
Ryan merasa begitu puas melihat wajah Louis dan Hana yang menangis putus asa. Melihat mereka kesakitan, membuatnya sangat begitu puas.
"Menangis lah Hana, menangis lah dengan keras. Hari ini aku akan membalas dendam untuk mamaku. Aku sudah menunggu hari ini sangat lama. Aku akan mengambil semua yang jadi milikku darimu. Mamaku meninggal karena mamamu dan juga Papa badjingan ku itu." Ucap Ryan bernafas dengan begitu puas.
Louis terbatuk dan dia berusaha berdiri.
"Itu kesalahan Mamamu sendiri, bukan mamaku. Mamamu lah yang masuk dalam hubungan orang tuaku dan kau hanyalah sebuah produk dari kegilaan mamamu terhadap Papaku?" Ucap Louis.
Mata Ryan berubah menghitam. Dia dengan marah menendang perut Louis.
"Diam lah! Diam lah! Itu semua kesalahan mamamu. Itu juga kesalahanmu. Beraninya kau mengatakan sesuatu yang seperti itu tentang Mamaku. Aku akan membunuhmu dan aku akan menghancurkan semua yang berhubungan denganmu." Ucap Ryan.
Ryan melihat ke arah Mira.
"Bunuh Hana! Aku ingin melihat rasa sakit di mata Louis saat kehilangan orang yang dia sayangi." Ucap Ryan.
"Kau... tidak..." Teriak Louis.
Mira menyeringai.
"Seperti yang kau katakan." Ucap Mira seraya mulai menarik pelatuk.
"Tidak secepat itu." Ucap seseorang yang langsung mengacungkan senjata ke arah Mira dari belakang.
Semua orang melihat ke arah suara itu. Ternyata itu adalah Lucas.
Ryan menjadi semakin marah melihat seseorang mengacaukan rencananya. Dia melihat ke arah Mira. Ada sebuah komunikasi terjalin melalui mata mereka. Mira mengerti dengan apa yang ingin dikatakan Ryan kepadanya. Mira mengangguk dan melemparkan senjata itu pada Ryan. Melihat senjata itu terbang ke arahnya, Ryan tidak membuang waktu dan mengambil senjata itu.
__ADS_1
Pertama kali, dia menembak kepala Mira. Mira yang tidak pernah menyangka hal itu terjadi, sekarang dia sudah terbujur kaku.
'Aku harus membunuhmu karena kau sudah tidak berguna bagiku sekarang.' ucap Ryan dalam hati.
"Biarkan aku keluar atau aku akan membunuhnya." Ucap Ryan mengacungkan senjata ke arah kepala Louis.
Hana begitu ketakutan dia pun berteriak.
"Jangan...." Teriak Hana.
Lucas menjadi marah.
"Jangan lakukan apapun sampai aku bisa pergi." Ucap Ryan yang masih mengacungkan senjata ke arah Louis.
"Kau ikut denganku." Ucap Ryan memegang Louis.
Louis berteriak dengan begitu putus asa.
"Tenanglah Hana, tidak akan ada yang terjadi kepada kakakku. Percaya kepadanya." Ucap Lucas.
"Tapi..." Ucap Hana begitu putus asa melihat ke arah Lucas.
Lucas memberikan senyuman meyakinkan kepada Hana.
'Ayo kita ikuti mereka." Ucap Lucas.
Ryan berjalan ke pintu keluar ruangan itu. Louis melihat ke arah Ryan yang terus mengacungkan senjata ke arahnya. Ryan melihat ke kiri dan ke kanan mencoba untuk menemukan apakah ada penjaga atau tidak.
__ADS_1
"Tidak akan ada anak buah mu yang datang. Kau sudah dikepung oleh para prajurit ku." Ucap Louis menyeringai.
"Aku akan membunuhmu." Ucap Ryan dengan marah.
Tapi sebelum dia bisa melakukan apapun, Louis dengan cepat memutar tangan Ryan yang membuat Ryan berteriak kesakitan dan tangannya yang memegang senjata pun terlepas. Melihat kesempatan itu, Louis mengambil senjata itu dan langsung menembak kepala Ryan.
Tubuh Ryan terjatuh tak berdaya di lantai.
"Louis...." Teriak Hana memanggil Louis dari belakang.
Louis berbalik dan melihat Hana. Dia membuka lengannya untuk memeluk Hana. Hana berlari dengan cepat ke arah Louis dan memeluk Louis.
"Aku begitu ketakutan. Aku merasa putus asa." Ucap Hana.
"Ssshhh... kau sudah aman. Anak kita sudah aman." Ucap Louis.
Perlahan mereka berdua berpelukan satu sama lain dengan cukup lama. Semua orang melihat ke arah pasangan itu dengan senyuman hangat.
"Ini saatnya untuk pulang." Ucap Louis.
"Tapi aku tidak mengerti kenapa Ryan harus melawan mu dan bagaimana dengan Mira?" Tanya Hana melihat ke arah Louis dengan kebingungan.
"Aku akan memberitahukan semuanya kepadamu. Tapi ayo kita pergi lebih dulu." Ucap Louis melihat ke arah Hana.
"Baiklah, ayo pergi." Ucap Hana melihat Louis.
Bersambung...
__ADS_1