
Se-se- setaaaaannn!!!!!.....
Teriak pak samsul sambil berlari tunggang langgang menujuh kearah rumah pak Imran,ia tidak lagi memperdulikan kakinya yang sudah terluka, sembari terus mengeluarkan darah segar karna menginjak potongan ranting yang tajam.
"Pa imraaan.. !!!tolong.... Ada setaaaann..." Teriak pak samsul dari jarak jauh sembari terus berlari menujuh kearah sahabatnya itu.
"Ada apa Sul,istigfar ? Seru pa Imran,yang segerah menghampirinya.
"A-anu Mran!! a-ada setan" ucap pa samsul dengan tergagap, sembari menunjuk kearah belakang.
Ia terlihat begitu sangat ketakutan dengan kejadian yang dialaminya.
"Dari situlah pak samsul mulai sakit selama satu minggu. Ia juga sering keserupan sambil berteriak tak jelas, untung pihak keluarga langsung membawa pak samsul kepada ustad Ali,dan langsung ditangani dengan cara ruqia. Alhamdulilah Pa Samsul kembali seperti semula.
setelah kembali puli ia menceritakan semua pengalamannya saat berada dialam mereka,dan anehnya lagi Ia mengatakan bahwa kedua putrinya juga berada disana bersama sang istri, padahal selama ini yang ia saksikan bukanlah Rani dan Nia melainkan sesosok kedua kunti yang menyamar menjadi kedua putrinya dan mereka itulah yang mengambil sukma pak samsul bersama mereka.
Bulu kudukku terus berdiri tiada henti karna mendengar perihal kejadian yang alami oleh pa samsul.
"Ya ALLAH seram juga sih pa, aku takut kejadian serupa akan menimpa kita, apa ngga sebaiknya kita pindah saja ya dari sini ? Usulku,dan dibalas anggukan oleh Lisa.
__ADS_1
"Iya pa, Lisa juga takut bila terus tinggal disini" timpal Lisa menyetujui usulanku.
" Kalau untuk masalah itu papa sudah memikirkannya,tetapi tabungan papa belum cukup untuk membeli sepetak tanah, belum lagi biaya pembangunan rumah pasti juga sangat mahal,kalau untuk tanah kebun ini bapak ngga mau jual, soalnya dari hasil kebun inilah kita bisa memenuhi kebutuhan sehari-sehari, jika belum ada yang menggunakan jasa papa disawah" jawab papa sambil menyeruput kopi panas yang di buatkan oleh mama barusan.
Aku dan lisa hanya diam mendengarkan penuturan papa, apa yang diucapkannya memang ada benarnya. Walaupun berada dikampung tetapi untuk harga tanah tetaplah mahal,belum lagi biaya untuk pembangunan rumah. Aku pengen membantu ekonomi keluarga tetapi,aku belum bisa berbuat apa-apa sedangkan aku masih duduk dibangku kelas 2 SMA.
"Ya udah pa, ngga apa-apa, insya ALLAH Lina dan Nia akan terbiasa dengan hal ini. Ujarku,walaupun hati disana berkata lain.
"Jadi,hanya satu papa minta,kalian jangan perna terbuai dengan suara-suara yang memanggil nama kalian jika suara itu terdengar samar. Alangkah sebaiknya cepat tinggalkan. jangan lupa berdo'a agar selalu berada dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa" ucap papa kembali mengingatkan.
"Dan satu lagi,jika kalian melewati suatu tempat yang dipercaya itu tempat yang angker,jangan lupa ucapkan kata permisi terlebih duluh, apa lagi jika melakukan kegiatan hal lainnya seperti buang hajat,meludah, atau lainnya. Takutnya apa yang kita lakukan akan menimpa pada mereka yang seketika membuat kita sakit,padahal kita tidak bermaksud untuk menyakiti mereka,Karna bagaimanapun juga,kita ini hidup berdampingan dengan mahluk yang tak kasat mata" timpal mama yang juga memberikan nasehat.
*****
Sekarang sudah waktunya untuk makan siang.Kami semua duduk dibale-bale dibawa kolom rumah sambil menyantap makanan dengan begitu lahap. sesekali pandangan kami mengarah kearah sawah yang tak jauh dari depan rumah. Siang ini kami menikmati menu yang sederhana tetapi begitu nikmat, ikan nila bakar yang dibaluri dengan sambal pedas mentah, serta dilengkapi dengan sayur kuah bening kangkung, bagiku semuanya sudah merasa mantap masuk kedalam tenggorokanku.
"Itu siapa sih yang berdiri dibalik pohon kelapa,kok gelagatnya sangat aneh" batinku, setelah mataku menangkap seseorang yang sedang melihat kearah kami dari kejauhan.
"Ah,sepertinya aku mengenalnya,itu bukannya bu wati ya?tapi,ngapain ia berdiri disana sambil celingak- celinguk seperti orang yang takut ketahuan, belum lagi padangannya tak luput kearah kami sungguh aneh,atau jangan-jangan....ah!!! masah ia sih. Aduh ini otak kenapa sih berpikir negatif tentang bu wati, ngga mungkin ia seperti itu ". batinku berucap dan segerah menghilangkan pikiran negatifku, yang mulai melayang jauh sambil meneguk segelas air minum. Mataku kembali melihat kearah tempat ia berdiri tetapi sosok yang berperawakan sedang itu sudah tidak berada ditempatnya.
__ADS_1
"Loh,cepat bangat tuh bu wati pergi, kemana ya perginya?seperti orang yang ditelan bumi,?" Batinku yang merasa heran.
Sedikit cerita tentang bu Wati. Ia dan sang suami yang bernama pa Arman adalah warga pindahan dari kampung sebelah,beda kecamatan tetapi satu kabupaten. Mereka juga membeli sebagian tanah kebun milik pa Rusli karna waktu itu, pak Rusli menjualnya untuk biaya pengobatan sang istri yang seketika jatuh sakit. Hanya berselang enam bulan mereka pindah dikampung ini,sang suami sudah menghadap kepada sang Ilahi yang katanya akibat penyakit serangan jantung yang secara tiba -tiba menyerangnya, . Tentu saja para tetangga setempat kaget mendengar perihal kematian Pa Arman suami bu wati. sebab, dipagi hari sang suami masih sempat membantu tetangga yang hajatan disamping rumah beliau, menurut penuturan Pa Rasyid, bahwa dipagi hari beliau begitu sehat dan juga tidak ada terlihat tanda-tanda jika beliau itu sakit, Yah!! Mungkin takdir sudah berkata lain, sekitar pukul jam sembilan malam beliau tiba- tiba mengejang dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir tepat dipangkuan sang istri,begitu lah pengakuan bu wati kepada tetangga,Ada yang percaya ada juga tidak,karna semenjak meninggalnya pa Arman, bu wati hanya terlihat biasa-biasa saja tidak terlihat sedang berduka. Banyak beredar gosip kalau beliau meninggal akibat dari ula bu Wati sendiri,yang katanya menganut ilmu hitam,apa lagi dari semenjak mereka pindah didesa ini, bu wati kurang berbaur dengan tetangga setempat,belum lagi beliau juga sangat tertutup, hanya Pa Arman suaminyalah yang sering berbaur dengan parah warga dan juga tetangga setempat.
"Hei,Lagi liat siapa sih,Pelanga-pelongo liat kearah kebun serius amat lagi"tanya mama
"Ya elah ma, bikin kaget ajah.Anu bu,tadi Lina kayanya liat bu Wati deh berdiri dibalik pohon kelapa itu" jawabku menunjuk kearah pohon kelapa milik salah satu warga,ibu pun mengikutih arah telunjukku.
"Mana ? Ngga ada tuh, mungkin kamu salah liat atau mata kamu yang mulai rabun" seru ibu sedikit bercanda.
" Ya elah bu!!mata Lina masih normal seratus persen!!! Tapi benaran bu, sepertinya tadi itu bu wati!!" timpalku sambil menyuapi nasi kedalam mulutku.
" Mungkin saja itu bu wati,tapi sedang nyari kelapa jatuh disekitar situ" ucap papa.
"Mungkin iya kali !!!" jawabku sedikit tak yakin.
"Ngga usah bahas Bu Wati,cepat beresin piring kotornya,setelah itu langsung cuci" pinta mama, memotong obrolan kami.
Bersambung..
__ADS_1