Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.

Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.
part 19. firasat


__ADS_3

Tak menunggu waktu lama tante Lastri pun keluar bersama bu Wati. Gegas aku bersembunyi di balik dinding tembok salah satu rumah warga Agar aku bisa memperhatikan mereka.


Keduanya sempat mengobrol dengan begitu serius sebelum Bu Wati menyodorkan kresek hitam kepada Tante Lastri,entah apa isinya tetapi sepertinya sangat banyak.


Tante Lastri menerima pemberian Bu Wati, tampaknya ia sedikit senang dengan apa yang di terimanya,terlihat dari bibirnya tersenyum manis.


Ia pun berpamitan dan meninggalkan halaman rumah Bu Wati dengan kuda mesinnya.


Bu Wati terus menatap punggung tante Lastri yang mulai menjauh tak luput bibirnya menyungingkan senyum,Seperti ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyum itu. Setelah memastikan tante Lastri sudah menjauh,ia kembali masuk kedalam rumah dan tak lupa menutup pintu.


Entah mengapa firasatku sepertinya merasakan akan ada bahaya terjadi pada keluargaku.


"Ya ALLAH,semoga ini hanya firasat burukku saja,bukan nyata. Gumamku dengan sedikit rasa khawatir.


Setelah situasinya aman aku langsung bergegas menujuh ke warung Bu Ratna untuk membeli pesanan Mama.


Prov mama.


Saat sedang asik meracik bumbu ikan bakar. Santi merasakan seperti ada seseorang yang meniup-niup tengkuk dari arah belakang.


"Kenapa aku merasakan seperti ada yang yang meniup tengkukku ya" gumam bu Santi melirik kekanan dan kekiri sambil memegang tengkuknya.


" Apa mungkin cuman perasaanku saja atau gimana ? Ucap santi masih merasa bingung.tak berselang lama suara desis ular seketika terdengar.


"Shhhhh...."


"Astagfirullah kaya ada ular,tapi dimana ya ? Ucap Santi yang segerah berdiri mencari sumber suara ular disekeliling dapur.


"Shhhh..." Suara desis ular semakin terdengar jelas oleh telinga. Kini ia merasakan seperti ada sesuatu yang bergerak punggungnya dan naik kearah bahu.


Dengan rasa takut dan wa-was, Santi perlahan melirik dengan sedikit memiringkan kepala melihat kearah bahunya yang sebelah kiri.


"Aaa... Ulaar"teriak bu santi sambil mengibas ular puntung sebesar jempol kaki yang bertengger bahunya.


Ular itu terhempas ke lantai dan merayap bersembunyi di balik tumpukan kayu bakar.


Pa Imran yang sedang duduk di bale-bale bersama Pa Asep, sontak mereka langsung beranjak mendengar jeritan Santi, dan langsung menghampirinya.


"Ada apa Ma" tanya sang Suami yang tergopoh-gopoh di susul Pa Asep yang ikut menghampiri.


"Ada ular Pa!!"jawab sang istri merasa panik dan geli.


"Dimana ?tanya pa Asep sambil melihat di sekeliling dapur begitu juga dengan suaminya.


"Itu ularnya masuk kedalam tumpukan kayu"jawabnya. Pa imran langsung Membongkar tumpukan kayu yang di bantu oleh pa Asep.

__ADS_1


Sudah beberapa menit mencari, akan tetapi ular tersebut tidak di temukan.


"Ularnya udah ngga ada Ma,emangnya ularnya sebesar apa sih ?" Tanya sang suami yang kembali mengatur tumpukan kayu yang berserakan.


"Ular puntung pa, sebesar jempol kaki" jawab sang istri yang masih merasa takut


Sontak saja Pa Imran dan Pa Asep terkejut mendengar hal ini.


"Apa!! ular puntung? Tanya sang suami untuk meyakinkan kembali ucapan sang istri benar.


"Iya Pa, ular puntung" jawab sang istri dengan sedikit geli.


"Astagfirulla, semoga saja keluargamu terhindar dari Bala, Imran" ucap Pa Asep. Ia sedikit merasa Khawatiran kepada keluarga sahabatnya itu.


"Iya Sep, semoga saja ini bukan pertanda buruk" jawab Imran. saat sedang merenung kejadian yang baru terjadi. Terdengar suara klakson motor dari arah bawah.


"Pip....pip...pip...


" Pa,sepertinya itu suara klakson motor Lastri"


" Iya sepertinya itu Lastri, yasudah kami ke bawa duluh" ujar sang suami beranjak keluar bersama dengan Pa Asep.


" Assalamu Allaikum" ucap Lastri memberi salam.


"Wa allaikum salam" jawab santi menghampiri adik ipar dan mempersilahkan duduk.


"Iya ka maaf,soalnya lagi sibuk di ladang oh iya, anak-anak dan ibu dimana? Tanya Lastri yang celingak-celinguk.


"Oh.. kalau Lina sedang pergi menjual ikan, sementara Lisa dan ibu lagi di sumur sedang mandi." Jawab Santi.


"Ouh..."Oh iya ka,nih ada cemilan, tadi aku sempat mampir di warung terlebih duluh sebelum kesini,soalnya ngga enak kalau ngga ada buah tangan," ujarnya menyodorkan kresek hitam.


" Oh!!makasih ya,kalau bisa ngga usah repot-repot kalau datang kesini, lagi pula kan !! ini juga rumah kamu" ucap Santi menerima pemberian sang adik ipar.


"Ngga enak ka, kalau cuman tangan kosong berkunjung kesini,Yaudah ka, aku pamit pulang duluh,takutnya Mas Bambang kelamaan menunggu" ujarnya berpamitan.


"Loh!! kok cepat amat sih pulangnya?,lagian kan, kamu juga belum makan?" jawab Santi yang sedikit heran dengan sikap adik iparnya itu.


" Nanti lain kali ajah deh ka!! Karna hari ini Mas Bambang pergi ke toko mau beli pupuk, soalnya persediaan pupuk dirumah juga udah habis, Sebenarnya tadi aku cuman berpamitan ke desa sebelah, karna ada urusan soalnya!!,makanya sebelum pulang,saya singgah duluh kesini membawa cemilan untuk kaka dan juga anak-anak" jawabnya panjang lebar.


"Oh ya udah kalau gitu,hati-hati ya, nanti kapan-kapan datang lagi kesini,jangan berbulan-bulan baru dateng" ucap santi mengingatkan kembali


"Iya ka,yaudah aku pamit ya " Assalamu Allaikum" Ia beranjak dari kursinya seraya memberi salam.


"Wa allaikum Salam" jawab Santi. Ia hanya berdiri di ambang pintu utama,sambil melihat Lastri menuruni anak tangga.

__ADS_1


" Kenapa cepat pulang"tanya pa Imran sang kaka yang ada di bale-bale.


"Iya ka,soalnya Mas Bambang hari ini mau ke toko beli pupuk,nanti lain kali aku kemari lagi ka" jawab sambil menghidupkan mesin motornya.


"Ya udah hati-hati, tuh!!ada ikan di ember, kamu ngga mau bawa ? Tanya sang kaka.


"Ngga usah ka, nanti lain kali ajah, soalnya aku udah mau buru-buru nih,takut mas bambang kelamaan nunggu" jawab sang adik dan berlalu pergi dengan mengendarai sepeda motornya.


"Aneh tu anak, biasanya tidak seperti itu" batin Imran menatap punggung sang adik.


******


Di perjalanan pulang Lina terus bertanya-tanya pada pikirannya tentang Tante Lastri dan Bu Wati.


"Ada keperluan apa tante Lastri sama Bu Wati,perasaan selama ini bu Wati tidak perna berbaur dengan keluarga Kami. Tapi kenapa tadi sepertinya mereka sangat akrab, lalu!! kantongan kresek hitam yang di berikan bu Wati itu isinya apa sih?. sampai-sampai tante Lastri senang menerimanya?"


"Aduuhh...Kok aku jadi kepo dengan urusan tante Lastri, tapi aku juga penasaran dengan kedekatan mereka, sepertinya ? ada sesuatu di balik kedekatan mereka" ucap batinku.


Suara desir angin yang meniup-niup dedaunan diperkebunan mulai beradu,seperti sedang menyambut kedatanganku. Di susul suara kucing terdengar dari arah belakang.


Aku menghentikan langkahku dan berbalik ternyata benar, ada se ekor kucing berbulu hitam pekat sedang mengikutiku.Matanya begitu tajam menatapku seolah-olah aku ini musuhnya yang akan siap di cakar.


" Ini kucing siapa? kok aku merasa merinding di tatapnya seperti itu" gumamku dengan sedikit rasa takut.


"Hus...hus... " Ku hentakan kakiku mengusirnya,malah kucing itu tetap diam di tempatnya, sambil terus menatapku dengan tajam. Kuputuskan untuk meninggalkannya dan kembali melanjutkan perjalananku.


"Meong...meong ... Kucing itu terus mengikuti dari arah belakang,tetapi aku tidak menghiraukannya, malahan aku terus mempercepat langkah kaki,aku takut jika kucing yang mengikutiku bukan kucing biasa, rasa takutku mulai menguasai diriku.


Akhirnya dari kejauhan aku melihat Pa Mamat berkaca pinggang sambil sesekali menggaruk-ngaruk kepalanya,seperti orang yang sedang kebingungan.


"Ada apa Om? " Tanyaku setelah menghampirinya.


"Nih, lagi berusaha bakar rumput,eh malah ngga bisa, macis ajah tinggal beberapa batang yang tersisa.


"Masah sih om, sini aku cobain" tawarku.sambil menurunkan dua termos aku jinjing dan mengambil macis kayu yang di sodorkannya.


Akupun mencoba membakar tumpukan dedaunan yang kering,tetapi hasilnya juga sama malah belum merembet langsung saja padam, seperti di hembus angin kencang.


Sekilas aku mendengar bisikan untuk mengucapkan permisi terlebih duluh.


Akupun mengikuti perintah suara itu.


"Permisi!! saya mau bakar rumput, jika berkenan kalian boleh pindah duluh" ucapku. Seketika ular hitam sebesar lingis muncul dari balik tumpukan dedaunan kering.


Sontak saja aku dan Pa Mamat langsung mundur melihat ular itu yang keluar dan pergi menjauh.

__ADS_1


"Ya udah om,silahkan coba lagi" pintaku memberikan macis kayu ke pada pa Mamat. Ia kembali mencobanya dan kini api pun mulai menerebes ke daun kering,hingga pada akhirnya mulai melahap sedikit demi sedikit.


______


__ADS_2