
Seusai melaksanakan sholat mangrib,segerah kulipat mukenaku lalu memasukannya ke dalam tas milikku.
"Maaf mau tanya,emang tujuannya kemana Cu" tanya nenek yang berada di sampingku, yang juga sibuk melipat mukenanya.
"Tujuan saya mau kehutan angker nek" jawabku jujur,sontak semua para jama'a wanita menoleh kearahku dengan tatapan tajam.
Ada perasaan risih,saat mereka menatapku seperti itu, tetapi aku tetap terlihat biasa-biasa saja,bahkan aku tetap tersenyum rama ke arah mereka.
Lagi-lagi mereka tidak membalasnya,bahkan mereka kembali berceloteh satu sama lain
"Emangnya ada tujuan apa kamu kesana" tanya ia kembali menatapku dengan lekat.
"Ada masalah yang harus saya selesaikan di sana nek" ujarku.
"Ouh... Ya udah kamu hati-hati,jangan lupa minta perlindungan dari ALLAH" jawabnya sedikit berbisik.
Akupun mengangguk lalu berpamitan pergi.
Sementara jama'a yang lainnya pun sudah mulai bubar satu persatu.
Kami kembali melanjutkan perjalanan ke hutan angker, yang kini berjarak satu kilo meter dari kampung yang sempat kami singgahi,itu berarti tidak akan lama lagi sudah sampai di tempat tujuan.
Di sepanjang perjalanan menujuh lokasi, kami tidak lagi melihat rumah parah penduduk berdiri di tepi jalan.
Yang ada hanya perkebunan jagung dan pisang milik warga lah yang menghiasi perjalanan menujuh kearah hutan.
Dari kejauhan sudah nampak asap putih dan tebal menutupi jalanan yang kami lalui.
"Sebaiknya Kita berhenti di sini saja" ucap Ustad Zein. Mobil pun berhenti di tengah jalan.
Kami pun segerah turun dari dalam mobil,nampak suasana di sekitar perbatasan antara kebun dan hutan begitu sunyi dan gelap.
Sekilas mataku menangkap bayangan hitam terbang menujuh ke area hutan, yang kini hanya berjarak 100 meter dari tempat kami berdiri.
Suasana di sekitar pun langsung berubah seketika,seakan-akan sudah ada ribuan pasang mata sedang mengawasi kedatangan kami,sehingga bulu kudukku tiada hentinya meremang.
Suara lolongan anjing mulai terdengar saling beradu,seperti memberi pertanda atas ke datangan kami,berbagai macam bau pun mulai tercium dan yang lebih menyengat adalah, bau bangkai yang entah dari mana asalnya.
__ADS_1
Ingin rasanya aku memuntahkan isi perutku,tetapi aku terus menahannya sebisa mungkin,begitu juga dengan papa,dokter Ardi, dan ustad Zein.
Masing-masing dari mereka menutup lubang hidung menggunakan tangan.
"Sebelum memasuki area hutan,terlebih duluh kita membaca ayat kursi" ucap ustad Zein.
Kami pun membaca ayat kursi terlebih duluh,sebelum kembali melangkah memasuki area hutan yang terkenal begitu angker.
Kami berempat kembali melangkah menyusuri jalan setapak dengan bantuan pencahayaan senter. Yang sudah kami sediakan saat hendak berangkat kesini.
"Lina,tolong mama Nak, hiks...hiks...hiks..." terdengar suara mama memanggil namaku, di susul dengan suara tangis memilukan.
"Mama" gumamku menoleh kekanan dan kekiri sembari terus berjalan.
"Teruslah berjalan,dan jangan hiraukan dengan suara yang memanggil namamu" ucap ustad Zein yang berjanan di samping kananku,sedangkan di samping kiriku adalah papa dan di belakangku adalah dokter Ardi.
"Baiklah Ustad"
Aku tidak lagi menghiraukan suara itu,pandanganku terus fokus mengarah depan, hingga akhirnya kami memasuki area hutan yang benar-benar begitu mencekam.
"Cukup sampai disini saja" ucap ustad Zein,dan kamipun berhenti sembari terus melihat di sekeliling hutan.
Ustad Zein membuat garis lingkarang dengan menggunakan tongkat miliknya, yang sendari tadi ia bawah dari rumah.
Kamipun duduk bersila di dalam garis lingkaran tersebut sesuai intruksinya.
Sementara aku duduk bersila di dalam lingkaran kecil yang pertama, dengan menghadap ke arah ustad zein,Sementara mereka duduk di lingkaran kedua yang agak sedikit besar.
"Lina pegang tongkat ini,lalu pejamkan matamu setelah itu baca ayat kursi dan ayat pendek lainnya" ucapnya.
Akupun mengikuti intruksi ustad Zein.
"Jangan buka matamu,sebelum aku menyuruhnya"Ucapnya kembali.
"Ucapkan Qobiltu,saat aku mengijazakan ayat tersebut padamu,dan bacalah ayat itu saat ingin membutuhkan sesuatu,maka apa yang kau inginkan seketika berada di tanganmu" ucap ustad Zein yang terus memberiku intruksi,akupun hanya bisa mengangguk.
Kini aku merasakan hawa dingin masuk ketubuhku melalui ubun-ubun,sehingga aku sedikit menggigil kedinginan.
__ADS_1
Dengan kedua mata yang masih terpenjam, aku bisa melihat kumpulan asap putih yang mulai terbang menghampiriku.
"Apa kau melihat ibumu, jika ia usahakan terus memanggilnya" ucap ustad Zein.
Dengan pandangan yang masih agak kabur karna asap tersebut, aku pun mulai melihat mama seperti orang yang sedang linglung.
"Mama!!
"Mama, ini Lina ma" panggilku,namun mama tidak memperdulikan panggilanku, ia bahkan seperti tidak mengenaliku.
Sebab wujud ku juga berada disana yang terus menemaninya,tak lama kemudian wujud papa pun muncul dari arah belakang,dan langsung memeluknya.
"Ma,dia itu bukan papa ma,dia iblis" panggilku berulang kali.
Namun mama tidak menghiraukannya,bahkan ia begitu cuek dengan panggilanku.
Sedangkan yang berwujud sepertiku terus memandangiku dengan tatapan tajamnya. Seketika mama pun hilang bersama sosok yang menyerupai papa.
"Mama...
Teriakku dan aku pun langsung terjatuh kebelakang.
"Jangan khawatir, dia berada di dalam pengawasanku" ucap ustad zein yang suaranya masih aku dengar.
Sementara aku sudah berada di tempat lain, dengan di kelilingi puluhan bahkan ratusan sosok yang berbagai macam rupanya.
Di setiap mereka sudah memegang senjata masing-masing,mulai dari tombak,pedang,pisau bahkan palu besar seakan -akan siap menghabisiku.
Sementara aku hanya memegang tongkat milik ustad Zein,aku masih bingung apa kah tongkat ini berguna untuk ku atau tidak.
"Hallo sayang, akhirnya kau datang juga menemui bibi" ucap bibi Wati yang seketika hadir di belakangku,sontak akupun langsung berbalik dan menatap tajam ke arahnya.
Sementara pasukan bibi Wati selalu siap siaga mengepung kami,untuk menunggu intruksi dari tuannya.
"Di mana ibuku,bukannya kau sudah berjanji,akan mengembalikannya saat aku menemuimu" ucapku dengan tegas.
"Hahaha... Aku tidak sebodoh itu sayang,lagi pula ibu mu sudah melupanmu,bahkan ia juga sudah melupakan ayahmu" timpalnya dengan enteng.
__ADS_1