
Aaa..."astagfirulla"Ucap Lina langsung terbangun dari tidurnya.
" Ya Tuhan lagi-lagi aku bermimpi buruk, tapi kenapa aku bermimpi tentang tante Lastri, apa maksud dari mimpi ini ?" Ucap batinnya merasa binggung sebab, baru kali ini ia bermimpi buruk tentang tante Lastri.
Ku tenangkan diriku terlebih duluh sebelum kembali tidur, ku lirik jam masih menunjukan pukul 02:50 malam.
Kini mulai terdengar ada Suara aktifitas berasal dari dapur,seperti seseorang sedang meniup-niup api di tungku,mungkin itu mama yang sedang memasak.
"Kok tumben mama jam segini udah masak,kaya orang mau persiapan sahur ajah, hmmm...biyarin lah, Lebih baik aku tidur duluh,lagi pula aku juga masih ngantuk.
"huuuaaahh...
Sebelum kembali rebahan, lina sempat lirik Lisa dan Nenek yang tertidur begitu pulas di atas kasur yang sama.
"Ya ampun nih anak,saking nyenyaknya tidur, pasti ada aja pulau yang tercetak,entah itu pulau kalimantan atau pulau sulawesi aku ngga tau, saking amburadulnya tuh tinta yang keluar, aku ajah pengen tidur nyenyak eh!! malah ngga bisa, Bahkan, bisa dibilang aku ini tidur seperti ayam, gara-gara mimpi buruk muluh" gumam lina serta kembali menarik selimut menutupi tubuhnya.
****
"Dung....dung...dung....dung....
"Banguunnn...Sholat subuuuhh"teriak Lisa yang membangunkan ku sambil mengetuk jerigen kosong di hadapan wajahku.
Sontak saja aku langsung terbangun seperti orang yang setengah sadar dan linglung.
Lisa yang melihat ekspresiku malah langsung tertawa tanpa merasa bersalah.
"Ahahaha.... Ekspresi kaka lucu bangat kalau bangun,seperi orang yang lagi merasakan gempa.
"Bung... Sebuah bantal kulempar melayang ke arah wajahnya,ia pun berlari keluar sambil nyengir kuda.
"Maaf ya ka, ngga sengaja" teriaknya dari arah luar.
"Maaf-maaf, Dasar adik ngga ada ahlak,Tunggu ajah giliran kamu, pasti aku balas." ucapnya berusaha bangkit dari kasur dan berjalan kearah luar.
Sehabis sholat,gegas lina mengambil pakain kotor miliknya yang berada di keranjang yang sudah hampir penuh untuk segerah di cuci, tak lupa pula,aku mengambil sebagian pakaian mama dan papa untuk dicuci, agar beban pekerjaan mama sedikit lebih ringan.
"Ma, Lina mau nyuci,sabun cucinya ada di mana? Tanya ia menghampiri mama yang berada di dapur sambil membuat teh manis bak seperti dirinya yang manis. Hehe... Pede amat muji diri sendiri.
"Tuh di gantung di dinding" jawab mama sambil menunjuk ke arah dinding.
"Ouh..oh iya mama, tumben tadi subuh mama cepat bangun,kaya orang mau persiapan sahur ajah" ucap lina dengan polos
"Tadi subuh jam berapa ?"Tanya mama sambil menuangkan teh ke dalam gelas.
"Kalau tidak salah,udah mau hampir jam tiga ma" jawanya enteng.
__ADS_1
"Apa? Mama papa ajah baru bangun jam setengah Lima" jawab mama yang sesekali meliriknya dengan wajah bingung.
"Masah sih ma,terus yang tadi subuh beraktifitas di dapur siapa dong ma?"
"Mana mama tau?mungkin saja kamu sedang ber mimpi " jawab mama sambil menaikan kedua bahunya.
"iis... Kayanya aku ngga bermimpi deh, perasaan tadi subuh itu benar-benar ada orang yang beraktifitas" ucap batinnya yang tidak percaya.
"Ngga usah ngelamun minum duluh tehnya, setelah itu baru nyuci" pinta mama dan berlalu menujuh arah luar sambil membawa teh dengan napan.
"Iya ma" jawanya yang segerah kuseruput teh manis yang ada di hadapannya dan tak lupa di temani beberapa potongan ubi goreng, yang kebetulan kemarin sore sempat di panen nenek di belakang rumah.
Sekarang sudah hampir jam enam,gegas aku turun kebawa sambil membawa keranjang yang berisi pakaian,kulihat Lisa dan nenek sedang menyiapkan beberapa ember untuk ikan yang akan di panen nanti.
Setibanya di sumur aku pila pakaianku dan pakain mama untuk di rendam, saat memilah pakaian mama, aku mendapati gulungan rambut yang menempel di baju mama yang begitu banyak.
"Ko ada rambut menempel dibaju mama, perasaan tadi aku ngambil baju mama kayanya nih rambut belum ada deh ,atau jangan-jangan keselip kali ya" gumamnya sambil membuang kumpulan rambut ke air yang mengalir.
Sudah hampir sejam ia mencuci pakaian dan akhirnya sudah selesai,gegas ia menjemur semua pakaian yang ada di keranjang, setelah itu langsung terjun membantu papa dan Lisa nemanen ikan di kolam.
"Pa,Lina bantu ya jual ikannya ya,soalnya Lina malas berada di rumah" tawarnya sambil memberi alasan.
"Ya sudah, nanti papa pilih duluh ikan yang akan kamu jual" jawab papa.
setelah merasa cukup ikannya untuk di jual, Lina bergegas membersihkan diri di sumur tak lupa juga ia langsung menganti pakaian dan berlalu naik kedalam rumah untuk menganti hijabnya.
"Iya ma, ini juga udah mau hampir jam sepuluh,takutnya nanti kesiangan" jawabnya sambil memasang hijab di kepala.
"Yaudah hati-hati di jalan,jangan lupa kalau pulang beli gula ama garam" ucap mama.
"Iya ma,Lina berangkat duluh ya" pamitnya setelah menyalami tanagan mama.
"Pa,aku duluan berangkat ya"pamitnya kepada papa.
"Iya hati-hati di jalan" jawab papa.
Ia pun menenteng dua termos yang satu berisikan ikan mujair, dan satunya lagi berisikan ikan mas.
Ia menyusuri jalan setapak sambil menikmati suasana udara segar di perkebunan.
Sungguh suasana di kebun hari ini baginya sangat berbeda,tiada tanda-tanda menyeram atau pun mencekam.
Saat di perjalanan ia berpapasan dengan Pa Asep,mungkin beliau mau mampir kerumah papa.
"Mau kemana bawa termos? Tanya pa asep setelah berpapasan dengannya.
__ADS_1
"Biasa mau jual ikan om" jawabnya senyum.
"Oh... Berarti bapak lagi panen ya?" Tanya pa asep lagi,sambil menghisap puntung rokonya
"Ia, papa lagi panen, tuh dirumah masih sementara memilah ikan " jawabnya.
"Oh ya sudah, saya permisi duluh,mau ketemu sama papa kamu"
"Iya om,saya juga mau permisi" jawabnya kembali berjalan menyusuri jalan setapak.
Sempat Lina melirik pa asep seperti sedang menyapa seseorang yang berada disampingnya,padahal ia cuman sendiri.
"Kok pa Asep kaya nyapa seseorang,padahal aku cuman sendiri,iiih... Pa Asep bikin takut aja" gumamku sambil terus berjalan.
Tak terasa akhirnya sudah tiba di tepi jalan yang beraspal sambil sesekali aku berteriak menawarkan ikan pada rumah kerumah.
Lina anaknya tidak perna merasa malu atau pun minder melakoni pekerjaan ini,baginya yang terpenting beban kedua orang tua sedikit lebih ringan saat ia bantu.
"Ikaan... Ikaan.. teriaknya sambil terus berjalan di tepi jalanan yang beraspal. banyak robongan ibu-ibu sedang berkumpul di bale-bale mungkin sedang menunggu mas sayur.
"Ikan Bu, ikan... Teriaknya lagi.
"Eh Lina, mari singgah" ucap salah satu dari mereka.
"Ada ikan apa ajah? Tanya salah satu dari mereka setelah Lina hampiri.
"Biasa bu,ikan mujair ama ikan mas" jawabnya sambil menaruh termos di hadapan mereka serta membuka tutupnya.
"Saya ikan mujair ajah de, harganya seperti biasa kan? Tanya bu marwa
"Iya bu,harga seperti biasa,ngga kurang,ngga lebih" jawabnya dengan senyum.
mereka sudah tau harga ikan yang biasa Lina jual.
Tak menunggu waktu lama,ibu-ibu yang lainnya pada mulai menghampiri,hanya dalam beberapa menit saja,ikan pun langsung ludes terjual di borong oleh mereka
"Alhamdulilah udah habis, makasih ya bu,udah berbagi rezekinya"ujarnya mengucapkan terimah kasih kepada mereka semua.
"Iya sama-sama jawab mereka serempak dan berlalu masuk kedalam rumah masing-masing.
Aku kembali menenteng termos yang sudah kosong menujuh kearah warung Bu Ratna untuk membeli pesanan mama. Kebetulan warung beliau melewati rumah Bu Wati, dari kejauhan matanya sempat melihat motor yang tak asing lagi terpakir di halaman rumah Bu Wati.
"Bukannya itu motor tante Lastri ? Ngapain ya dia ada di disini, lagian ada urusan apa tante Lastri sama bu Wati"gumam Lina yang penuh tanda tanya.
Tak menunggu waktu lama tante Lastri pun keluar bersama bu Wati. Gegas aku bersembunyi di balik dinding tembok salah satu rumah warga Agar aku bisa memperhatikan mereka.
__ADS_1
_____