
Sang Nenek yang baru saja tiba dari kebun yang tak jauh dari belakang rumah, kini melihat sang cucu sudah pergi bersama Pa Samsul.
"Apa Lina mau kerumah sakit ? Kenapa ngga pamit" ucapnya melihat punggung sang cucu sudah semakin menjauh.
Nenek memutuskan naik ke dalam rumah sambil menenteng keranjang yang berisikan ubi jalar yang baru saja ia panen.
****
Saat di perjalanan kembali kerumah sakit, ,kini Pa Samsul merasakan beban berat saat membonceng Lina, seperti membonceng seseorang yang bertubuh besar.
" Nak Lina, kalau boleh tau!! Timbangan kamu berapa ?" Tanya pa samsul sedikit ragu.
"Timbangan saya bulan kemarin 47 ,emangnya ada apa ya Om? Jawab Lina dan kembali bertanya.
"Engga, cuman nanya,lalu tas ransel yang kamu bawa isinya apa ? Tanya pa samsul kembali
" Ada boneka beruang kesayangan Lisa,kebetulan Lisa kalau setiap hendak mau tidur, pasti boneka ini akan selalu ada di sampingnya, makanya Lina memutuskan untuk membawanya" Jawab Lina panjang Lebar.
"Ouh.." jawabnya singgat sambil menggangukan kepala.
Saat melirik Kearah belakang melalui kaca spion,Pa Samsul terkejut melihat, sesosok kepala tampa badan bertengger di bahu Lina, dengan wajah yang rusak serta Mata yang hampir copot dari tempatnya,belum lagi Lidahnya panjang dan berwarna merah.
"Om, awaaas!!! ...
"Bungg.....
Motor yang di kendarainya kini menabrak pohon kelapa.
"Aduhh!! Sakit"ucap Lina menahan rasa sakit pada pinggagnya.
"Apa pinggang kamu sakit?, om minta maaf ya, om benar-benar ngga sengaja nabrak pohon" ucap Pa samsul meminta maaf sambil membantu Lina untuk berdiri.
"Ngga apa-apa om, cuman sakit sedikit,entar lagi juga sembuh " jawab Lina sambil mengibas roknya yang agak sedikit kotor.
"Syukurlah, sekali lagi om minta maaf ya,om benar-benar ngga sengaja" ucap pa Samsul lagi,ia merasa bersalah karna sudah membuat Lina terjatuh.
__ADS_1
"Iya!! ngga apa-apa om, ngga perlu minta maaf " jawab Lina yang tetap tersenyum.
Pa samsul melihat kondisi motornya tidak mengalami kerusakan,hanya ada beberapa goresan yang terdapat pada badan motor.
Kini mereka kembali melanjutkan perjalanan kerumah sakit, dan juga Pa samsul tidak lagi merasakan beban berat pada jok belakang,malahan sekarang terasa sedikit lebih ringan.
"Ya Allah, Apa yang tadi aku lihat itu kuyang? Tapi kenapa ia mengikuti Lina, apa ada kaitannya dengan peristiwa yang di alami Lisa sekarang ini? batin pa samsul yang mulai bertanya-tanya,sambil sedikit mempercepat laju motornya, sesekali Ia juga melirik kearah kaca spion,untuk memastikan bahwa sosok tadi tidak lagi bertengger di bahu Lina.
ia tidak menceritakan kepada Lina apa yang sempat dilihatnya tadi, ia khawatir jika Lina akan merasa takut mendengar hal ini.
*****
Di sisi lain, papa mama dan juga bidan yuli yang sudah lama menunggu kedatangan mereka semakin gelisa, sebab sudah hampir sejam Pa Samsul pergi akan tetapi belum ada tanda-tanda mereka tiba.
" Pa!!! Kenapa pa samsul dan Lina belum juga tiba, apa terjadi sesuatu pada mereka ?" tanya bu santi kepada sang suami dengan sedikit cemas.
"Jangan berkata seperti itu Ma!!,mungkin mereka sedang di perjalanan menujuh ke sini" jawab Pa Imran yang mondar-mandir di depan pintu UGD.
"Sabar ya bu,sebentar lagi mereka pasti datang, ibu jangan terlalu khawatir, apa lagi dengan kondisi ibu yang sedang hamil,takutnya akan berpengaruh kepada sang bayi. " ucap bidan Yuli sembari menenangkan.
Bu santi hanya terdiam mendengar penuturan sang suami sembari mengangguk.
Tak berselang lama mereka berbincang, kini orang yang mereka tunggu akhirnya tiba, Lina sedikit berlari menghampiri kedua orang tuanya dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan.
"Alhamdulilah akhirnya kamu datang juga" ucap sang mama.
"Gimana ke adaan Lisa Ma,Pa,? Apa dia baik-baik saja kan? Tanya Lina dengan penuh khawatir terhadap sang adik.
papa pun langsung menjelaskan apa penyebabnya ia di bawa kesini.
Lina yang mendengar penuturan papa ,langsung setuju untuk mendonorkan darahnya kepada sang adik, akan tetapi,terlebih duluh Ia harus melewati beberapa pemeriksaan sebelum mendonorkan darah.
Setelah melewati beberapa pemeriksaan,akhirnya ia bisa menjadi pendonor.
Sudah hampir 30 puluh menit mentrafusi darah,kini ia sudah mulai merasakan efek lemas hingga pusing berkunang-kunang. Sesekali Lina memijat pelipisnya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah merasakan pusing?" tanya sang dokter yang berperawakan tinggi dan juga tampan belum lagi kedua matanya sedikit cipit serta memiliki hidung yang mancung.
Siapa saja melihatnya pasti kelepek-kelepek bak seperti ikan tanpa air.
"I-iya dokter" jawab Lina sedikit gugup.
" Nanti setelah ini kamu harus istrahat,perbanyak minum air putih serta rajin berolah raga dan jangan lupa makan makanan yang mengandung zat besi" ucap sang dokter dengan senyum ramah,yang membuat ketampanannya semakin terpancar .
Lina hanya mengangguk, mendengar nasehat sang dokter.
Setelah memberikan nasehat,seketika sesosok wanita serba hitam lansung hadir berdiri tepat di samping Lina dengan mata yang tajam melotot kearah Lina.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya sang dokter melihat penampakan, akan tetapi sudah sering bahkan di bilang setiap hari.
"Siapa kamu ?, sepertinya kamu menyimpan dendam terhadap anak ini" tanya sang dokter melalui batin.Ia tidak bebicara melalui suara langsung,takutnya terjadi hal yang tidak di inginkan seperti kesurupan.
"Kamu tidak perlu tau siapa aku, dan kamu jangan sekali-kali mencampuri urusanku" ucap sesosok itu, dengan penuh api amarah.
"Aku hanya bertanya dan bukan mencampuri urusanmu" jawab sang dokter melalui batin.
"Mereka adalah musuhku,aku yang membuat adiknya jatuh sakit,setelah itu aku akan menghabisinya.Hahaha..."jawab sosok itu sambil tertawa puas seketika langsung menghilang.
"Musuh?? apakah keluarga ini memiliki musuh??," aargh... Kenapa aku harus kepo dengan urusan pasien,lagi pula itu urusan mereka" Ucap batinnya sambil mengalihkan perhatiannya terhadap berkas pasien yang di pegangnya.
Setelah usai melakukan tranfusi darah sebanyak dua kantong,kini ia terbaring lemas di atas ranjang pasien sambil di temani sang mama.
Saat mama berpamitan masuk untuk ke toilet,kini Lina melihat empat orang suster masuk sambil berjalan pelan menghampirinya, walaupun mata Lina sedikit berkunang-kunang akan tetapi,ia masih melihat jelas empat suster itu,dimana pakaian mereka berumuran darah sambil tersenyum menyerigai kearahnya.
"Hahahaha..... Empat orang suster yang sudah di hadapannya seketika tertawa terbahak-bahak melihatnya,dimana mulut mereka kini mengeluarkan darah serta belatung.
Sontak Lina langsung menutupi kedua telinganya,karna tawa itu begitu menggelegar di seluruh ruangan hingga menusuk pendengarannya.
"Hahaha... Kau akan mati" ucap mereka serempak yang membuat Lina semakin ketakutan disertai badan yang ikur bergetar.
Ucapan itu terus terulang-ulang hingga membuat Lina berteriak.
__ADS_1
"Aaa....Tidaaaak....