
Sebelumnya di Novel Kembalinya Sang Putri. . .
Setelah perintah pengasingan kepada Selir Xiao Meili diturunkan, merekapun langsung berangkat menuju Bukit Bintang dengan beberapa prajurit yang mengawal. Namun, ditengah perjalanan Selir Xiao Meili dan rombongan dihadang oleh beberapa orang bertopeng yang berencana untuk membunuh mereka semua. Dalam pertarungan itu, Ren Xia kehilangan suaminya. Namun ia berhasil mengamankan Selir Xiao Meili kedalam sebuah Gua sesuai dengan keinginan terakhir suaminya. Mereka ditolong oleh Seorang Petapa Tua yang sedang bertapa disana. Saat sedang menjelaskan kronologi yang terjadi, tiba-tiba selir Xiao merasakan sakit dibagian perutnya. Apa yang terjadi padanya?. . .
Lanjutan. . .
"Baringkan dia dahulu, biarkan dia beristirahat" Ren Xiapun membaringkan badan majikannya yang mulai lemas. Setelah itu ia memohon kepada Kakek Yinshi untuk mengizinkannya tinggal dengannya
"Tuan. .Apakah tuan bisa mengizinkan kami untuk tinggal sementara waktu disini hingga kondisinya sudah cukup aman untuk kami melanjutkan perjalanan?" sambung Ren Xia
"Perjalanan menuju Bukit Bintang masih ada beberapa jam lagi, akan lebih baik jika kalian menetap disini. Dan ketika sudah aman segeralah kembali ke kota karena jaraknya lebih dekat kesana. Mintalah bantuan disana" Saran kakek Yinshi pada Ren Xia yang terlihat masih khawatir dengan majikannya yang sudah ia kenal sejak remaja itu.
"Tapi tuan, kami tidak mungkin kembali ke Kota karena akan lebih berbahaya bagi nyonya jika kami kembali kesana."
"Tempat ini juga bukan tempat yang cocok untuk kalian. Aku juga butuh ketenangan untuk melanjutkan semediku disini. Lebih baik urungkan niat kalian untuk pergi kesana.
"Tuan petapa, jika saya boleh jujur nyonya kami adalah seorang selir dari seorang Kaisar. Tujuan sebenarnya kami pergi ke Bukit Bintang karena nyonya dijebak oleh Permaisuri yang tidak menyukainya sehingga harus menerima hukuman pengasingan ini. Jika kami kembali, berdasarkan posisinya sebagai selir yang dikenal oleh banyak orang meskipun harus bersembunyi disebuah penginapan, lama kelamaan juga akan ketahuan oleh sang Permaisuri lagi dan nyawanya dapat terancam untuk kedua kalinya. Aku juga telah kehilangan suamiku saat melawan orang-orang jahat tadi, jadi akan lebih sedikit yang menjaga kami disana" jelasnya sambil menangis mengingat kejadian yang menimpa suaminya.
"Jadi menurutmu, sang Permaisuri yang mengirimkan orang-orang bertopeng itu?"
"Benar tuan. Sepertinya suamiku diutus langsung oleh Kaisar untuk melindungi kami, tapi ia telah gugur dalam pertarungan tadi. Hal ini menandakan bahwa Raja juga berpendapat bahwa selirnya lebih aman ketika berada jauh dari istana . Kini aku harus menjaga kedua putriku yang masih kecil sekaligus mengamankan keselamatan nyonya. Bagaimana bisa kita kembali sedangkan ada serigala yang menunggu kita disana?"
"Haiya. .Aku tak bisa berbuat apa-apa setelah mendengar ceritamu. Sebenarnya aku tidak terbiasa hidup dengan orang lain disini, tapi aku juga tak tega membiarkan kalian pergi dengan keadaan seperti ini. Jadi aku akan mengizinkan kalian untuk tinggal selama yang kalian mau disini dengan syarat tidak membuat kegaduhan dan jangan pernah mengeluh dengan hidup kalian sekarang" setelah berfikir panjang, kakek tua yang bernama Yinshi itupun mengizinkannya tinggal bersama.
"Terima kasih banyak tuan, terima kasih banyak. Kami sudah sangat bersyukur tuan sudah mau menampung kami disini. Sekali lagi, terimakasih tuan. ." mengucapkan terima kasih dengan membungkukkan badannya berkali-kali.
__ADS_1
Satu bulan kemudian, selir Xiao akhirnya melahirkan seorang puteri, senyum sumringahnya terpancar pada wajah cantiknya saat melihat putri yang ia beri nama Yueji itu akhirnya lahir ke dunia. Karena kondisinya yang sangat lemah, ia pun meninggal setelah melahirkan dan memberi sebuah pesan untuk menjaga puterinya sekaligus
memberikan sebuah gulungan serta sebuah buku padanya. Selir Xiao Meili akhirnya menutup mata untuk selamanya. Jasadnya dibakar diatas tumpukan kayu . Apipun perlahan-lahan membakar tubuhnya hingga menjadi abu. Sambil menggendong Yueji yang tak lain adalah putri dari selir Xiao, Ren Xia mengambil sebuah kendi kecil
berwarna putih bergambar bulan dan mengumpulkan abu itu kedalamnya. Dengan isak tangisnya ia memeluk kendi tersebut bersama sang bayi, kedua putrinya yang melihatnya menangispun akhirnya ikut memeluknya.
"Ingatlah untuk selalu menjaga tuan puteri. Mulai sekarang ia akan menjadi adik kalian. Mengerti" pinta Ren Xia pada putri kembarnya dan merekapun menyanggupi permintaan ibunya dengan mengangguk
"Kalian tidak akan selamanya tinggal dalam hutan ini, suatu saat nanti ada masa dimana kalian akan pergi kedunia luar dan hidup secara mandiri. Oleh karena itu, aku pikir kalian harus punya bekal Kungfu yang lebih tinggi agar bisa menjaga diri kalian sendiri dan juga tuan putri."
"Kungfu? Bagaimana kami mempelajarinya kakek?" kata si kecil Yi Mei
"Aku akan mengajarkan pada kalian. Tapi kalian harus ingat, ini hanya untuk perlindungan diri dan bukan untuk melukai seseorang yang tak bersalah apalagi sampai menghilangkan nyawa mereka." katanya memebri peringatan
"Baik Kakek. .Yi Mei mengerti" Jawab tegas gadis kecil itu yang sebenarnya masih belum mengerti mengenai apa yang dibicarakan oleh kakeknya itu.
"Menjadi orang yang berbudi luhur, tidak terlalu berambisi dalam mencapai berbagai hal, selalu rendah hati dan bisa menjaga diri dengan baik adalah cara yang bisa kalian lakukan untuk membalasnya. Aku hanya seorang yang digerakkan hatinya oleh Dewa untuk membantu kalian. Jdi, tidak perlu terlalu berhutang budi. Hiduplah dengan baik!"
"Aku mengerti tuan. Sekali lagi aku memohon bantuan tuan untuk membimbing putri-putriku."
"Serahkan padaku!"
20 tahun kemudian. . .
Tiga gadis itu tumbuh bersama-sama menjadi seorang gadis yang cantik dan hebat. Mereka telah menguasai Kungfu yang diajarkan oleh Kakek Yinshi.
__ADS_1
Boom. . .Boom. . .Boom. . . suara ledakan dan menimnulkan asap yang mengepul di tanah
Sringg. . .sringg. . .sringg. . .Suara pedang yang bergesekan
Wushh. . .Suara angin berhembus merambat meraba telinga
“Bagaimana kakek, kita sudah hebat kan?” ucap Yueji, Putri Xiao Meili yang sekarang sudah dewasa dan tumbuh menjadi gadis yang manis dan berbakat dalam menggambar seperti ibunya.
“Jangan menyombongkan diri!” balas kakek Yin sambil menutuk kepala Yueji menggunakan sebuah ranting
“Aku hanya bertanya, kenapa harus memukul” memegang kepalanya sambil menunduk
“Masih ada beberapa gerakan yang salah, jangan terlalu menekan pada tenaga dalam kalian dan manfaatkan kekuatan dari tubuh kalian sendiri untuk menghemat tenaga dalam kalian. Gunakan pedang kalian hanya untuk menakut-nakuti saja dan jangan sampai melukai lawan, tetap hati-hati saat menggunakannya. Usahakan untuk tetap menyarungkan pedang kalian saat keadaannya masih bisa kalian kendalikan. Mengerti!”
“Kami mengerti kakek! ” tegas Yi Mei dan Yi Cao
“Kalau begitu, kami akan berlatih lagi kakek!” kata Yi Cao yang masih semangat
“Eh. .lebih baik makan dulu. Cacing di perutku sudah tidak tahan lagi” dengan wajah memelas Yueji meminta untuk menghentikan latihannya saat itu.
“Kau ini!!” Kata kakek Yin yang mengangkat tangannya
“Anak-anak, makanan sudah siap!” terdengar dari jauh suara Ren Xia memanggil. Sontak Yueji pun langsung berlari menghampirinya
“Mari kakek” Yi Mei dan Yi Cao yang mengajak kakek Yinshi untuk makan bersama
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya? Stay Tune. . .