Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.

Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.
part 20. kucing hitam


__ADS_3

"Ya udah om,silahkan coba lagi" pintaku memberikan macis kayu ke pada pa Mamat. Ia kembali mencobanya dan kini api pun mulai menerebes ke daun kering,hingga pada akhirnya mulai melahap sedikit demi sedikit.


"Alhamdulilah udah ke bakar,makasih ya!!Ujar pa mamat.


"Ia sama-sama om, lain kali kalau ngelakuin sesuatu,mendingan minta permisi duluh"ucapku sembari mengingatkan.


"Iya benar!! cuman om ngga ke pikiran kesitu.cuman tau main bakar aja,eh!!tau-taunya ada penghuninya, pantasan ajah ngga bisa kebakar,padahal kalau di pikir rumputnya udah kering" jawabnya dengan gelengan kepala.


"Yaudah om,saya lanjut pulang duluh" aku pun meninggalkan pa mamat, baru saja beberapa langka,pikiranku langsung teringat kembali dengan kucing hitam yang sempat mengikutiku tadi.


"Om!! tadi nampak kucing hitam ngga? Tanyaku sambil celingak-celinguk melihat di sekitar kebun.


"Ngga ada tuh, perasaan tadi kamu cuman sendiri" jawab pa mamat yang ikut melihat di sekeliling.


" Beneran om!!,tadi itu saya di ikuti sama kucing hitam,tapi ngga tau kemana ?" jawabku kembali.


"Oh..Mungkin saja sudah pergi,biasa namanya kucing liar pasti gitu,asal ikut terus hilang entah kemana" jawabnya.


"Apa mungkin iya!!! Hmmm...Syukurlah kalau dia udah pergi,lagi pula aku juga takut dekat di ama kucing itu,cara natapnya ajah udah bikin aku merinding. Ya udah om saya permisi duluh" gumamku. Dan kembali berpamitan ke pada Pa Mamat.


****


"Ehh.. udah pulang!! Teman kamu tadi kemana ? Tanya pa Asep yang berpapasan denganku.


"Teman yang mana? perasaan tadi aku cuman sendiri Om" jawabku sambil merasa bingung.


"Sendiri gimana!!tadi itu ada yang nemanin kamu, Om pikir itu kerabat atau teman kamu" jawabnya dengan serius.


"Kok aku jadi merinding dengar jawaban Pa Asep,pantasan ajah tadi itu pa asep seperti mengangguk kaya menyapa seseorang" ucap batinku.


"Emangnya tadi yang ngikutin saya siapa Om? Tanyaku sedikit penasaran tapi juga merasa takut.


"Loh masa ngga tau,yang ngikutin kamu tadi itu dua anak cewe,mereka sepertinya seumuran dengan kamu!! Jawab Pa asep.


"Ya Tuhan!!,Apa jangan-jangan anak yang aku mimpikan semalam ngikutin aku!! Terus suara yang sempat berbisik di telingaku tadi?Apa mungkin juga mereka yang memberikan isyarat!!" gumamku sambil berusaha menelan savilaku di sertai keringat mulai membasahi pelipisku.


"Kamu kenapa? Kok mukanya pucat, kamu sakit ?" tanya Pa Asep lagi


"E-engga om, ya udah om saya lanjut kerumah dulu" aku segerah meninggalkan Pa Asep yang masih bingung melihatku.


Setibanya di rumah aku langsung menujuh ke arah dapur menyimpan dua termos di atas meja beserta pesanan mama, lalu mengambil gelas di rak piring mengisinya dengan air dan meneguknya hingga tandas. Mama yang melihatku merasa heran dan bertanya.


"Kamu kenapa ? Kaya orang habis liat hantu di siang bolong,atau jangan -jangan liat penampakan lagi ya ? Tanya mama yang menghampiriku.


"E-engga ma, Lina cuman kehausan ajah,oh iya ma!! nih uangnya,silahkan di hitung lagi" ucapku,menyodorkan kantong kresek yang berisikan uang hasil jualan ikan.

__ADS_1


Mama pun menerimanya dengan rasa syukur.


"Ya udah Ma,aku mau mandi duluh,soalnya udah gerah nih"


"Yaudah sana,nanti setelah itu makan duluh baru istrahat" ucap mama yang masih fokus menghitung hasil jualan ikan.Akupun berlalu meninggalkan mama menujuh ke arah kamar.


Ku dapati Lisa yang sedang asik menikmati biscuat sambil membaca buku faforitnya.


" Asiik.. lagi santai ya, minta dikit dong"


" Tuh di lemari banyak" jawab Lisa menunjuk kearah lemari.akupun segerah membuka lemari dan melihat ada beberapa bungkus makanan ringan tersimpan di sana.


"Wah banyak amat nih,kalau boleh tau siapa yang ngasi" tanyaku sambil mengambil satu bungkus biscuat untuk ku makan.


"Yah, siapa lagi kalau bukan tante Lastri".jawabnya santai


"Apa ta-tante Lastri" tanyaku sambil menatap ke arahnya.


"Iya!!,kok kaka kaget sih dengar nama tante Lastri," tanya Lisa yang melirikku dengan sedikit heran.


"Cuman heran ajah,tumben dia bawa banyak kaya gini, biasanya dia bawa paling banyak dua atau tiga bungkus" ucapku.


"Mungkin tante lagi banyak rejeki,makanya dia beli banyak untuk kita, hitung-hitung mungkin dia lagi sedekah"


"Apa mungkin ia, kok aku merasa tidak percaya dengan ucapan Lisa. apa karna kepikiran melihat Bu Wati memberikan sesuatu pada tante Lastri ya?"


"Kata mama sih ngga lama,soalnya aku dan nenek masi sementara mandi di sumur.


"Oohh...!! nenek sama papa dimana ?


"Nenek lagi sama bu ajeng, kalau papa lagi manjat kelapa di kebun Pa Slamet" Jawab Lisa yang masih asik dengan cemilannya.


"Ouh, yaudah aku mandi duluh ya" balasku dan kembali menyimpan biscuat ke dalam lemari entahlah, sepertinya aku merasa tidak berselerah untuk memakannya.


"Kenapa ngga jadi di makan ? Tanya Lisa yang melirikku.


"Nanti ajah deh,soalnya badanku udah gatal nih" balasku sambil menyambar handuk yang di gantung di dinding serta mengambil ember sabun dan berlalu keluar dari rumah menujuh ke arah sumur.


Guyuran air yang jatuh dari pancuran mengenai kepalaku mampu menghilangkan rasa lelah dalam sekejab.


"Jangan perna takut bersama kami" bisikan suara itu menghentikan aktifitasku,aku yang merasa takut segerah ku percepat menggosok badanku menggunakan sabun.


Hanya berapa menit aku berada disumur kini ritual mandiku telah usai,kuputuskan untuk segerah pulang karna sudah merasa dingin dan juga takut.


"Meong...meong... Lagi-lagi aku mendengar suara kucing.

__ADS_1


Saat keluar dari sumur aku mendapati kucing yang sempat mengikutiku tadi, sudah berada di hadapanku sambil menjilat-jilati tangannya,sepertinya baru usai memakan mangsa.


"Hus...hus.. ini kucing siapa sih,tiba-tiba dia ada disini lagi" ucapku sambil mengusirnya dengan menghentakan kaki. Lagi-lagi kucing itu memandangku dengan begitu tajam, se akan-akan ia sangat marah ke padaku,Nyaliku pun menciut, setelah beberapa detik memandangku, ia berlalu pergi masuk ke area perkebun.


Aku kembali lega setelah ia pergi dari hadapanku.


"aneh tuh kucing,baru kali ini aku berpapasan dengan kucing yang membuat nyaliku menciut, seperti kucing hantu saja." Gumamku bergidik ngeri.


Bergegas aku masuk kedalam rumah menujuh arah kamar. Setelah selesai menganti pakaianku, sekarang waktunya untuk terjun ke dapur mengisi perutku yang sudah mulai meronta-ronta meminta hakya.


"Ma!! aku mau makan nih? Ucapku menghampiri mama.


"Makan ajah,tuh ada ikan bakar di atas meja"


"Wiihh.. enak ni,pedas ngga ikannya? Tanyaku setelah membuka tudung saji.


"Iya pedas,mama tau kok selerah kamu" jawab mama sambil menikmati cemilannya.


"Ma itu cemilan dari mana? Tanyaku pura-pura tidak tau, sambil menyuapi nasi kemulutku.


"Cemilan yang di bawa sama tante kamu,cuman tumben aja tante kamu ngga lama di sini, alasannya suaminya mau pergi ke tokoh, katanya Sih mau beli pupuk"


"Mungkin saja iya ma, kita kan ngga tau urusan mereka" timpalku


*****


Malam sudah tiba, Suara jangkrik,kodok dan juga burung hantu, sudah mulai terdengar se akan -akan mereka sedang bersenandung menyambut gelapnya malam, disusul Suara desir angin yang mendayu-ndayu menyapa dedaunan di sekitar perkebunan..


" Tumben malam ini anginnya sangat kencang" ucap papa sambil menutup jendela ruang tamu dengan rapat.


" Mungkin saja pertanda akan turunnya hujan" timpal nenek sambil menyeruput teh hangat.


"Tapi langit terang bu,tiada tanda-tanda mau turun hujan" jawab papa.


"Mungin saja ini musim angin kencang,lagi pula kita kan ngga tau situasi cuaca" Timpal mama.papa hanya mengangguk mendengar jawaban mama.


"Lina, kamu ngga mau makan biscuat ini ?tanya papa yang memperhatikanku yang sendari tadi tidak menyentuh makanan itu.


" Nanti ajah deh Pa!! Lagian, masih banyak kok di lemari" jawabku.


Aku melihat mereka begitu menikmati biscuat pemberian dari tante Lastri,sementara aku tidak berselera untuk memakannya sedikit pun,padahal ini adalah makanan faforitku.


Aku mengengerjap-ngerjapkan mata yang tiba-tiba merasa perih, sontak saja aku meras kaget melihat apa yang mereka makan bukanlah biskuit,akan tetapi kumpulan belatung yang mereka suap masuk kedalam mulut layaknya seperti nasi.


"Aaaa...uwueeekk....uwueeek....

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2