
33.
Tetapi itu tidak berlangsung lama,mereka merasa kemampuan Lina hanya sebatas itu saja.
Lina bernafas lega,hatinya tak henti-hentinya berterimah kasi kepada ALLAH karna sudah menolongnya.
"Terimah kasih Ya Robbi,engkau telah menolongku" gumamnya dengan nafas yang terengah-engah.
Setelah nafasnya kembali teratur,ia mendongkak kearah mereka semua dengan tatapan yang tajam.
"Baiklah,jika kalian ingin bermain denganku,maka aku akan melayani kalian dengan sepenuh hati" ucap Lina yang menatap sinis kearah mereka.
"Jangan sombong kamu,baru saja bisa melepaskan selendang sudah merasa angkuh,kamu pikir kamu sehebat apa" timpal Wati dengan sinisnya.
"Aku tidak merasa hebat ataupun angkuh,hanya saja ALLAH yang sudah menolongku serta memberikanku kekutan untuk membalas atas apa yang telah kalian perbuat selama ini" timpal Lina yang sudah bersiap- siap melawan jika salah satu dari mereka mulai menyerangnya.
"Kita tidak bisa menyepelakan anak itu,Sebaiknya kita harus berhati-hati" bisik Wati kepada Lastri.
Lastri mengangguk tanda setujuh.
"Lalu,apa yang akan kita lakukan ka?"
Jawab Lastri.
"Ini sudah waktu yang tepat kita bermain dengannya. Hei! Kalian semua, bersiaplah" ucap bibi Wati terhadap pasukannya.
"Janganlah kamu merasa takut melawan mereka,ingat, ALLAH akan selalu ada bersamamu" bisik suara seorang pria, yang entah dari mana asalnya.
"Aku tidak akan merasa takut ataupun gentar melawan musuhku" balasnya melalui batin.
"Baguslah kalau begitu,mintalah kepada ALLAH agar kamu di berikan kekuatan,untuk dapat melawan mereka" jawab bisikan itu kembali.
"Apa kamu sudah siap sayang" tanya bibi Lastri menatapnya dengan senyum menyerigai.
"Aku suda siap jika kalian ingin segerah bermain denganku." Jawab Lina.
Ruangan yang tadinya tidak begitu luas,Kini meluas dengan sendirinya,seakan-akan dindingnya berjalan mundur.
Belum lagi pasukan jin bibinya yang sekejab mata sudah hadir mengelilinginya. Dimana masing-masing dari mereka memegang sebuah pedang yang runcing dan tajam.
Lina tidak merasa goyah sedikitpun,Ia sudah berserah diri kepada ALLAH,sambil membacakan beberapa ayat yang ia hafal dan yakini bisa memberikan kekuatan kepadanya untuk melawan musuhnya.
Lina yang tadinya masih fokus membaca doa, kini terperanga dengan apa yang dilihatnya,ia tidak menyangka jika di tangannya sudah terdapat sebuah pedang yang tajam dan berkilau.
"Itu adalah senjatamu untuk melawan musuhmu" Ucap suara itu yang kembali berbisik.
"Terimah kasih atas bantuannya" balas batinnya.
Ia memainkan pedangnya bersiap-siap untuk menyambut musuhnya.
__ADS_1
"Habisi dia" perintah Wati kepada pasukannya
Satu persatu pasukan bibinya mulai mendekat dengan cara berlari.
"Aku akan membalas perbuatan kalian atas kematian adikku" teriak Lina.
"Hiya..
"Shing...
"Shing....
Pertarungan tak dapat di elakan, Lina merasakan seperti ada kekuatan yang merasuki tubuhnya yang membuat ia semakin brutal untuk melawan.
Lina tidak gentar sedikitpun walaupun seribu lawan satu.Di mata Lina,mereka semua bagaikan semut tak berdaya,walapun pasukan bibinya begitu kuat dan banyak.
Sementara kedua bibinya hanya menonton pertarungan seru ini,dari arah kejauhan.
"Shing....
"Shing...
Suara pedang terus berbunyi saling beradu. Lina bagaikan petir yang hanya sekejap mata dapat menjatuhkan lawannya dengan cara seketika.
"Hiya..
"Srut...
Kedua bibinya terkejut serta panik,melihat Lina berhasil menjatuhkan semua pasukannya dalam tempo yang singkat.
"Bagaimana ini kaka,kita akan lenyap di tangannya". Pekik Lastri yang mulai panik.
"Habisi ibunya" perintah Wati dengan liciknya. Lastri tidak mengetahui bahwa ia juga hanya sebuah umpan dari kakanya.
"Baik ka" Lastri segerah berkomat kamit membaca mantra.
Santi yang tadinya tidak sadarkan diri,kini matanya terbuka dan terbelalak serta lidah menjulur keluar seakan-akan ia seperti sedang di cekik seseorang.
"Sebentar lagi ibumu akan mati" pekik wati yang menghadapi Lina.
"Tidak...
Teriak Lina melihat mama dalam keadaan merontah,dengan segerah ia melayangkan pukulan kedada kanan Wati yang sudah menjadi manusia se utuhnya.
"Bung...
Wati terjatuh di atas tanah yang mana kedua lututnya memopang badannya,dengan sebelah tangan memegang dadanya yang terasa amat sakit.
Sementara Lina berlari menghampiri Lastri yang terus berkomat kamit.
__ADS_1
"Syut....
Pedang yang ada di tangan kiri Lina segerah ia tusuk di punggung Bibi Lastri,hingga menembus mengenai jantungnya.
Lastri yang tadinya berkomat-kamit langsung terdiam,pandangannya lurus kedepan,tak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya. hanya darah serta lidah yang ikut menjulur keluar.
"Ini pembalasannya atas kematian adikku" ucap Lina dengan amarah dan dendam.
"Sret...
Dengan kasarnya Lina menarik pedang yang menusuk punggungnya,seketika Lastri terjatuh kearah samping dengan mata terbelalak serta lida yang masih menjulur keluar.
Sedangka Wati berhasil kabur dengan cara kembali ke alam nyata.
Lina langsung menghampiri mama dalam ke adaan tak sadarkan diri.
"Ma, bangun ma,ini lina ma" ucap Lina seraya menepuk-nepuk pipi mama dengan rasa khawatir yang mulai menghantui.
"Ma,ayo bangun,tolong sadarlah Ma." Ucap Lina kembali, sambil terus menepuk pipi mama dengan pelan.
Perlahan mata mama mulai terbuka dengan mata yang sedikit sayup.
"Lina... "
"Iya ma,ini Lina" jawab Lina yang langsung memeluk mama.
Mereka menangis sejadi-jadinya atas apa yang sudah mereka alami.
"Sudah waktunya kalian pulang,masuklah kalian ke cahaya itu, dan jangan perna menoleh kearah belakang" ucap suara itu yang lagi-lagi entah dari mana asalnya.
Kini cahaya yang ada di depan mata mereka semakin lama semakin membesar.
"Ayo ma,kita pulang" ajak Lina yang membantu mama berdiri.
Mereka mendekati cahaya itu yang ternyata sudah terdapat sebuah pintu, untuk kembali ke alam mereka.
"Lina dan mama langsung kembali sadar secara bersamaan, serta nafas yang sedikit terengah-engah.
"Alhamdulilah akhirnya kalian sudah kembali" ucap seorang ustad yang berdiri di antara ranjang keduanya.
Rasa syukur dan haru begitu menyelimuti keluarga imran.
Tiada henti-hentinya Imran mengucapkan terimah kasi kepada Ustad dan juga dokter Ardi yang sudah berjasa mau menolong mereka.
*****
Sementara di rumah Bu Wati,ia segerah mengobati dirinya sendiri akibat pukulan Lina yang begitu cukup kuat.
"Aku bersumpah, akan kembali untuk membalaskan dendamku" ujarnya dengan tangan yang mengepal.
__ADS_1
Sedangkan Lastri sudah terkapar di atas lantai dengan keadaan tak bernyawa.
"Akhirnya kau mati juga,dasar wanita bodoh"pekik Wati melihat Lastri yang sudah tidak bernyawa.