Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.

Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.
39.menerimah tantangan.


__ADS_3

39.


Mama...


"papa...


"Adrian... Hiks...hiks...


kedua kaki ku yang memopang tubuhku kini tak sanggup lagi,hingga akhirnya akupun terjatuh dalam ke adaan duduk dan bersandar di dinding papan.


Mama yang sedang mencuci pakaian di sumur,kini berlari dengan baju yang sudah setengah basah di badan.


Terlihat raut wajahnya begitu panik mendengar teriakanku.


Sedangka papa yang baru saja memanen kelapa di pohonnya pun ,bergegas turun dengan hati-hati. Lalu berlari menghampiri kami.


"Lina,Ada apa dengan Adrian" teriak mama sembari menaiki anak tangga dengan sedikit berlari,sehinga membuat rumah panggung agak sedikit mengguncang.


"Adrian udah pergi ma" jawabku dengan suara tangis.


sonta mama langsung histeris. Kedua kakinya menjadi lemas sehingga tubuhnya pun terjatuh tepat di hadapanku.


"Ini tidak mungkin,adrian ayo bangun nak,jangan tinggalkan mama" teriak mama dengan suara pilu.


lalu mengambil Adrian dari dekapanku.


"Adrian, bangun nak,jangan bercanda seperti ini sayang" ucap mama seraya mengguncang tubuh yang sudah dingin dan kaku. Akan tetapi,adrian tidak bergeming sedikitpun.


Papa tak bisa berkata apa-apa,Ia berdiri bak seperti patung di ambang pintu masuk, dengan kedua mata yang sudah merah dan berkaca-kaca,hingga akhirnya,tangisnya pun mulai pecah.


"Ternyata anak yang kau lukis semalam, hanya dirimu sendiri de" bisik batinku yang kembali mengingat hasil lukisannya semalam.


Bu Ajeng yang kebetulan lewat hendak pergi ke ladang,Iya pun bergegas naik kedalam rumah karna mendengar suara tangisan pilu dari kami.


Ia pun terkejut melihat Adrian sudah pucat pasih di atas pangkuan mama.


"Inna lilahi Wainna Ilahi Rojiun.

__ADS_1


Ia tidak menyangka Adrian yang sering membuatnya tertawa, kini sudah tiada.


Wanita itu juga sempat meneteskan air mata,sebelum ia beranjak pergi memberi tahu kepada warga lainnya.


Sehabis sholat dzuhur warga pun berbondong-bondong datang untuk melayat.Rencana pemakaman akan di laksanakan tepat jam tiga sore.


Mereka mengucapkan bela sungkawa serta menguatkan mama agar tetap sabar dan iklas atas kepergian Adrian.


Nenek Tati dan paman Yanto baru saja tiba saat setelah di kabari.Tangisan mama kembali pecah saat berada di pelukan sang bunda,begitu pun dengan nenek yang mulai menangis pilu.


Seusai di mandikan, terlihat wajah Adrian begitu cerah berserih,serta bau harum pun ikut keluar dari tubuhnya. Bahkan ia meninggal bagaikan seperti orang yang sedang tertidur pulas.


Sebelum wajahnya di tutupi dengan kain kafan,kami menyempatkan diri mencium keningnya untuk yang terakhir kalinya.


••••


Tak terasa sudah seminggu kepergian Adrian,semenjak saat itulah,mama mulai jatuh sakit.


"Santi, sampai kapan kamu menyiksa dirimu seperti ini nak" ujar nenek merasa khawatir dengan kondisi anaknya.


Yang semakin hari semakin lemah,sebab tak ada sesuap nasi masuk kedalam perut,hanya seteguk air saja yang mampu mengisi perutnya jika kembali kosong.


"Ma,jangan kaya gini dong,ayo makan,sedikit ajah demi Lina ya" ujarku mengambil alih piring makan di tangan papa.


Akan tetapi mama tidak bergeming sedikitpun,bahkan mulutnya masih terkatup rapat.


Pandangannya tetap kosong mengarah depan, dengan mata yang sedikit sayup,bahkan kulitnya pun semakin hari semakin pucat dan kering.


Mama yang tadinya diam seketika tertawa dengan suara berat.


"Hahaha...


"Apa kabar sayang,apa kalian masih ingat ke padaku"ujarnya melirik kami secara bergantian.


Kami semua terkejut lalu berdiri,sepiring nasi yang aku pegang kuletakkan di atas meja kecil.


"Tidak ada gunanya kalian membujuk Santi untuk makan, sebab ia berada di dalam pengaruhku." Ucapnya.

__ADS_1


"Ya Tuhan,apakah dia bibi Wati" gumamku yang merasa tidak percaya.


"Iya sayang ini aku bibimu,maaf ya,adikmu Adrian sudah ku jemput terlebih duluh ke alam baka,setelah ini ibumu akan menyusul" ucapnya yang membuat darahku seketika mendidih.


"Dasar wanita iblis" teriak papa langsung menampar pipi mama yang membuatnya menoleh ke arah samping.


Aku dan nenek terkejut melihat reaksi papa. Amarah papa tak bisa di bendung lagi,terlihat dadanya naik turun saat sedang emosi.


"Apa kau tidak puas menyakiti kami ha!,hanya karna ulah ayah waktu dulu, kau menyalurkan amarahmu terhadap anak dan istriku,lebih baik kau cabut saja nyawaku agar kau merasa lebih puas." Teriak papa memasang badan.


Mama langsung menoleh menatap tajam ke arah papa.Bukan mama, tetapi jin kiriman Bibi Wati yang menyerupai dirinya.


"Ada waktunya kau akan menyusul,setelah aku mengambil mereka satu persatu." Jawabnya dengan enteng.


"Cukup!!..tolong jangan sakiti keluargaku lagi bi. ingat! aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja,setelah apa yang telah kau lakukan terhadap kami" bentakku.


Emosiku sudah hampir ke ubun-ubun, seakan-akan ingin segerah di salurkan kepada wanita iblis itu.


"Jika kau ingin menemuiku,datang lah di hutan terlarang,aku akan menunggumu di sana,kita liat siapa yang terlebih duluh masuk ke alam baka aku,ataukah dirimu" balasnya dengan tatapan licik.


"Baiklah, aku akan menemuimu, tetapi hanya satu yang aku minta pada bibi,tolong lepaskan ibuku" ucapku kembali.


"Tenang saja,aku akan melepaskan ibu mu, Tapi ingat,jika kau tidak datang,maka kupastikan ibumu akan segerah menyusul kedua adikmu." ancamnya.


"Baiklah,aku pasti akan datang menemuimu,tapi tolong lepaskan ibu sekarang juga"


Tak lama setelah itu, mama pun kembali kembali sadar,akan tetapi ia seperti orang yang linglung saja.


"Pa,aku laper" ujar mama kepada papa. Dengan senang hati papa pun menyuapi mama.


Terlihat mama begitu lahap menikmati makanannya,bahkan sampai nambah tiga piring sekali gus.


Kami pun merasa senang melihat mama sudah kembali seperti semula.


Aku tidak merasa khawatir lagi terhadap mama,tetapi aku harus menempati janjiku untuk menemui wanita iblis itu.


"Apa kamu yakin ingin menghadapi wanita itu" tanya papa menghampiriku yang duduk di bale-bale.

__ADS_1


"Iya Pa,aku hanya minta do'a dari kalian,agar aku bisa membalaskan apa yang sudah ia lakukan selama ini ,sudah cukup kedua adikku ia ambil secara paksa. Dan sekarang tidak lagi,aku akan mengakhirinya dengan nyawa di balas nyawa" jawabku dengan mantap.


__ADS_2