
Satu minggu sudah sejak lama mengetahui tentang kehamilannya dan sejak saat itu Louis menjadi jauh lebih over protektif kepadanya.
Louis begitu perhatian kepada Hana. Dia bahkan tidak membiarkan Hana pergi ke kamar mandi tanpa memberitahukan kepada dirinya lebih dulu. Hana menjadi sedikit kesal dengan sikap Louis yang dianggapnya berlebihan dan bahkan hal itu membuatnya ingin berteriak kepada Louis.
"Louis! Berhentilah menjadi begitu over protektif padaku. Kau membuatku kesal. Sekarang kehamilanku ini hanya baru berusia 1 bulan. Tapi kau sudah bersikap seolah aku akan segera melahirkan bayi ini. Tolong biarkan aku bernafas Louis. Jika kau terus bersikap seperti ini, aku akan pergi ke rumah orang tuaku." Ucap Hana dengan kesal yang bisa terdengar jelas dari suaranya itu.
"Hana, aku menjadi perhatian kepadamu karena kau membawa bayi kita Hana dalam kandungan mu Hana. Dan aku ingin melakukan sesuatu untukmu. Aku sudah membaca di buku bahwa dalam masa kehamilan, seorang ibu harus menjauh dari aktivitas berat dan dengan cara itu bayi akan tumbuh dengan sehat." Ucap Louis seraya melihat ke arah Hana dengan tatapan penuh perhatian.
Hana melihat ke arah mata Louis dengan kesal.
"Kau.. kau... tidak boleh melihatku dengan tatapan mata yang seperti itu. Aku tahu apa yang coba kau lakukan." Ucap Hana.
Memang benar. Sejak Hana hamil, Louis membawa pulang begitu banyak buku tentang kehamilan dalam setiap hari. Dia membacanya di kantornya dan kelihatannya dia bahkan melupakan semua pekerjaannya di kantor.
Louis memang seperti itu. Tapi dia terus menatap ke arah Hana dengan tatapan mata penuh harap.
__ADS_1
"Mata seperti apa Hana?" Tanya Louis.
"Ah kau memang benar-benar tidak masuk akal. Pergilah ke kantormu... ingat... kantor... kau perlu mengumpulkan uang untuk bayi ini sekarang. Syuuuuh.... Pergilah. Aku harus pergi ke perusahaan Ryan sekarang karena aku sudah selesai dengan desain perhiasan itu dan waktunya launchingnya akan segera tiba." Ucap Hana.
Louis mengerutkan alisnya.
"Ryan? Sejak kapan kalian berdua sudah saling memanggil nama seperti itu dengan akrab?" Tanya Louis.
Hana memutar mata malas.
Louis hanya bisa menghela nafas dan mengusap kepala Hana dengan lembut.
"Jangan bersikap menggemaskan seperti ini di depan pria lain." Ucap Louis.
Hana tertawa mendengar ucapan Louis.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Louis." Ucap Hana.
"Kau memang lebih baik mencintaiku." Ucap Louis berbisik seraya mencium Hana yang membuat Hana tidak bisa melakukan apapun.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Hana.
"Tidak ada sayang. Ayo pergi." Ucap Louis.
...----------------...
Hana pergi ke ruangan Ryan. Dia tengah bersama dengan Ketua Designer dari projects perhiasan itu dan Ryan sudah menerima tentang perubahan desain dari perhiasan itu. Dia juga sudah menentukan tanggal untuk merilis perhiasan itu, selain dari biaya, tempat, periklanan dan waktu juga, semuanya butuh untuk diputuskan. Jadi setiap departemen yang ada dalam projects itu diberikan tugas. Jadi, sepanjang hari semua orang mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Beberapa waktu berlalu, perhatian Ryan untuk Hana semakin tinggi. Dia merasa begitu terpukau dengan kehebatan Hana dalam pekerjaannya di usianya yang masih muda. Tapi Hana terus menjaga jarak darinya membuat hubungan yang terjalin diantara mereka hanya hubungan profesional. Jarak itu membuat Ryan semakin berhasrat untuk mendekati Hana secepatnya.
"Hana... kau akan menjadi milikku." Ucap Ryan.
__ADS_1
Bersambung...