
"De,kaka rindu di saat kita bersama,apa kamu juga merasakan hal yang sama" ucap batinnya.
Mengingat kembali masa-masa kecilnya bersama dengan Lisa. Sosok yang sering ia jaili,bahkah sebaliknya.
Lina di kejutkan dengan tangan seseorang yang menepuk pundaknya.
Gegas ia menyeka sisa air mata sembari menoleh kearah belakang.
"Dokter Ardi"
"Kamu kenapa? Habis nangis ya" tanya dokter berjalan serta menjatuhkan bobotnya di kursi yang sama.
"Engga,cuman kelilipan tadi" jawab Lina berbohong sambil membuang pandangan kearah Lain.
"Ouh "
"Oh ya dok. Terimah kasih ya,sudah mau membantu keluarga saya" ucap Lina,sesaat beberapa menit ada keheningan.
" Iya sama-sama" jawab dokter Ardi sedikit senyum menoleh ke arahnya.
"Kalau boleh tau,kenapa dokter Ardi begitu peduli terhadap keluarga kami" tanya Lina dengan nada pelan.
Terlihat wajah dokter Ardi langsung beruba sendu, ia menundukan kepala seperti mengingat kenangan yang entah itu baik atau buruk .
"Sebenarnya, aku duluh juga mengalami hal yang serupa, seperti kalian alami" jawab dokter Ardi setelah beberapa saat terdiam menunduk.
Lina sedikit terkejut mendengar penuturannya.
"pantasan aja, wajahnya berubah seratus persen saat ku tanya, ternyata ia mengalami hal yang serupa" bisik batinnya yang ikut prihatin.
"Duluh,saat aku berusia 10 tahun,kedua orang tuaku meninggal dunia,di saat setelah usai memuntahkan darah hitam. Padahal,mereka terlihat baik-baik saja,bahkan,kami sempat tertawa bersama,sebelum mereka meninggal" jawabnya mengingat kembali kenangan buruk yang ia alami.
"Aku turut berduka cita atas meninggalnya kedua orang tua dokter,semoga amal ibadah mereka di terimah di sisi ALLAH SWT" ucap bela sungkawa, dari Lina.
Dokter Ardi mengaminkan di sertai anggukan kecil.
"Kalau boleh tau? Siapa pelakunya dok ?" tanya Lina sedikit penasaran.
__ADS_1
Dokter Ardi kembali menunduk,bibirnya terasa berat mengatakan siapa pelakunya,di sertai tangan kanannya mengepal sehingga semua uratnya ikut menegang, seakan-akan siap memukul seseorang.
"Pelakunya pamanku sendiri" jawabnya sembari membuang nafas kasar.
"Waktu itu,di saat tengah malam, aku terbangun karna merasakan tenggorokanku begitu haus,kuputuskan keluar dari kamar menujuh ke arah dapur,langkah ku terhenti, saat melewati kamar paman karna mendengar suara tawa kecil di sertai obrolan,Kuputuska mendengar obrolan mereka dengan menempelkan telingaku di daun pintu.
"Aku senang,
Yusuf dan istrinya udah meninggal,akhirnya, tidak ada lagi yang menyaingi usaha kita di kampung ini" ujar pamanku di kala itu.
"Iya Pa,untung usaha kita ngga sia-sia pergi ke dukun,kalau ngga,pasti mereka masih hidup sambil menikmati hasil usaha yang hanya membuatku semakin iri." timpal istri pamanku.
"Aku yang sendari tadi mendengar ucapan mereka,seketika badanku bergetar karna menahan tagis.aku tidak menyangka, Pamanku begitu tega melakukan hal sekeji itu,hanya karna iri terhadap kedua orang tuaku yang sudah sukses merintis usaha mebel" ucap dokter Ardi dengan raut wajah merah padam.
"Lalu,apa yang dokter lakukan pada saat itu" tanya Lina kembali.
"Aku berteriak sambil mengedor pintu kamar mereka,hingga akhirnya, kedua manusia biadab itu pun keluar.
Aku meminta penjelasan dari paman jika yang aku dengar itu benar,dengan santainya paman pun menjawab.
"Kamu anak kecil,ngga tau masalah orang tua, jadi,jangan perna ikut campur dengan masalah ini" ucap pamanku yang langsung mendorong tubuhku,sehingga kepalaku terbentur dinding tembok".
"Apa yang sakit, Cu" tanya Nenek,yang sedikit panik melihatku karna merinti kesakitan.
"Kepala nek" jawabku lirih.
"Hendrik,kenapa kamu tega melukai keponakanmu sendiri,apa kamu tidak punya hati ha!" bentak nenek menatap tajam ke arah paman.
"Itu karna ulah dia yang kulangar ama orang tua" jawab pamam dengan enteng sambil melipat tangan di dada.
Aku berusaha membela diri,serta mengatakan semua apa yang aku dengar.Nenek yang tidak percaya dengan ucapanku,kembali bertanya kepada paman.
"Hendrik,apa yang di katakan Ardi itu benar ?" tanya Nenek menahan emosi.
"Iya,aku dalang atas kematian Yusuf dan istrinya,karna aku iri melihat mereka lebih sukses di bandingkan dengan ku Bu." jawab paman lantang, hingga membuat nenek syok jatuh terduduk dilantai.
"Ya Allah,hendrik.hiks...hiks...hiks.... Kenapa mata kamu sudah di butakan dengan rasa iri Nak,mengapa kamu melakulan itu terhadap kakamu sendiri" ucap nenek dengan tangis pilu,yang mana tangan keriputnya mengelus dadanya dengan pelan.
__ADS_1
"Aku tidak perduli, selagi ada yang berani menyaingiku,maka aku akan menyingkirkannya,walaupun itu kakaku sendiri." jawab Paman merasa tidak bersalah.
"Dasar anak durhaka kamu,pergi kalian dari sini,dan jangan perna lagi menginjakan kaki dirumah ini" teriak nenek mengusir mereka.
"Baiklah,aku akan pergi dari sini,jika itu mau ibu" jawab paman. Lalu mereka masuk ke dalam kamar untuk mengemasi barang-barang.
Tak lama kemudian, mereka pun keluar dengan membawa beberapa koper sambil berjalan melewati kami menujuh kearah luar.
"Semenjak kepergian mereka malam itu, hingga pada hari ini, paman tidak lagi menginjakkan kaki rumah itu,walaupun nenek sudah meninggal enam bulan yang lalu." ucap dokter Ardi dengan pandangan ke arah depan.
Kedua matanya sedikit berembun setelah menceritakan kisahnya,dengan cepat tangan kanannya menghapus bulir bening agar tidak menetes jatuh.
"Aku turut prihatin atas apa yang sudah menimpa dokter" ucap Lina yang tak banyak berkata apa-apa.
Dokter Ardi kembali tersenyum kearahnya.
"Itu sebabnya aku membantumu,agar kamu tidak mengalami hal serupa denganku,walaupun aku tidak sempat menolong adikmu,karna aku juga dalam ke adaan terpojok" ucap dokter Ardi kembali.
"Iya aku tau,mungkin ini sudah takdir yang di berikan Tuhan,walaupun dokter sudah berusaha menolongnya,Oh iya kenapa okter bisa melihat penampakan" tanya Lina kembali.
"Setelah kedua orang tuaku meninggal,dari situlah,aku mulai melihat berbagai macam penampakan ,awalnya, aku merasa takut dan risih,tetapi ,lambat laun aku mulai membiasakan diri dengan ke hadiran mereka,sebab, mereka juga tidak perna menggangguku" jawabnya.
"Lalu Ustad Zein yang dokter panggil sebagai guru,apa benar ia guru dokter" tanya Lina kembali yang benar-benar kepo.
"Iya,dia adalah guruku,sebab aku lulusan dari pesantren miliknya. Setelah lulus,aku kuliah mengambil jurusan kedokteran,itupun kalau bukan usaha dari nenek,mungkin aku tidak akan menjadi seperti sekarang" jawab dokter Ardi.
"Selagi ada usaha dan do'a,apapun keinginan kita pasti akan terwujud"Jawab Lina.
"Ouh iya, kamu tidak pulang menghadiri tahlil adik kamu? Tanya dokter Ardi mengalihkan pembicaraan.
"Tunggu jemputan, mungkin paman Yanto yang akan menjemputku,lagian Tahlil akan di adakan setelah selesai ashar" jawab Lina.
"Jika di izinkan,aku boleh ikut ngga?"
"Lalu,pekerjaan dokter gimana?
"Itu gampang,nanti aku juga minta izin"
__ADS_1
****