
Di dalam ruangan di mana Hana dirawat, dia tampak berkeringat dan gemetar saat tidur.
Louis melihat Hana berteriak tanpa sadar.
"Tidak... tidak... tidak..." Ucap Hana panik.
Louis bergerak ke arah Hana dan mencoba membangunkannya.
"Hana bangun... Itu semua hanya mimpi. Bangunlah Hana... Tolong sayang, bangun. Itu hanya lah mimpi." Ucap Louis mencoba menenangkan Hana.
Hana tiba-tiba terbangun dengan nafas yang terengah-engah. Dia melihat air mata Louis jatuh di wajahnya.
"Louis sayangku, apakah anakku tidak apa-apa? Katakan kepadaku Louis... Katakan kepadaku..." Ucap Hana begitu histeris.
Louis terus berusaha untuk menenangkan Hana. Setelah beberapa saat, Hana pun akhirnya menjadi tenang. Dia melihat sekeliling ruangan dan tubuhnya pun tadinya yang terasa kaku, kini sudah menjadi lebih rileks. Semua yang terjadi kepadanya tadi hanyalah mimpi.
__ADS_1
Tapi pertanyaannya adalah, mengapa dia tiba-tiba bermimpi seperti itu?
...----------------...
Louis membawa Hana ke apartemennya setelah keluar dari rumah sakit. Setelah masuk dengan menggendong Hana ke dalam kamar, dia lalu menaruh tubuh Hana di atas tempat tidur dengan hati-hati. Louis melihat ke arah Hana dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca oleh Hana.
"Hana, mulai hari ini dan seterusnya ini adalah rumahmu juga. Kau akan tinggal bersamaku." Ucap Louis.
Louis berhenti bicara sejenak. Hana ingin menghibur Louis agar tak terus memikirkan semuanya, tetapi dia sendiri tahu bahwa Louis harus mengeluarkan amarah yang ada di dalam dirinya. Louis tampak mengepalkan tinjunya.
Tenggorokan Hana menegang. Dia tidak pernah mengira bahwa Louis bisa merasakan hal seperti itu terhadap dirinya. Dia pun meraih kedua tangan Louis.
"Louis tatap aku." Ucap Hana.
Tapi Louis tidak melihat Hana. Dia tidak siap menunjukkan kondisinya yang lemah kepada Hana. Dia ingin selalu terlihat tegar dan kuat dihadapan Hana.
__ADS_1
Hana lalu memegang tangan Louis dengan erat dan menariknya mendekat ke arahnya. Dia lalu memegang kedua pipi Louis untuk membuat Louis bisa menatapnya.
"Louis itu bukan salahmu. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Kau juga manusia biasa Louis. Tenangkan pikiranmu untuk anak kita. Kau harus tahu bahwa aku akan selalu hidup denganmu. Aku akan menjadikan ini rumah kita. Aku janji bahwa aku akan mengurangi jadwal kerjaku Louis. Sekali lagi aku katakan, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Kau adalah satu-satunya pria yang aku cintai dan akan selamanya akan selalu aku cintai." Ucap Hana tak kalah serius.
Tenggorokan Louis menegang. Dia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Hana dan memeluk Hana.
"Ingatlah selalu Hana, bahwa kau itu adalah satu-satunya orang yang menjadi racun dan juga penawar bagiku. Mulai sekarang dan seterusnya pekerjaan apapun yang kau miliki, aku akan selalu membantumu. Aku tidak bisa membiarkan kau menjadi stress." Ucap Louis.
"Tenanglah Louis, aku tidak akan stres. Louis, percayalah bahwa aku akan melahirkan anak kita." Ucap Hana seraya mencium kening Louis.
"Aku sangat mencintaimu Hana." Ucap Louis membalas mencium kening Hana.
"Aku juga sangat mencintaimu Louis." Balas Hana dengan tersenyum.
Bersambung...
__ADS_1