
Akhirnya kau mati juga,dasar wanita bodoh"pekik Wati melihat Lastri yang sudah tidak bernyawa.
"Alangkah sebaiknya, aku harus pergi dari kampung ini, sebelum terlambat. Aku tidak ingin mati sia-sia,sebelum Imran dan keluarganya kulenyapkan terlebih duluh" gumam wati yang masih penuh dendam.
Ia berpikir sejenak harus pergi kemana,sebab, ia tidak lagi memiliki keluarga selain ibu dan suaminya.Pikirannya kini tertuju Pada Kusumo, manta gurunya.
"Sebaiknya aku kembali kepada mantan guruku,aku yakin, dia dapat menerimaku kembali,walaupun aku perna membuat ia kecewa dengan perilaku ku" ucapnya dengan yakin.
Tanpa menunggu waktu lama,Wati duduk bersila dengan kedua mata terpenjam, serta bibirnya berkomat kamit membaca mantra, untuk berkomunikasi lewat batin.
Sementara di sebuah hutan terlarang,terdapat sebuah gubuk kecil tempat sang guru yang sedang bertapa,untuk memperdalam ilmu hitamnya.
Hembusan angin sepoi-sepoi masuk melalui cela dinding,membuat kusumo berhenti bertapa.
"Guru" ucap suara itu yang terbawa oleh angin.
"Ada keperluan apa kau memanggilku ?" tanya sang mantan guru dengan nada tak enak.Walaupun ia mengetahui apa tujuan Wati memanggilnya.
"Maaf guru,aku...." ucapannya terpotong.
"Kau ingin kembali,di karnakan gagal menghabisi musuhmu,bukankah,selama ini kau sudah merasa hebat dariku." timpal
Kusumo memotong ucapannya.
"Maafkan aku guru,atas kelancanganku waktu itu,Aku mohon atas kesedianmu menerimaku kembali sebagai muridmu" balas Wati dengan permohonan.
Kusumo berhenti sejenak mendengar penuturan Wati.
"Guru,aku mohon, terima aku kembali sebagai muridmu" ucap wati kembali.
"Baiklah,Tetapi aku memiliki satu syarat,apa kah, kau mau menurutinya ?" Tanya Kusumo.
"Apa pun syaratnya,aku akan menurutinya,asalkan guru mau menerimaku kembali" balas wati.
"Syaratnya,Kau harus bersedia melayaniku di saat aku membutuhkannya" jawab Kusumo,yang membuat wati terdiam sesaat, mendengar syarat konyol dari sang guru.
"Jika kau bersedia, maka semua ilmu yang aku miliki,akan kuturunkan kepadau" ucapnya untuk meyakinkannya.
Wati tidak mempunyai pilihan lain,selain menuruti syaratnya.
__ADS_1
"Baiklah guru, aku akan bersedia melayanimu" jawab Wati tanpa berpikir panjang.
"Datanglah, aku akan menunggumu di tempat pertapaanku." jawab kusumo.
"Baik guru,aku segerah datang" jawab wati.
"Sial,dasar tua bangka,kalau bukan karna ilmumu, aku tidak akan sudih memberikan tubuhku sedikitpun kau cicipi"umpet Wati dengan sedikit kesal.
"Tetapi itu tidak mengapa, asalkan semua ilmu tua bangka itu akan turun kepadaku. Karna, aku tidak bisa hidup tenang, selagi Imran dan keluarganya belum lenyap di tanganku" Gumamnya dengan senyum liciknya,di sertai alis yang sedikit terangkat.
Ia bergegas mengambil barang seperlunya saja untuk bekal di perjalanan nanti.
"Tunggu kedatanganku Imran,aku akan kembali menghancurkan orang-orang yang kau sayangi,termaksud anak mu Lina" ucapnya kembali,dan berlalu pergi dari kampung itu.
******
Lina sudah merasa tenang dan membaik,hanya mama saja yang masih dalam ke adaan lemah.
"Pa imran,kalau begitu saya pamit pulang dulu,lagian, ini sudah larut mala" ucap ustad Zein pamit pulang.
"Iya ustad hati-hati. Sekali lagi,saya ucapkan terimah kasih atas bantuannya" ucap Imran yang lagi-lagi mengucapkan terimah kasih.
Lalu ia keluar dari dalam ruangan bersama sopir pribadinya.
"Ya sudah Pa,saya permisi masuk keruangan,jika terjadi sesuatu,datang saja keruangan saya" ucap dokter Ardi kepada Imran.setelah itu melangkah menujuh keruangannya.
Dokter Ardi memutuskan menginap dirumah sakit,untung saja,ia sudah menyiapkan beberapa pakaian di bagasi mobinya, jika sewaktu-waktu ia terpaksa menginap di rumah sakit.
_____
Setelah selesai sholat fajar,papa memutuskan untuk pulang bersama dengan paman Yanto,mengingat sore nanti,akan di adakan tahlil hari kedua Lisa.
"Santi,aku pulang duluh ya." ucap Imran sepada Santi yang sedang di suapi mama.
"Iya Pa,hati-hati" jawab Santi sedikit mengangguk.
"Ma, aku duluan ya,tolong bilangin ama Lina,entar siang baru di jemput" ucap Imran kepada Sang mertua.
"Iya,kalian hati-hati di jalan," balas ibu mertua dengan senyum.
__ADS_1
Imran dan Yanto pun beranjak keluar dari ruangan Santi. Sedangkan Lina masih bertahan dimusholah rumah sakit,sambil melantunkan ayat suci Al-Qur'an,serta tak lupa pula ia mengirimkan do'a untuk sang adik.
Ada sepasang mata yang terus memantau Lina dari arah jendela,yang berjarak sekitar lima belas meter dari musholah. Dengan bibir sedikit tersenyum.
"Tok...tok...tok...
Dokter Ardi sedikit kaget mendengar suara ketukan dari arah luar,dengan segerah ia menutup gorden jendela ruangannya.
"Masuk." Pinta dokter Ardi yang kembali duduk di kursinya.
Pintupun terbuka,ternyata suster Lina yang sedang membawa satu buah map,yang berisikan data-data pasien yang ia mintai tadi.
"Ini data pasien yang bapak minta" ucap suster Lina menyimpan map itu di atas meja.
"Terimah kasih,kamu boleh keluar" balasnya dengan sedikit senyum.
Suster Lina mengangguk dan beranjak keluar,ia sempat terpanah dengan ke tampanan dokter Ardi saat menyunggingkan senyum di bibir tipisnya.
"Ya ampun,tambah ganteng ajah tuh dokter kalau senyum,bikin hati jadi klepek-klepek." gumamnya setelah keluar dari ruangan dokter Ardi.
Lina yang baru saja keluar dari musholah, memutuskan menujuh ke arah taman rumah sakit, sesampainya disana,ternyata sudah banyak para pasien di temani kerabatnya, menikmati mata hari pagi dengan cara menjemur.
Lina duduk di kursi kayu panjang,matanya kini tertuju pada kedua gadis kecil yang kembar.kedua gadis itu sedang asik menyuapi satu sama lain dengan sepotong roti .
Lina kembali teringat dengan kenangan manis Sepuluh tahun yang lalu,dimana ia perna menyuapi Lisa begitupun sebaliknya.
"Ka, ternyata enak ya,kue buatan bibi" ucap Lisa di kala itu, setelah aku menyuapinya.
"Iya, enak bangat,nanti kita suruh bibi buat lagi ya" balasku mengunyah kue yang ia suapi kemulutku.
"Wah,ternyata kalian suka ya,kue buatan bibi. Coba dong kasih nilai,agar bibi semangat lagi buatnya" ucap bibi Lastri menghampiri kami di kala itu.
"Iya,soalnya kue buatan bibi enak bangat,aku kasi nilai seratus deh, buat bibi" jawab Lisa dengan jujur.
"Sama aku juga" balasku yang tak mau kala.
"Makasih sayang,nanti bibi buatkan lagi kue buat kalian yang lebih enak dan juga banyak" Jawab Bibi Lastri yang membuat kami berdua lebih girang.
Tak di sangka,kenangan indah itu membuatnya meneteskan air mata,kini, orang yang selalu menemaninya bercanda gurau sudah tiada,akibat ulah kedua bibinya sendiri.
__ADS_1
"De,kaka rindu di saat kita bersama,apa kamu juga merasakan hal yang sama" ucap batinnya.