Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.

Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.
38. lukisan Adrian.


__ADS_3

Di perjalanan pulang Adrian terus berceloteh,aku tidak menghiraukannya bahkan, pikiranku masih terus mengarah dengan kejadian di tempat parkiran tadi.


"Siapa pelakunya ya,anehnya ko ngga ada yang liat" gumamku sendiri yang tidak habis pikir.


"Ka,ka Lina" ucap adrian yang terus memanggilku.


"Iya,ada apa de"


"Setelah kake itu memberikan adrian uang, ia mengatakan bahwa Adrian sebentar lagi akan pergi ke surga" ucapnya .Sontak aku mengrem motor dengan secara mendadak.


"Astagfirullah"ucapku yang benar-benar terkejut karna ucapannya.


"Kenapa ngrem mendadak mba,untung ngga saya tabrak" teriak seorang sopir truk dari arah belakang.


"Maaf pa,ngga sengaja" jawabku. terlihat sopir itu hanya menggelengkan kepala kearahku.


"Kaka kenapa ngerem mendadak,untung kita ngga ketabrak " ujar adrian mendongkak kearahku.


"Iya de kaka ngga sengaja,soalnya ucapan kamu bikin kaka kaget sih" balasku yang kembali melajukan sepeda motorku di jalan raya.


"Emangnya ada yang salah dengan ucapan ku,lagian itu yang di ucapkan kake padaku " timpalnya kembali.


"Siapa sih kake itu,beraninya berkata seperti itu kepada Adrian, seakan-akan ia malaikat pencabut nyawa "batinku dengan kesal.


"Selain itu ada lagi ngga, yang di ucapkan kake " tanyaku kembali. Terlihat adrian hanya menggelengkan kepala.


"Baguslah kalau begitu" gumamku sedikit kesal.


Sesampainya di halaman dirumah,mama pun muncul dari arah dalam dan berdiri di ambang pintu masuk.


Sementara Adrian yang baru saja turun dari motor, gegas ia berlari menaiki anak tangga lalu memeluk pinggang mama.


"Tumben peluk-peluk" tanya mama.


"Adrian harus peluk mama,sebelum Adrian pergi kesurga" jawab adrian setelah melepaskan pelukannya.


Terlihat mimik wajah mama berubah menjadi tak enak.


"Kenapa kamu berkata seperti itu sayang" tanya mama sembari menatapnya.


"Sebab itu yang di ucapkan kake kepada Adrian,bahwa sebentar lagi Adrian akan pergi ke surga" jawabnya dengan begitu polos.


Mama langsung melirik ke arahku,terlihat raut wajah mama menyimpan banyak tanda tanya di sana.


"Lina,siapa kake yang di maksud Adrian"tanya mama.


Aku yang baru saja berdiri di belakang Adrian dengan menenteng barang belanjaanku,langsung menjelaskan kejadian yang kami alami di pasar.

__ADS_1


Terlihat mama menghela nafas kasar saat mendengar penuturanku.


Dadanya terlihat naik turun menampakkan kecemasan di sana


"Siapa sebenarnya kake itu? Lalu siapa yang menyiram motor menggunakan darah? ".Gumam mama yang terdengar olehku.


"Ma,sepertinya ini sudah di rencanakan seseorang,atau jangan-jangan....."


"Atau jangan-jangan ini kelakuan bibi Wati,apa benar wanita itu sudah kembali,mama takut kejadian sebelumnya akan terulang kembali" timpal mama dengan raut wajah yang begitu ketakutan. Nampak kenangan buruk tujuh tahun yang lalu belum bisa terobati.


"Ma,apa pun yang akan terjadi,Lina tetap akan melindungi kalian,walaupun nyawa Lina sendiri taruhannya" ucapku seraya menangkan.


"Jangan berkata seperti itu Lin,mama tidak ingin kehilangan yang ke dua kalinya"timpal mama menatapku dengan lekat.


Nampak kedua matanya mulai berkaca-kaca,gegas ia menyapunya dengan ujung jari.lalu mengambil barang belanjaan dari tanganku dan berbalik menujuh arah dapur.


"Ka,ada apa dengan mama,ko sepertinya nangis" tanya Adrian sambil menatap punggung mama..


"Mungkin mama kelilipan, ya udah sana,kamu istrahat." pintaku padanya,ia pun mengangguk dengan patuh.


••••


Sudah tujuh tahun wati mempedalam ilmu hitam bersama dengan Kusumo. Sekaligus lelaki itu sudah menjadi suaminya.


Awalnya ia menolak menjadi istri kusumo,akan tetapi karna ambisinya ingin menguasai ilmu sang guru,akhirnya ia pun setuju.


"Malam ini terakhir kalinya kau melakukan ritual,agar ilmu yang aku turunkan kepadamu akan semakin kuat melekat pada dirimu." ujar Kusumo.


"Baiklah" jawab wati singkat.


Dua pasukan yang di tugaskan wati seketika hadir di hadapan mereka.


"Bagaimana dengan tugas kalian, apa sudah beres" tanya Wati yang sedang duduk bersila di atas batu besar.


"Kami sudah melakukan sesuai perintah guru" jawab keduanya.


"Bagus,kita tinggal menunggu waktu yang tepat, kapan kita akan mulai bermain" timpalnya dengan senyum licik.


••••••


Malam harinya Adrian merasakan kantuk yang luar biasa.


terlihat ia sudah beberapa kali menguap saat sedang melukis.


"Kalau udah ngantuk ayo tidur" pintaku dengan lembut pada Adrian.


"Hem.. jawab Adrian singkat, lalu menujuh ke arah kasur serta membaringkan tubuhnya dengan posisi membalakangiku.

__ADS_1


Aku pun menyelimuti sebagian tubuhnya,lalu mengecup keningnya.


Setelah nenek meninggal satu tahun yang lalu, Adrian lah yang saat ini menemani ku tidur.


Kini aku penasaran dengan lukisan adrian,yang mana sendari tadi ia terus melarangku melihat apa yang ia lukis di atas kertas putih.


"apa yang di lukis adrian ya," gumamku sambil menarik kertas HVS yang berada di atas meja belajar.


Aku tersentak kaget melihat hasil lukisannya. Yang mana disana, terlukis seorang anak laki-laki seperti melambaikan tangan kearah ayah,ibu dan kaka perempuannya.


Ada perasaan tak enak saat memandang lukisan itu.


"Kenapa perasaanku ngga enak melihat lukisan Adrian,seakan-akan ini akan menjadi nyata " ku sapu keringat yang mulai membasahi pelipisku karna rasa takut mulai menghantui.


Entahlah,seperti apa perasaanku saat ini,ada rasa takut,sedih semuanya sudah bercampur menjadi satu.


"Adrian udah tidur" tanya mama yang tiba-tiba menghampiri, lalu mendekati adrian serta mengecup keningnya.


"Iya ma" jawabku singkat,lalu mataku kembali memandang kertas lukisan yang aku pegang.


"Itu lukisan Adrian ya" tanya mama.


Aku hanya megangguk seraya memperlihatkannya kepada mama.


Raut wajah mama pun seketika berubah yang tak bisa ku artikan,sesekali mama nampak menelan savilanya dengan begitu susah payah.


Lalu mama kembali keluar dengan membawa lukisan itu,tanpa sepata kata pun.


••••


Pagi sudah menyambut,suara kokokan ayam sudah beberapa kali terdengar,namun hingga kini Adrian belum juga terbangun,bahkan posisinya masih sama seperti semalam.


"Adrian ayo bangun, sekolah"ujarku yang sedikit menggoyangkan bahunya.


"Adria,ayo bangun" pintaku kembali,namun Adrian tak bergeming sedikitpun.


Perasaanku mulai tak enak,aku pun membalikkan badan Adrian yang ternyata wajahnya sudah pucat pasih.


Aku mengangkat jari telunjukku dengan sedikit bergetar,ku letakkan telunjukku di bawah hidung Adrian akan tetapi,tak ada nafas hangat yang keluar dari sana.


Gegas ku tempelkan pendengaranku kedada kirinya,namun tak ada detak jantung yang terdengar di sana.


"Adrian..." teriaku histeris,ku gendong tubuh adrian yang sudah kaku,dan membawanya lari keluar,lalu berdiri di ambang pintu utama,seraya memanggil orang tuaku


"Mama...


"papa...

__ADS_1


__ADS_2