Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.

Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.
43.pembalasan.


__ADS_3

"Hahaha... Aku tidak sebodoh itu sayang,lagi pula ibu mu sudah melupanmu,bahkan ia juga melupakan ayahmu" timpalnya dengan enteng.


"Dasar wanita iblis,beraninya kau mempermainkan ibuku dengan cara tak wajar" teriakku yang langsung menyerangnya menggunakan tongkat,dengan sekejab mata Wati menghilang di hadapanku,yang membuatku celingak-celinguk sendiri.


"Oh..ternyata kau ingin segerah bermain denganku ya"Ucapnya yang langsung hadir di belakangku,sontak akupun berbalik dan melihatnya sudah melayang di udara.


Ternyata ilmu yang ia miliki sudah semakin tinggi,Entah ia berguru dengan siapa,akan tetapi itu tidak membuatku gentar,karna aku yakin ada ALLAH yang akan selalu bersamaku.


"Baca doa,yang aku ijazakan kepadamu,dan niatkan sesuatu yang dapat membantumu untuk menyerang mereka" bisik suara ustad Zein di telingaku.


Aku pun mengangguk mengikuti intruksinya. Lalu menggada wajahku ke atas seraya membaca do'a yang sudah di ijazakan kepadaku,serta meniatkan sesuatu yang aku inginkan untuk dapat ku gunakan melawan mereka.


Tak lama kemudian, tangan kananku yang memegang tongkat ustad Zein, kini bergetar dengan sendirinya sembari terangkat ke atas.


Aku terkejut bukan main,melihat tongkat yang aku pegang seketika berubah menjadi pedang samurai seperti yang aku inginkan.


Tiada henti-hentinya aku mengucapkan rasa syukur atas pertolongan dari ALLAH. Tuhan sudah memperlihatkanku bagaimana kuasanya ia membantuku dengan cara seketika.


Jika ia berkehendak,apa yang tidak mungkin pasti akan menjadi mungkin.


Kini aku benar-benar yakin dapat menghadapi mereka.


"Apa kau sudah siap sayang" tanya wati sembari menyunggingkan tersenyum liciknya.


"Aku sudah siap" jawabku dengan mantap.


"Kalian semua bersiaplah" wati mengangkat pedangnya ke atas,seraya memberikan aba-aba.


"Habisi dia."pinta wati.


Pasukan baris terdepan pun berjalan menghampiriku sembari mengeluarkan suara raungan yang menggelegar seisi hutan.


"Aaaarggg...


"Hiyaaa...


"Shing...


"Shing....


"Sing...


Pertarungan pun di mulai,tanganku begitu linca melayangkan pedang kearah mereka,bisa di katakan aku bagaikan singa kelaparan, yang baru saja keluar dari kandang.


Tak ada rasa lelah saat bertarung,bahkan aku merasakan ada kekuatan hebat masuk kedalam tubuhku,sehingga hanya hitungan menit saja sebagian dari mereka sudah dapat ku luluh lantahkan,walaupun mereka menyerangku dengan cara mengepung.


Kini pasukan barisan ke dua kembali menyerangku,mereka tidak memberiku waktu sedikitpun untuk mengatur nafas, walaupun hanya sebentar saja.


"Sing...


"Sreet...


"Aaarrrggg...


Suara raungan kesakitan terus terdengar karna keganasanku melukai mereka.


Kini musuhku pun bisa di hitung jari.


Aku berdiri tak jauh dari hadapan mereka sembari mengatur nafas yang naik turun.

__ADS_1


"Apa kalian masih ingin bermain denganku" tanyaku sambil berjalan pelan mendekati mereka.


Nampak jelas raut wajah mereka menyimpan ketakutan yang mendalam,bahkan langkah kaki mereka hanya berjalan mundur,namun seketika wati pun berteriak.


"Jangan perna kalian mundur,habisi dia" teriak Wati yang begitu emosi,ada raut kecemasan tersimpan di matanya,karna melihatku dapat menghabisi pasukannya hanya dalam hitungan menit.


Pasukan Wati sempat menoleh satu sama lain,Lalu kembali menyerangku.


"Hiya...


"Sing...


"Sing...


"Bruk......


"Aaaarrgg...


Bukan hanya pedang yang aku layangkan,tetapi sebuah tendangan pun ikut menyusul,sehingga tubuh mereka terdorong beberapa meter ke arah kebelakang, dengan luka yang cukup parah.


Pasukan yang masih tersisah dapat menghindar dari seranganku,lalu kembali menyerang secara tiba-tiba, namun dengan sigap aku dapat menghindar dari serangan maut mereka.


"Hiya..


"Sing...


"Sing..


"Sreet...


"Aarrrggg...


Wati benar-benar terkejut melihat keganasanku menghabisi pasukannya,tetapi ia kembali terlihat lebih tenang.


"Wah..wah..wah..wah..kamu terlihat hebat juga rupanya,hmm..akan tetapi kau belum menikmati permainanku bukan ?" ucapnya sembari bertepuk tangan.


"Tidak perlu berbasa-basi,jika ingin segerah mengotori tanganmu, maka maju lah" balasku yang kembali menantang.


"Baiklah kalau begitu" wati pun berlari menghampiriku dengan pedang miliknya.


"Hiya...


"singg...


"Sing...


Pertarungan kami tak dapat di elakan,ia begitu lihai mengayunkan pedangnya. Sesekali pula ia melayang di udara untuk menyerangku dan juga menghindar dari seranganku.


"Hiya..


"Brung...


Kali ini ia menggunakan ilmunya untuk menyerangku,namun lagi-lagi aku dapat menghindari,sehingga hanya meleset mengenai pohon yang ada di sekitarnya.


"Ternyata kau hebat juga untuk menghindar,tetapi jangan senang duluh, justru aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja."pekiknya.


"Lagi pula aku tidak akan kembali,sebelum menghabisimu terlebih duluh" timpalku tidak merasa takut.


"Baiklah,hiyaa...

__ADS_1


"Sing..


"Sing..


"Sret..


Ayunan pedangku tepat mengenai lengannya,sehingga membuat ia terpukul mundur.Luka itu pun kembali tertutup saat ia menyapunya,aku sedikit tercengang melihat kehebatannya.


"Hahaha... Kau tidak akan dapat mengalahkanku sayang,Lihatlah lukaku ini hanya sekejab saja sudah menghilang"ujarnya dengan sombong.


"Ckk... Aku tidak perduli dengan itu,lagi pula setiap kekuatan pasti akan ada kelemahannya " aku kembali menyerangnya,namun dengan sigap ia menyambut seranganku.


Pertarungan tiada hentinya,sebab diantara kami belum ada yang terkalahkan.


"Kelemahannya berada pada punggung kirinya," bisik ustad zein di telingaku,saat sedang bertarung.


Kedua mataku sempat melihat punggungnya mengeluarkan cahaya merah kecil,yang ternyata itu adalah kelemahan darinya.


Kini tinggal mencari kesempatan yang tepat, untuk menjatuhkannya.


"Hiya...


"Shing...


"Shing..


"Bruk..


Pukulanku tepat mengenai bahu kanannya,sehingga ia terhuyung berbalik kebelakang,aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.


"Sreet...


Dengan sigap Ku tancapkan pedangku mengenai punggung kirinya,Sehingga menembus pada jantungnya.


"Aaaaa... Ka-kau..." ia terbata-bata seraya menengok kearahku,yang mana raut wajahnya menahan rasa sakit.


"Ini setimpal atas apa yang kau lakukan selama ini,dan selebihnya biar Tuhan yang mengadilimu" Ucapku.


Lalu kembali mencabut pedang tersebut.


"sreet...


Tubuhnya pun jatuh kearah depan dengan kedua mata yang terbelalak.


Kini pedang itupun kembali menjadi tongkat dan cahaya putih pun sudah berada di hadapanku.


"Lina,pulanglah" bisik ustad Zein.


"Lalu bagaimana dengan ibuku"


" ibumu sudah selamat ,Nak Ardi yang sudah menyelamatkannya"


Aku begitu senang mendengar mama sudah kembali,dengan segerah aku pun menujuh ke arah cahaya putih tersebut, dan kembali sadar.


Aku,papa,dan mama saling berpelukan di susul suara tangis haru mulai pecah.


"Kita sudah kembali aman sayang" ucap mama lirih.


"Iya ma,kita sudah aman",jawabku dengan anggukan kepala lalu,menyeka sisa air mata bahagia.

__ADS_1


SEKIAN DAN TERIMAH KASIH.


__ADS_2