
Di balkon...
Hana tidak sabar menunggu kedatangan Louis. Dia sengaja tidak menelepon Louis karena dia ingin memberikan kejutan kepada Louis. Untuk Louis, Hana secara pribadi mendesain kan sebuah hadiah berupa liontin dan cukup lama baginya untuk menyelesaikan liontin itu. Dia ingin memberikan sesuatu yang berarti bagi Louis.
Hana melihat sosok seseorang mendekat ke arahnya atau lebih tepatnya berlari ke arahnya.
"Hana..." Ucap Louis dengan mata yang penuh kebahagiaan.
Kemarahannya yang sejak tadi ada dimatanya menghilang begitu saja setelah melihat Hana.
Hana menelan ludah melihat Louis. Tidak diragukan lagi bahwa Louis terlihat begitu tampan. Hana menjadi kesal memikirkan tentang semua wanita yang terus menatap Louis sejak tadi.
"Kenapa kau tampak begitu tampan? Semua wanita itu pasti memikirkan dirimu." Ucap Hana dengan wajah yang tampak kesal.
Louis merasa terpesona melihat ekspresi Hana. Dia merasa senang mengetahui fakta bahwa Hana merasa cemburu. Dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan langsung menarik Hana dalam pelukannya. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Hana dan kembali memeluknya dengan erat.
"Kesayanganku ini kelihatan menggemaskan saat dia cemburu." Ucap Louis.
Hana memutar matanya malas.
"Kau tidak diperbolehkan untuk terlihat tampan untuk wanita lain yang melihatmu." Ucap Hana.
Louis tampak terkejut melihat wajah Hana yang semakin tampak cemburu. Dia pun tertawa kecil.
__ADS_1
"Hana kesayanganku... Tubuhku, hatiku, cintaku ini hanya untukmu. Jadi kau tidak perlu cemburu." Ucap Louis.
Hana kembali memutar matanya malas mendengar ucapan Louis. Dia tiba-tiba mengingat sesuatu yang akan dia berikan kepada Louis yang dia pegang sejak tadi di tangannya. Hana kemudian tersenyum manis kepada Louis.
"Happy birthday Louis. Aku punya sesuatu untukmu." Ucap Hana.
Louis tampak sangat senang melihat apa yang diberikan tunangannya itu kepada dirinya. Dia melihat sebuah liontin di tangan Hana yang didesain dengan sangat sederhana. Liontin itu di desain dengan bentuk matahari yang terbuat dari emas dan di dalamnya didekorasi dengan permata safir berwarna kuning.
Hana begitu senang.
"Aku memikirkan banyak hal tentang apa yang akan aku berikan kepadamu. Kau sudah punya semuanya jadi aku secara pribadi ingin mendesain sesuatu untukmu. Aku memikirkan tentang liontin ini. Aku memberikan pola matahari karena Louis, aku selalu ingin hidupmu dipenuhi dengan cahaya. Jadi tidak akan ada kegelapan dalam hidupmu." Ucap Hana dengan penuh perasaan yang ada dari dalam dirinya.
Tenggorokan Louis terasa kering. Ada sebuah perasaan yang tidak bisa dia jelaskan. Tidak ada seorangpun yang pernah melakukan hal itu kepadanya.
"Jangan membicarakan tentang kematian mu Louis." Ucap Hana menatap Louis.
Louis merasakan kebahagiaan di dalam dirinya. Dia menunduk dan mencium Hana penuh perasaan. Dia menaruh semua perasaannya dalam ciuman itu.
Hana mencoba untuk bertahan dengan ciuman itu. Perlahan kaki Hana merasa lemah. Louis langsung memegang pinggang Hana dan membuat kaki Hana melingkar di pinggangnya, dan kemudian bersandar di tembok.
"Berhentilah guys! Hentikan semuanya. Apa kalian berdua mencoba berencana untuk membuat bayi di sini? Semua orang menunggu pengumuman pertunangan kalian. Tapi kalian di sini malah saling merusak pakaian kalian."
Dan itu adalah suara Mira. Dia melihat sesuatu yang tidak ingin dia lihat dalam hidupnya.
__ADS_1
Hana dan Louis pun melepaskan diri satu sama lain. Wajah Hana tampak merona dan dia langsung menutupi wajahnya di dada Louis.
Louis menatap ke arah Mira yang sudah mengacaukan waktu mereka. Mira hanya memutar matanya malas.
"Kalian bisa lanjutkan saja nanti di rumah." Ucap Mira.
...----------------...
Pertunangan mereka pun diumumkan. Ada banyak wanita yang merasa patah hati mendengar pertunangan Louis. Tapi tidak ada yang bisa mengatakan bahwa mereka berdua adalah pasangan yang tidak cocok. Justru mereka berdua begitu sempurna. Semua orang bisa melihat bagaimana sempurnanya mereka bersama. Satu persatu orang mulai mengucapkan selamat kepada mereka.
"Selamat Nona Kurniawan dan Tuan Cullen atas pertunangan kalian."
Itu adalah suara Ryan dan Mira Domani kakak beradik itu.
"Terima kasih." Ucap Louis.
Hana tidak tahu kenapa, tapi dia tidak mendapatkan hal baik apapun dari tatapan Ryan. Mira menyadari bahwa cara kakaknya menatap ke arah Hana dalam pesta itu. Meski Ryan memiliki wajah yang dingin, tapi Mira sudah hidup bersama kakaknya itu begitu lama. Jadi dia bisa mengerti bagaimana sikap asli dari kakaknya itu.
Wajah Mira pun tampak murka. Hatinya menjadi semakin marah.
'Aku tidak akan memaafkan mu Hana.' Ucap Mira dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1