunya Yingjun


“. . mm. .kalau aku boleh tau, apa yang menyebabkan hubungan Yingjun dan Tuan Tao tidak baik?” ujar Yueji penasaran


“Aku juga tidak tau pasti. Tapi, waktu itu aku pernah tak sengaja mendengar percakapan Ayah dan Ibu tentang ibu kandung kakak yang ternyata masih hidup dan menghasut kakak untuk membenci Ayah dan Ibuku”


“Jadi maksudmu, Ayahmu meninggalkan istrinya yang dahulu lalu menikah dengan ibumu”


“Kenapa, aku merasa perkataanmu malah membuat ibuku jadi seperti orang yang buruk?”


“Eh, bukan begitu. . .maksudku. . .” merasa bersalah


“Tidak apa-apa, mungkin itu benar. Tapi, Ayah bilang bahwa ibu kandung kakak adalah orang yang jahat dan itu menambah kebenciannya terhadap Ayah”


“Aku hampir tidak percaya dengan cerita ini jika melihat tingkah dia yang selalu jail padaku”


“Kakak melakukan itu hanya untuk menghibur diri dan melupakan sejenak masalahnya. Kau tau bahwa kakak sering kerumah bordil? Itu juga karena ia senang bermain Sitar lalu menghibur tamu disana dengan permainan Sitarnya”


“Rumah Bordil? Rumah Bordil mana yang kau maksud?”

__ADS_1


“Rumah Bordil Baihe, pemiliknya juga dekat dengan kakak karena mereka telah bersama sejak kak Yingjun masih kecil”


Rumah Bordil Baihe? Bermain Sitar? Jadi, seseorang dibalik tirai waktu itu, adalah dia? ( baca eps 12 )


“Kak Yueji. . .” suara Xia Hua memanggil


“Ah, Oh (tersadar dari lamunannya) Kau bilang, pemilik Rumah Bordil itu dengan Yingjun? Kenapa kau tidak menanyakan padanya saja tentang masalah kakakmu yang sebenarnya?”


“Sudah kucoba, tapi ia tak mau memberitahukannya. Bahkan jawabannya sama dengan kakak, bahwa aku harus menjaga diri dan tak boleh terlalu sering keluar rumah”


Jika dia berkata seperti itu, artinya pemilik Rumah Bordil tau semua tentang persoalan yang penuh teka-teki ini. Dia mungkin satu-satunya orang yang menjadi tempat bercerita bagi si Tuan Singa ini.


Beberapa jam kemudian, Yueji terus memikirkan perkataan dari Xia Hua tentang kehidupan masa lalu kakaknya hingga melupakan janji temunya dengan Zhao Lantian hari itu. Yi Mei yang datang dengan membawa makanan melihat Yueji sedang menyandarkan dagunya dengan kedua tangannya pun mengingatkannya


“Apa yang sedang kau pikirkan?” ucapnya berjalan melewati nya menuju meja disudut kamar


“Tidak ada” jawab Yueji tak bersemangat


“Kalau begitu, makan saja dulu. Bukankah hari ini kau ada janji bertemu dengan Kepala Polisi Zhao?”


“Em (belum sadar). . .Eh, aku hampir melupakannya untung saja kau mengingatkanku (sepenuhnya sadar)”


“Iya kakakku sayang”


Setelah melahap semua makanannya, mereka pergi ke Kamp militer untuk bertemu dengan Zhao Lantian


Di depan Pintu gerbang Kamp Militer Mianyang


“Siapa kalian? Ada urusan apa datang kemari?” kata salah satu penjaga gerbang dengan nada tinggi yang membuat kedua gadis tersebut terkejut


“Kami, ada janji bertemu dengan Kepala Polisi Zhao” jawab Yi Mei sopan


“Mereka mungkin penggemar dari Kepala Polisi Zhao dan membuat janji palsu agar bisa bertemu dengannya. Lebih baik jangan biarkan dia masuk!” kata salah seorang penjaga yang berbisik pada temannya


“Jangan sembarangan jika bicara ya. Kami benar-benar telah membuat janji bertemu dengan Kepala Polisi Zhao Lantian!” sentak Yueji setelah sayub-sayub mendengar percakapan kedua penjaga tersebut


“Beraninya kau! Lebih baik kalian pergi selagi kami masih baik dan tak menyeret kalian!” ancam salah seorang dari mereka.


“Kau!” kesal Yueji


“Ada apa ini” suara Wen Zhiling yang tiba menghampiri mereka dari dalam Kamp

__ADS_1


“Ketua” dua penjaga itu memberi hormat pada Zhiling


“Polisi Wen” Yueji


“Nona Yueji”


“Kami ingin bertemu dengan Kepala Polisi Zhao tapi dihalangi oleh mereka!” ucap Yueji


“Apa itu benar?” tanya Zhiling pada kedua penjaga itu


“Maaf ketua, kami pikir mereka berbohong untuk bertemu dengan Kepala Polisi Zhao dan membuat janji palsu”


“Sudahlah, kembali ke tempat kalian!”


“Baik ketua!”


“Nona Yueji, Nona Yi Mei, maaf atas ketidaknyamanan barusan. Silahkan masuk, Ketua sudah menunggu anda” mempersilahkan masuk


“Terima kasih, Polisi Wen” ucap kedua gadis itu bebarengan. Mereka pun masuk kedalam Kamp militer Mianyang menemui Zhao Lantian di ruangannya yang ternyata sedang berbincang dengan Yingjun. Yueji yang sebelumnya memiliki perseteruan dengannya seketika berhenti ketika Yingjun menatapnya. Mereka berdua pun tampak canggung satu sama lain.


“Yueji, kau sudah datang? (sambut Lantian) duduklah!”


“Kenapa kau berhenti? Kepala Polisi Zhao menyuruhmu untuk duduk” bisik sang kakak pada Yueji yang saat itu mematung. Dengan berat ia melangkahkan kakinya untuk duduk di meja yang sama dengan Yingjun. Namun, Yingjun tiba-tiba berdiri dan berpamitan dengan Zhao Lantian dan membuang pandangannya terhadap Yueji yang saat itu lebih dekat dengannya.


“Aku harus pergi, kita lanjutkan pembicaraan ini lain waktu” Yingjun


“Oh, baiklah” Lantian


Apa dia masih marah padaku? Dalam hati Yueji terus menatap Yingjun yang berjalan membelakanginya


“Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan gambarannya?” tanya Lantian pada Yueji


“Ah, benar. Sebelumnya aku pernah mengatakan padamu bahwa aku sempat melihat wajah orang itu bukan? Agar


tidak hanya diangan-angan saja, aku melukisnya” menyerahkan sebuah gulungan. Yingjun yang saat itu belum terlalu jauh mendengar ucapan Yueji dan menghentikan langkahnya. Jika Yueji benar-benar mendeskripsikan orang yang menyerangnya waktu itu, bukankah berarti lukisan yang akan ia berikan pada Lantian adalah wajah ibu dari Yingjun.


Lantian tidak boleh melihat lukisan itu. . .aku harus menghentikannya. . .ucap Yingjun dalam pikirannya


Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Yingjun akan merebut lukisan itu dari Yueji? Tomorrow ya. .


.

__ADS_1


__ADS_2