Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.

Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.
27. Lina yang kerasukan.


__ADS_3

27.


Entah jam berapa Lina terjaga dari tidurnya, karna mendengar suara langkah kaki yang mondar mandir di dalam ruangan.


Lina yang tidur di lantai beralaskan tikar, sedikit mengangkat kepala melihat kearah Lisa dengan pandangan yang masih buram, Ia melihat seperti sebuah kepala yang melayang-layang tepat diatas lisa.


"Ya Tuhan, apa itu ?" ucap Lina bangkit dari tidurnya dan duduk sambil mengucek kedua matanya untuk memastikan apa yang di liatnya benar-benar tidak nyata.


Kini apa yang dilihatnya sudah menghilang .


"apa yang tadi aku liat itu nyata, atau aku yang sedang berhalusinasi" ucap Lina yang sesekali ia menampar-nampar pipinya sendiri.


Ia tidak tau apakah ia berhalusinasi atau bukan,yang jelas ia seperti melihat sebuah kepala.


Kini angin malam mulai meniup dengan kencang diluar sana,Sehingga masuk melalui fentilasi udara,di saat itu pula Lina merasakan seperti ada yang sedang mengawasi mereka dari pojok sudut ruangan,sehingga membuat bulu kuduk kembali meremang.


Ia menepis rasa takutnya dengan berdzikir, serta kembali memperbaiki posisi tidurNya memiringkan badan kearah kiblat.


Pagi harinya.


Lina sudah bersiap-siap untuk pulang,ia melihat sang adik rasanya sangat berat untuk meninggalkanNya, sebenarnya ingin tetap berada disini akan tetapi,mama sudah menyuruhnya untuk pulang.


"De,kaka pulang dulu, kamu cepat sembuh ya" ucap Lina menatap wajah pucat sang adik yang sedang tertidur .


"Ayo,kita pulang" pinta Paman yang berdiri di ambang pintu masuk.


Linapun menggaguk serta berbalik,dengan cepat tangan Lisa menarik pergelangan tangannya.


Lina berbalik menatap sang adik yang ternyata sudah bangun,mungkin ia mendengar ucapan Lina makanya ia menahannya. Dengan mata yang berkaca-kaca sembari menggelengkan kepala memberi isyarat untuk tidak meninggalkannya.


"Lisa!!! kaka harus pulang,ada mama yang akan menjaga kamu disini" ucap Lina menjelaskan kepada sang adik dengan senyum.


Akan tetapi Lisa merespon dengan menggelengkan kepala serta tatapan yang penuh permohonan.


"Lisa, biarkan Lina pulang,mama ada di sini jagain kamu,sebentar lagi papa juga akan datang " ucap mama yang baru saja keluar dari toilet berjalan menghampiri kami.


Mata Lisa sempat menatap kearah mama,setelah itu ia kembali menatap Lina dengan penuh harap agar tetap berada di sini.

__ADS_1


"Sudah!!ayo" ucap paman menepuk pundak Lina.


Dengan berat hati, Lina melepaskan genggaman Lisa secara pelan dan berlalu meninggalkannya.


"Maafkan kaka de,dengan terpaksa kaka harus pulang" batin Lina yang tidak kuat.


Sempat ada tetesan bening yang menempel di bibir mata Lina,dengan cepat ia menyekanya agar tidak terlihat cengeng.


Belum lagi bisikan semalam masi terus terngiang-ngiang di telinganya,yang membuat ia semakin gelisa meninggalkannya.


"Ya Allah, kutitipkan adikku kepadamu agar engkau dapat menjaganya,lindungi ia dari orang yang berniat jahat kepadanya. Amin." Batin Lina mengucapkan do'a.


Baru saja tujuh meter meninggalkan ruangan, kini sudah terdengar suara teriakan mama.


"Lisaaa..... Huhuhu...


Paman dan Lina segerah berbalik kembali keruangan Lisa.


"Astagfirullah,Lisaa...!!" Teriak Lina yang terkejut melihat Lisa memuntahkan Lumpur hitam.


Paman bergegas berlari keluar memanggil suster untuk menangani Lisa.


Mama menangis semakin histeris melihat apa yang di muntahkan Lisa termaksud diriku.


Suster berserta dokterpun tergopoh-gopoh menghampiri kami.


Terlihat wajah dokter itu sedikit tercengang melihat apa yang di muntahkan Lisa.


Dengan cepat dokter tampan itu meniup ubun-ubun Lisa dengan mengucapkan do'a.


Tak berselang lama Lisa pun berhenti memuntahkan Lumpur bercampur kerikil, hingga pada akhirnya Lisa tak sadarkan diri. Di susul mama yang juga tak sadarkan diri.


Untung paman berdiri di samping mama, dengan cepat tangan paman menahan bobotnya agar tidak terjatuh.


Suster pun segerah membantu paman mengangkat tubuh mama di atas ranjang. Sementara Lina tidak tau harus berbuat apa.


Setelah sekian menit dokter memeriksa keadaan Lisa dan mama,ia menyuruh para suster untuk keluar.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana keadaan mereka" ucap Lina dengan linangan air mata,ia benar-benar lemas serta syok melihat kejadian ini.


Dokter itu sempat tertunduk sebentar mendengar pertanyaan Lina sebelum kembali mendongkak menatapnya.


"Begini!! sebenarnya adik kamu tidak memiliki penyakit medis akan tetapi penyakit di luar medis" ucap sang dokter yang membuat paman serta Lina terkejut mendengar penuturanNya.


"apa maksudnya dokter,memangnya keponakan saya sakit apa ?" Kini paman yang kembali bertanya.


" Sebenarnya pasien sudah terkena sihir dari seseorang yang benci terhadap keluarga kalian" ucap sang dokter dengan pelan tetapi masih terdengar.


"Itu tidak mungkin,Siapa yang sudah melakukan ini?" ucap Lina menggelengkan kepala berjalan mundur menyandarkan punggungnya di dinding.Ia tidak menyangka bahwa ada orang yang berbuat jahat kepada keluarga mereka.


Begitu juga dengan paman yang tidak percaya dengan hal ini,akan tetapi itulah yang sudah terjadi.


"Siapakah orang yang tega melakukan ini? Apakah bibi Lastri?,karna semenjak ia memberikan makanan itu,di pagi harinya tubuh Lisa mendadak panas tinggi serta memuntahkan darah.


"Ya ALLAH,Semoga saja dugaanku ini tidak benar" batin Lina masih belum yakin.


"Sebenarnya dari kemarin aku sudah mengetahuinya,karna Ada sesosok perempuan yang sempat menampakan diri dengan penuh amarah" ucap dokter itu yang belum di ketahui namanya.


"Kenapa dokter tidak mengatakannya" ucap Lina mendongkak kearah dokter.


" Sebenarnya saya ingin mengatakannya,akan tetapi saya urungkan, takutnya tidak ada yang akan percaya dengan ucapan saya" ucap dokter yang berkaca mata itu.


Tiba-tiba kedua bola mata Lina seketika berubah menjadi berwarna hitam pekat. Menatap tajam kearah sang dokter serta kedua tanganNya seakan-akan ingin mencengkram.


Dokter mengetahui kalau itu bukanlah Lina, karna ia sempat melihat ada bayangan hitam seketika masuk ketubuhya.


"Aku sudah katakan, jangan perna ikut campur dengan urusanku,mengapa kau berani mengatakan kepada mereka" ucap sosok itu dengan amarah.


"Saya hanya mengatakan yang seharusnya mereka ketahui,saya tidak tega melihat orang di zholimi dengan cara seperti ini,walaupun saya tidak mengetahui apa penyebab dari semua ini" jawab dokter itu dengan santai.


"Itu tandanya kau sudah berani berurusan denganku" balasnya yang terus menatap tajam.


"Aku tidak perduli harus berurusan dengan siapa,termksud juga dirimu." jawab dokter itu yang tidak gentar dengan ancaman sosok tersebut.


"Baiklah,kau akan bersiapa-siap menerima akibatnya jika sudah berani mencampuri urusanku" ucapnya berjalan pelan kearah sang dokter.

__ADS_1


_____


__ADS_2