
Hana di dapur tengah memasak makan siang. Louis dan dirinya memutuskan untuk tidak pergi ke kantor satu hari dan menghabiskan sepanjang hari bersama. Hana hanya mengenakan pakaian Louis dan dalaman di dalamnya.
Hana kini tengah memotong sayuran saat tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya dari belakang.
"Sayang, aku lapar ingin memakan mu lagi." Ucap Louis.
Wajah Hana merona dengan cepat..
"Kau... kau mesum." Ucap Hana mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Louis.
"Tinggalkan aku Louis. Bagaimana aku bisa masak kalau begini. Aku lapar." Ucap Hana dengan wajah yang menggemaskan.
"Baiklah... baiklah. Haruskah aku membantu mu?" Tanya Louis.
"Apakah kau tahu bagaimana caranya memasak?" Tanya Hana mengangkat alis sebelah kirinya.
Louis memberikan senyuman canggung.
"Hmmm... tidak." Ucap Louis.
Hana memutar matanya malas.
"Kau pergilah dan tunggu di sana. Biarkan aku memasak dan jangan mengganggu aku." Ucap Hana.
"Aku suka itu sayang, saat kau memerintahkan aku." Ucap Louis. "Itu membuatku terasa memanas." Lanjut Louis.
"Pergilah Louis atau aku akan membuatmu tidur di sofa." Ucap Hana menatap Louis.
Louis lalu pergi dari dapur dengan tertawa.
Mereka Akhirnya selesai makan siang dan duduk di ruang tamu saling berpelukan seraya menonton film. Tiba-tiba ponsel Hana berdering. Dia pun menjauh dari Louis. Tapi Louis tampak kesal.
"Siapa itu?" Tanya Louis.
"Marcus." Balas Hana.
Seketika ekspresi di wajah Louis mulai kesal. Dia tidak suka pria itu sedikitpun.
__ADS_1
"Siapa dia?" Tanya Louis lagi.
"Klien." Balas Hana singkat.
Tapi Louis berpikir bahwa pria itu memperlakukan Hana lebih dari klien.
"Iya Marcus. Apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya Hana.
"Hai Hana, aku mau nelpon karena ingin mengetahui apakah desain mu sudah siap karena fashion show akan dilaksanakan akhir bulan ini." Ucap Marcus.
"Apa? Itu terlalu cepat." Balas Hana.
"Iya itulah alasannya aku bertanya tentang desain mu itu, karena tanggalnya memang sudah dipindahkan lebih cepat.
"Oh iya baiklah. Lagipula desainnya sudah siap." Balas Hana.
"Baiklah itu hebat. Sampai bertemu hari senin." Ucap Marcus.
Di sisi lain di sofa itu, Louis mulai tampak kesal menit demi menitnya. Dia tahu Marcus punya motif lain.
Tiba-tiba Louis mendapat ide. Dia mendekat ke arah Hana dan menaruh tangannya di dalam pakaian Hana dan mulai memegang dada Hana.
Hana menjadi terkejut dengan tindakan Louis yang tiba-tiba itu. Dia menatap ke arah Louis.
"Halo Hana, apa kau baik-baik saja?" Tanya Marcus.
"Iya... iya... Aku baik-baik saja. Kalau begitu ayo kita bertemu hari senin." Ucap Marcus.
"Baiklah, jaga dirimu." Ucap Hana.
"Baik, kau juga Hana." Ucap Marcus.
"Apa yang coba kau lakukan Louis?" Tanya Hana menatap Louis dengan marah.
"Jangan menyebut nama pria lain di depan ku Hana." Ucap Louis dengan marah menatap Hana.
Hana pun menatap Louis dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Nama siapa yang aku sebut? Ah benar juga, Marcus." Ucap Hana.
Mata Louis menyipit.
"Hana aku sudah memperingatkan mu." Ucap Louis.
"Tapi apa yang aku lakukan? Marcus memang orang yang menelpon ku." Ucap Hana dengan tatapan menggemaskan.
Louis kembali menggenggam dada Hana.
"Aauuuw...." Teriak Hana. "Louis, jangan lakukan itu dengan keras." Ucap Hana.
"Aku sudah memperingatkan mu Sayang." Balas Louis. "Kau tidak bisa kabur sekarang. Kelihatannya aku ingin membuatmu melupakan nama pria itu dan hanya namaku yang bisa kau sebut." Ucap Louis.
"Aku hanya bercanda Louis." Balas Hana.
Tapi Louis tidak menghiraukan Hana dan melepaskan pakaian Hana. Dia lalu mulai melakukannya dengan Hana lagi.
...----------------...
Di sisi lain...
"Jadi apa rencana mu Mira?" Tanya pria itu memeluk Mira dari belakang.
Mereka berdua masih tidak mengenakan pakaian dan berada di dalam selimut. Mira menyeringai.
"Tunggu dan lihatlah. Kita pasti akan mendapat formulanya. Tapi sebelum itu, aku harus mengurus wanita bernama Hana ini dulu." Ucap Mira.
Mata pria itu tampak menyeramkan.
"Ingatlah Mira, bahwa kau adalah milikku dan dengan formula itu kita bisa menjadi pasangan yang berkuasa." Ucap pria itu.
Pria itu sudah mencoba cukup lama untuk mendapatkan formula itu dan dia hampir saja mendapatkannya. Tapi pria anak buahnya itu mengacaukan rencananya karena tertangkap oleh kedua Cullen bersaudara.
Dikarenakan chip yang dia taruh di semua orang yang bekerja untuknya dan karena itulah dia tidak bisa mendapatkan apa yang mereka pikir Louis dan Lucas tidak bisa menyelesaikan investigasi mereka sebelum mereka mendapatkan informasi apapun.
Bersambung...
__ADS_1