Kembalinya Sang Puteri

Kembalinya Sang Puteri
Episode 29


__ADS_3

Masih di Novel Kembalinya Sang Puteri


Setelah didepan kamar Yingjun, Yueji berpikir bagaimana berbicara dengannya.


“(tok tok tok) Tuan, aku membawakanmu makanan. Anggap saja. . .sebagai balas budi karena kemarin kau


telah membawakanku obat. Jadi, aku kemari secara khusus untuk membalas kebaikanmu”


Swushh. . .(suara angin berhembus dan menambah keheningan karena tak ada jawaban dari dalam kamar Yingjun)


“Waah, pria ini benar-benar membuat kepalaku mendidih. Huuh, sabar, sabar, sekali lagi. Aku pasti akan membuatmu membukakan pintu ( gumamnya) Tuan Yingjun, Aku melihatmu semalam, jadi aku tau apa yang sedang kau rasakan saat ini! Jadi. . .marilah berbincang, dan ceritakan apa yang menimpamu. Aku akan.  .berusaha yang terbaik untuk. . .menghiburmu! bagaimana?”


Swushh. . .(sekali lagi suara angin yang berhembus dan menambah semakin menambah keheningan siang hari)


Aku sudah tidak bisa menahannya lagi Hei! Buka pintunya atau aku akan mendobraknya! Hei, Tuan singa!! Cepat buka pintunyaaa!” menggedor pintu kamar dengan kuat sehingga membuat Yingjun yang masih memejamkan mata dengan kesal akhirnya mendekat ke pintu dan membukanya. Yueji yang sedari tadi berteriak pun seketika terdiam dan merubah wajahnya menjadi mode senyum


“Hai Tuan. . .hehe, aku. . .membawakanmu makanan, lihatlah, lucu bukan?”


“Aku tidak ingin makan! Sekarang pergilah” mencoba menutup pintunya, namun sebelum pintu benar-benar tertutup Yueji buru-buru menerobos untuk masuk ke dalam kamar Yingjun dan berhasil.


“Tuan, Yingjun. Aku kemari dengan niat baik mengantarkanmu makanan. Kata Paman Pubu, kau sudah tidak makan seharian jadi dia khawatir memikirkannya. Ayolah, coba dulu, kau pasti akan menyukainya!” membujuknya dengan lembut


“Keluar dari kamarku, sekarang!”


“Kau ini benar-benar ya. Sudah dikasih hati malah meminta jantung (meletakkan senampan Bakpao diatas meja) Kau tau, perilakumu yang seperti ini membuat semua orang sulit. Lihatlah Paman Pubu yang sedari tadi bersusah payah membuatkan makanan untukmu, tapi kau berkali-kali menolaknya. Sedangkan aku, aku sudah mencoba baik untuk menghiburmu tapi malah memarahiku! Apa sebenarnya yang membuatmu seperti ini?”


“Aku tidak punya hak untuk memberi tahumu! Sekarang keluar atau aku. . .”


“Apa? Apa yang akan kau lakukan? Dengar ya, jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Di dunia ini semua orang pasti memiliki masalah, tapi apa menurutmu jika mengurung diri di kamar dan mogok makan akan menyelesaikan kesulitanmu?” ucapnya dengan suara lantang


“Jika kau memang memiliki masalahmu sendiri, jangan melibatkan orang lain! Kau hanya sedang menyiksa dirimu sendiri dan membuat orang – orang disekitarmu menjadi khawatir, apa kau pernah berfikir mengenai itu? Orang yang keras kepala sepertimu memang tak pernah mau mengerti tentang kepedulian dari orang lain. Jadi nikmati saja menyiksa diri sendiri seperti ini dan jangan pernah berharap bahwa kesulitanmu itu akan hilang dengan sendirinya!” Yueji pun keluar dari kamar Yingjun, tapi sepertinya dia hanya memancing Yingjun agar mau mengubah emosinya

__ADS_1


Ternyata benar, Yingjun pun merenungkan perkataan Yueji barusan. Dengan sedikit bersalah, ia terduduk di ranjangnya sambil melihat Bakpao yang dibawa Yueji dalam waktu yang sangat lama. Perlahan namun pasti, ia mendekat dan mengamati dari dekat Bakpao karakter tersebut. Ia melihat ada beberapa gulungan kertas disampingya lalu membuka dan membacanya


Hei, Tuan Singa, makan aku maka aku akan menyerap semua kesedihanmu! tulisan di kertas di samping Bakpao karakter wajah singa


Kau akan terlihat seperti ini jika selalu bersedih! isi surat di gulungan kertas di samping Bakpao berwajah dirinya yang terlihat mengeluarkan ingus. Melihat isi dari surat – surat itu, Yingjun pun mulai tipis – tipis tersenyum dan membuka setiap gulungan yang ada di nampannya tersebut.


Disisi lain, Yueji yang habis dibuat kesal oleh Yingjun memutuskan keluar penginapan untuk mencari bahan lukisannya sekaligus membuang dan membunuh rasa kesalnya terhadap Yingjun.


“Huuh, sepertinya melukis dari bawah sangat sulit untuk mendapatkan pemandangannya. Tapi, jika aku menggunakan jurus terbangku apa lukaku akan baik-baik saja. Jalan dulu sajalah!” ia terus berjalan menyusuri tapak demi setapak jalanan di depannya.


Karena tak menemukan apa yang ingin dia lukis hingga kelaparan, akhirnya ia mampir di sebuah rumah makan yang ternyata menjadi tempat kedua kakaknya, yaitu Yi Mei dan Yi Cao bekerja.


“Pelayan. . .” ucap Yueji mengangkat tangan meminta makanan, ternyata yang datang adalah Yi Mei


“Yueji. . .Kenapa kau disini?” ucapnya dengan ekspresi terkejut


“Kak Yi Mei. Jadi kau bekerja disini?”


“Iya, Yi Cao pun sama. Tapi, untuk apa kau keluar Penginapan? Bagaimana dengan lukamu?” menarik kursi dan


“Aku sudah tidak apa – apa kak. Terlalu bosan berdiam diri di Penginapan, aku berencana mencari bahan untuk melukis tapi tak menemukannya sama sekali. Tadinya aku ingin menggunakan jurus terbangku untuk mengamati dari atas, karena terlalu lapar, jadi aku mampir kesini.


“Kau ini! Jangan dulu menggunakan tenaga dalammu, kau harus lebih giat memulihkan diri! Sebaiknya, setelah selesai makan kau harus segera kembali ke Penginapan dan beristirahatlah. Minta Paman Pubu untuk merebuskan Jahe untukmu, lalu minumlah selagi hangat. Itu bisa meningkatkan sirkulasi darahmu dan meredakan nyeri otot di ulu hati tempat luka mu berada. Mengerti?”


“Iya, aku mengerti. Dimana kak Yi Cao?”


“Dia ada dibelakang, tidak perlu mencarinya. Aku akan menyiapkan makanan, kau tunggu disini!” bangkit dari kursinya dan pergi mengambil makanan untuk Sang Puteri


Setelah selesai makan, hari terlihat mulai petang dan mereka pun kembali ke Penginapan bersama – sama. Sampai di Penginapan, terlihat Yingjun yang terduduk sambil membaca buku di teras halaman dengan senampan Bakpao yang tadi siang Yueji buatkan untuknya.


“Lihatlah, melihatnya yang begitu tenang dengan buku ditangannya, membuat tuan Yingjun menjadi semakin berwibawa bukan?” ujar Yi Cao yang kagum melihat Yingjun

__ADS_1


“Berwibawa? Dia bahkan lebih menyebalkan dari Hakim tua itu!” gumam Yueji mengingat Hakim Guan


“Sudahlah. Ayo masuk, terlalu dingin diluar!” sahut Yi Mei


“Nona Yueji!” panggil Yingjun dengan suara beratnya yang menghentikan langkah ketiga gadis itu


“Dia memanggilmu!” bisik Yi Cao


“Benarkah? Aku tidak mendengarnya!” ucapnya dengan sedikit mengolok


“Nona Yueji” meningkatkan Volume suaranya dan meletakkan bukunya lalu melihat kearah mereka.


“Dia benar – benar sedang memanggilmu!” bisik Yi Cao, lagi


“Pergilah! Jangan bersikap tidak sopan seperti itu. Aku dan Yi Cao akan pergi ke dapur menyiapkan ramuan jahe untukmu!” melangkah pergi meninggalkan Yueji yang terlihat enggan menghampiri Yingjun


“Ada apa, Tuan? Kau belum puas memarahiku siang tadi? Baiklah, akan aku dengarkan agar kau lebih puas!”  melipat tangannya


“Ternyata Nona Yueji mudah sekali tersinggung ya?”


“Hemph. . .!” mengabaikan perkataannya


“Duduklah dulu. Aku tidak bisa berbicara denganmu jika kau terus berdiri. Kepalaku bisa sakit karena terus menengadah”


“Lalu kenapa tidak kau saja yang berdiri?” gumamnya dan akhirnya duduk


“Darimana kau tau jika meredakan amarah seseorang dapat dilakukan dengan cara mengoloknya seperti ini? Dan,


kenapa kau memanggilku tuan singa?”


“Kau ini tampan tapi terlalu banyak tidur, bukankah itu sama dengan seekor singa? Berkata dengan lirihnya

__ADS_1


“Kau benar, aku memang tampan!”


“Narsis! Aku hanya teringat dengan kakekku. Ketika sedang marah, dia akan luluh ketika aku memberikan bakpao dengan karakter wajahnya seperti itu. Dia bilang bahwa wajahnya terlihat jelek saat sedih. Sama sepertimu, sia-sia saja Dewa memberikan wajah tampan seperti itu jika kau hanya menggunakannnya untuk bersedih. Makanya. . .aku melakukanya padamu” ucapnya yang terdengar semakin lirih


__ADS_2