Kesempatan Hidup Kedua Hana

Kesempatan Hidup Kedua Hana
Tentang Papa Louis


__ADS_3

Jack Cullen sedang berada di taman rumahnya. Hari ini sinar matahari sangat cerah dan dia tengah merasa begitu senang sejak dia mendengar komplain dari sahabatnya tentang putranya yang membuat putrinya itu hamil. Semua yang bisa dia lakukan hanya tertawa. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menjadi seorang kakek.


Saat ini dia tengah menyiram tanaman di taman belakang rumahnya dan mendendangkan sebuah lagu dengan suara yang lembut. Dia mendengar salah seorang pelayan memanggil dirinya.


"Tuan, ada sebuah panggilan telepon untuk anda." Ucap pelayan itu.


"Oh baiklah." Balasnya.


Jack Cullen lalu pergi ke ruang kerjanya dan menerima panggilan itu.


Sebuah suara tawa terdengar dari seberang telepon.


"Apa kau masih mengingatku Papa?" Ucap seseorang dari seberang telepon.


Semua perasaan bahagia yang dirasakannya tadi menjadi kacau setelah mendengar suara itu lagi.


"Kau... kenapa kau meneleponku? Apa yang kau inginkan?" Tanya Jack Cullen.


"Ayolah. Kenapa selalu bicara kepadaku dengan kasar Papa? Bagaimanapun aku adalah putra tertua Papa yang Papa lupakan dan Papa tahu benar apa yang aku inginkan." Ucap orang di seberang telepon.


Ekspresi di wajah Jack Cullen menjadi murka.


"Kau jangan memanggilku Papa. Kau adalah monster dalam wujud manusia." Ucap Jack Cullen.


Pria yang ada di sambungan telepon itu tertawa.


"Darah mu lah yang ada di dalam tubuh monster ini Papa." Ucap pria itu.


"Diam lah! Jangan telepon aku lagi. Aku tidak mau melakukan apa yang kau inginkan." Ucap Jack Cullen marah dan langsung menutup sambungan telepon itu.

__ADS_1


Dia tidak pernah menyesali sesuatu yang buruk dalam hidupnya selain mengetahui bahwa dia memiliki seorang anak yang berasal dari hubungan yang tak diinginkan.


...----------------...


Hana tengah berjalan di sekitar toko. Setelah begitu sering memohon, Louis akhirnya mengizinkannya untuk keluar rumah. Hana merasa begitu kasihan kepada bayi yang ada di dalam kandungannya. Jika dia lahir nanti sebagai seorang perempuan, Papanya pasti akan protektif kepadanya karena menaruh tangannya di perutnya.


"Jangan khawatir nak, bahkan jika Papamu bisa begitu protektif kepadamu, tapi dia akan sangat mencintaimu. Dia adalah orang yang akan paling mencintaimu." Ucap Hana dengan sebuah senyuman di wajahnya.


Semua yang terjadi kepadanya saat ini seperti sebuah mimpi baginya. Orang yang paling dia cintai sekarang adalah Papa dari bayi yang tengah ada di dalam kandungannya.


Hana melihat ke arah pakaian bayi di sebuah toko. Dia tidak bisa menahan dirinya dan masuk ke dalam toko itu. Pakaian bayi yang ada di toko itu terlihat menggemaskan. Walaupun sebenarnya masih terlalu dini untuk membeli pakaian bagi bayi, tapi Hana tidak bisa menahan dirinya dan membeli beberapa pakaian bayi itu.


Setelah selesai berbelanja, Hana meninggalkan Mall dan dia langsung berjalan menuju area parkir. Namun tiba-tiba dia berhenti karena dia merasa ada yang aneh. Dia tidak tahu kenapa saat tubuhnya tiba-tiba merasa merinding.


Hana lalu melihat ke arah belakang. Dia merasa seolah seseorang tengah mengikuti dirinya. Tapi saat dia melihat ke belakang, dia tidak menemukan seorang pun. Hana mengangkat pundaknya berpikir pasti semua itu hanyalah ilusi saja.


Setelah beberapa deringan, Louis akhirnya mengangkat telepon dari Hana.


"Louis, aku merasa seseorang tengah mengikuti aku. Tolong lakukan sesuatu." Ucap Hana.


Louis begitu panik mendengar suara Hana.


"Hana pergilah ke mobilmu dan pergi secepat mungkin. Aku sudah menginstal GPS di ponselmu. Jadi jangan khawatir, aku akan melacak keberadaan mu. Percaya kepadaku sayang. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti dirimu dan bayi kita."


Setelah itu Louis menutup sambungan telepon dan dia mengutuk dirinya sendiri.


"Sial! Kenapa aku tidak pergi bersamanya." Ucap Louis.


Louis dengan cepat pergi ke mobilnya untuk pergi ke lokasi di mana Hana berada secepat yang dia bisa.

__ADS_1


Sementara itu Hana sendiri, setelah mendengar ucapan Louis dia langsung berlari ke arah mobilnya. Tapi sebelum dia bisa masuk ke dalam mobil, pria yang mengikutinya menangkap dirinya dan mendorongnya menjauh dari mobilnya.


Pria itu memegang tangan Hana.


Hana mencoba dengan sekuat tenaga untuk melepaskan dirinya dari genggaman pria itu, tapi dia gagal karena genggaman pria itu semakin erat padanya.


Hana bisa saja melakukan hal yang lebih kasar. Tapi dia takut jika bayi nya akan merasa kesakitan. Jadi dengan semua tenaga yang dia punya, Hana menendang lutut pria itu.


Pria itu pun terjatuh.


"Wanita ******! Aku akan membunuhmu." Ucap pria itu.


Hana berlari menuju mobilnya. Tapi pria itu memegang rambutnya. Dia dengan kasar menarik rambut Hana dan meninju dagu Hana. Hana pun terjatuh. Pria itu lalu memberikan senyuman jahat pada Hana.


"Sekarang wanita ******, kemana kau akan berlari?" Ucap pria itu.


Hana melangkah mundur dengan penuh ketakutan.


"Kenapa... kenapa kau ingin membunuhku?" Ucap Hana dengan gemetar.


Wajah Hana yang tampak ketakutan membuat pria itu merasa puas. Dia pun tersenyum memperlihatkan giginya yang berwarna kuning.


"Hal itu tidak akan pernah kau ketahui. Sekarang tanpa berbasa-basi lagi, ucapkan selamat tinggal kepada hidupmu." Ucap pria itu.


Setelah itu pria itu mengacungkan senjata ke arah kening Hana.


Pandangan Hana pun menjadi gelap.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2