Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.

Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.
41. menghilangnya mama


__ADS_3

Akupun merasa bersyukur setelah mendapatkan bantuan dari beliau.


Seusai berbincang,kami pun pamit pulang.


Di perjalanan pulang aku tiada henti-hentinya bersyukur,tinggal satu lagi tujuanku yaitu,menemui wanita itu dan menghadapinya.


Hampir setengah jam di perjalanan pulang,dari kejauhan sudah nampak nenek terlihat mondar mandir di halaman rumah.


Motorku pun memasuki are perkarangan rumah,yang di susul mobil dokter Ardi mengekor dari arah belakang.


Terlihat wajah nenek agak sedikit panik menghampiriku.


"Lin,mama kamu dari tadi ngga ada" ucapnya saat aku turun dari motor.


"Lah,Emangnya mama kemana nek, bukannya lagi panen ubi bersama papa" timpalku. sambil turun dari motorku.


"Ngga ada,papa kamu bilang dari tadi itu mama kamu ngga ada nyusul" jawabnya.


"Ya udah, ayo kita cari,mungkin kekebun orang lain" timpal dokter Ardi menghampiri kami.


Kamipun mencari mama di are perkebunan sesekali pula kami memanggilnya.


"Ma... Mama di mana" teriakku.


"Santi... Santi... "Teriak nenek dan papa secara bersamaan.


Tetapi tak ada sahutan dari mama.


"Ya ALLAH,kemana perginya mama, ngga mungkin mama hilang gitu ajah"


Gumamku yang terus mencari.


Bahkan sudah hampir setengah jam kami mencarinya,namun hingga kini tak ada tanda-tanda mama di temukan. Terpaksa Kami memutuskan untuk kembali kerumah.


Setibanya halaman dirumah pun, aku tiada henti-hentinya bergumam sambil mondar mandir bagaikan setrika. Sesekali kedua mataku melirik ke area perkebunan,dan berharap akan ada mama muncul dari arah sana,namun hasilnya nihil.


"Pa,kemana sih perginya mama,kok ngga biasanya mama seperti ini" tanyaku pada papa.


"Kita tunggu saja duluh,Apa mungkin mama sedang kewarung" ucap papa yang menenangkan ku.


Sementara hati Imran pun,tidak sepenuhnya yakin dengan ucapannya.


"Kayanya ngga mungkin deh Pa,masa pergi kewarung dengan baju yang di pakai turun keladang " timpalku tak yakin.

__ADS_1


Imran hanya menghela nafas kasar mendengar penuturan anaknya,tetapi ia juga bingung harus mencari kemana.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang,tidak mungkin kita hanya diam seperti ini,apa sebaiknya kita laporkan saja kepada pihak berwajib" timpal nenek.


"Nek, sebaiknya kita tunggu ajah duluh sampai siang,jika memang belum pulang,maka kita akan laporkan kepada pihak berwajib" timpal dokter Ardi.


Terlihat nenek begitu pasrah,begitu pun dengan papa,mereka mengangguk tanda setujuh.


Kamipun tak bisa berbuat apa-apa hingga menunggu waktu siang nanti,


Harapan kami mama akan baik-baik saja dan akan segerah pulang.


Akan tetapi pikiranku kini mengarah kepada Bibi Wati.


"Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan bibi Wati ya" ucapku,yang sontak membuat nenek mendongkak kearahku.


"Jangan berkata seperti itu Lin,nenek takut" ujar nenek dengan sura lirihnya. Nampak jelas di matanya rasa takut yang begitu mendalam. Karna ia tau bagaimana kejamnya wanita itu.


"Bukannya begitu nek,tapi entah mengapa pikiran Lina mengarah kesana" timpalku.


"Jika memang seperti itu,apa yang akan kita lakukan sekarang" timpal papa",nampak ada kekesalan terpancar di matanya.


"Kami sudah menemui ustad zein,sore nanti kita akan bersama-sama berangkat ke hutan itu" timpal dokter Ardi.


"Saya tidak minta apa-apa,saya hanya membantu sebisa mungkin,selebihnya kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa"jawabnya.


Papa mengangguk mengerti dengan sedikit senyum.


"Hahaha..." nenek yang duduk di bale-bale sambil menunduk, seketika tertawa terbahak-bahak.


Sehingga membuat kami beranjak dari tempat duduk dan berdiri di hadapan nenek.


"Apa kalian sedang mencari Santi?hmm..maaf ya,dia sekarang berada bersamaku " ucap nenek yang sudah di rasuki oleh jin.


"Jangan sakiti ibuku,tolong kembalikan dia"ucapku yang memohon.


"Ck.. tidak semudah itu sayang.aku akan melepaskannya setelah kau datang ke padaku" timpalnya.


"Dasar wanita licik,aku sudah katakan bahwa aku akan menemuimu,mengapa kau tidak bisa bersabar sedikit pun"bentakku dengan kesal.


"Aku memang tidak bisa bersabar,Karna aku ingin segerah mencabut nyawamu" bentaknya yang sempat melotot ke arahku.


lalu kembali keluar dari tubuh nenek,

__ADS_1


Sehingga membuat nenek agak sedikit pusing,mungkin karna tak kuat di rasuki oleh jin.


Waktu terus berjalan,jam sudah menunjukan pukul 14: 30. Kami sudah bersiap-siap untuk berangkat,sementara nenek tetap tinggal dirumah,karna sebentar lagi paman Yanto akan segerah tiba.


"Semoga kalian selalu berada dalam Lindungan ALLAH,pergi dalam ke adaan baik,pulang dalam ke adaan tidak kurang sesuatu apa pun" ucap nenek.


Kami pun mengaminkan,lalu menyalami tangannya dengan takzim.


Setelah itu mengucapkan salam,terlihat kedua mata nenek mulai berkaca-kaca menatap ke arahku, dengan segerah ia menyekanya,lalu kembali tersenyum kearahku sembari melambaikan tangan.


Aku pun segerah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping papa di jok bagian belakang.


Kini mobil pun sudah melaju menyusuri jalan setapak menujuh kediaman Ustad Zein.


Terlihat dokter Ardi begitu fokus menyetir mobilnya dengan sedikit mempercepat lajunya. Tak ada percakapan di antara kami selama di perjalanan,mungkin fokus dengan pikiran masing-masing.


Apa lagi dengan diriku,jantungku tiada hentinya berdetak kencang,karna sebentar lagi aku akan menghadapi musuhku,yang mungkin akan lebih kuat dari pada sebelumnya.


Hanya beberapa puluh menit,mobil pun masuk di perkarangan rumah milik ustad Zein, nampak ustad Zein sudah menunggu kami di teras rumahnya dengan di temani sang istri.


Setelah memakirkan mobil,dokter Ardi langsung segerah turun,sementara aku dan papa di suruh menunggu di dalam mobil saja.


Tak menunggu waktu lama,keduanya kini sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di jok depan.


Mobilpun kembali melaju di jalan raya,setelah keluar dari perkarangan rumah milik ustad Zein.


Dan sekarang menujuh ke hutan terlarang yang berjarak sekitar 50 km.


Kami menyempatkan diri melaksanakan sholat ashar terlebih duluh,sebelum kembali melanjutkan perjalanan.


Perjalanan kali ini sudah agak memakan waktu,sebab jalan yang kami lewati benar-benar rusak parah. Sehingga waktu magrib pun sudah tiba.


Kami memutuskan berhenti sejenak, untuk melaksanan sholat mangrib di surau yang ada di kampung ini,yang kebetulan tidak jauh dari lokasi kami berada.


Saat kami memasuki surau,semua jama'a menatap tajam ke arah kami,begitupun dengan jama'a wanita.


Kami tetap tersenyum ke arah mereka,walaupun mereka tidak membalas senyuman kami.


Aku menggelar sejadah di samping wanita tua,bisa di perkirakan berusia Sekitar 70 tahun,dia begitu ramah terhadapku saat aku berada di sampingnya..


Dan anehnya dari tadi saat memasuki surau ini,aku terus mencium bau pandan seolah-olah para jama'a di sini menggunakan parfum panda,entahlah,aku juga tidak tau jika ada parfum yang berbau pandan.


Kami pun melaksanan sholat mangrib berjama'a dengan kusyu,yang di imami oleh ustad Zein.

__ADS_1


__ADS_2