Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.

Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.
36. suara teriakan minta tolong.


__ADS_3

Siangnya paman Yanto sudah datang dengan membawa beberapa keperluan mama dan juga nenek,sebab nenek harus menginap di rumah sakit untuk menjaga mama.


Tak menunggu waktu lama,mereka pun pamit pulang,karna masih banyak yang harus di kerjakan di rumah, untuk persiapan tahlilan sore nanti.


Saat di perjalanan pulang,Lina yang sedang di bonceng oleh pamannya,kini mendengar suara teriakan seseorang yang meminta tolong. Yang mana suara itu bersamaan dengan angin yang meniup sedikit kencang.


Ia celingak-celinguk kearah kanan dan kiri serta ke arah belakang.


Tak ada seorang pun yang meminta tolong.


"Paman,tadi paman dengar ngga,suara orang minta tolong" tanya Lina kepada paman yang fokus mengendarai motornya.


"Engga,mana ada orang teriak minta tolong siang-siang begini, lagi pula situasi jalan juga rame" Ucap paman yang tidak percaya dengan ucapannya. Ia hanya terdiam mendengar jawaban pamannya,padahal suara itu sangat jelas di dengar oleh telinga.


"Tolong bibi" ucap suara itu yang kini seperti sedang mengikuti mereka. Ia bergidik ngeri sembari menoleh kearah belakang. yang mana hanya ada pengendara sepeda motor mengikuti dari arah belakang.


"Ya Allah, pertanda apa ini" bisik batinnya.


Suara itu kembali terdengar hingga sebanyak tiga kali,sampai akhirnya,Lina beristigfar serta berdoa memohon petunjuk dari ALLAH apa yang sebenarnya terjadi.


Sempat ia memejamkan mata,sekilas bayangan bibi Lastri lewat begitu saja ,seperti menyedihkan.


"Astagfirullah Halazim" ucapnya dengan seketika.


"Kamu kenapa,seperti orang kaget" tanya paman yang melihatnya dari kaca spion motor.


"Engga paman,ngga apa-apa,oh iya, kalau udah sampai di kampung,kita lewat di lorong kamboja ajah ya" ucapnya pada paman. Paman tak bertanya,ia bahkan langsung mengangguk saja.


entah mengapa hatinya terasa terpanggil untuk melewati lorong rumah Bu Wati.


Tiga puluh menit di perjalanan pulang,mereka pun sudah memasuki area perkampungan,sesuai permintaannya tadi, paman membelokan motornya masuk ke lorong kamboja.


Perasaan Lina mulai tak enak saat memasuki lorong itu.


Dari kejauhan,terlihat ada beberapa warga di teras rumah bu Wati yang baru saja keluar bersama dengan Bu RT,sementara warga lainnya satu persat ikut berbondong-bondong memasuki halaman rumah bu Wati dengan sedikit berlari.seperti ada sesuatu yang terjadi di sana.


"Ada apa ya di rumah bu Wati ?ko mulai rame" tanya Lina kepada paman yang memelankan laju motornya karna jalanan yang mereka lalui agak sedikit rusak.


"Paman juga ngga,tau" jawab paman.

__ADS_1


"Ya udah, kita singga ajah duluh,mungkin ada sesuatu yang terjadi di sana" pamanpun kembali mengiyakan karna juga merasa kepo.


Bu RT yang melihat mereka berhenti di tepi jalan. Segerah berlari dan menghampiri mereka dengan raut wajah yang tak bisa di artikan.


"Lina,ada bibi Lastri di dalam,tapi..." Ucapannya menggantung


"Tapi kenapa bu?" tanyaku kepada Bu RT sambil melepaskan helm di kepalaku


"Dia di temukan sudah meninggal" jawabnya yang langsung membuat kami terkejut.


"Innalilahi Wainna Ilahi Rojiun,"ucapku bersamaan dengan paman.


Kamipun bergegas masuk kedalam rumah Bu Wati di ikuti oleh Ibu RT.


"Astagfirullah Hallazim"aku terkejut melihat jasad bibi Lastri yang begitu memprihatinkan,yang mana kedua matanya melotot serta Lida yang ikut menjulur keluar.


Belum lagi,wajahnya yang duluh cantik, kini sudah berubah menjadi hitam seperti hangus terbakar.


Badanku merasakan panas saat mendekati jasad bibi.


Air mataku menetes,ada rasa iba melihat bibi meninggal dengan cara seperti ini.


"Apa sudah ada yang memberitahu kepada papa dan suaminya" tanyaku kepada bu RT.


"Sudah,papamu sedang di jemput utusan saya,sementara suaminya sedang di jemput oleh suami saya" jawab Bu Rt.


Tak lama kemudia papa pun datang bersamaan dengan utusan Pa RT.


Papa juga terkejut melihat jasad adiknya meninggal dengan cara tak wajar.


Terdengar ibu-ibu berbisik satu sama lain.


"Ko,Lastri meninggal dengan cara seperti itu"bisik salah seorang ibu kepada teman di sampingnya.


"Mungkin dia sedang berguru sama Bu Wati,akhirnya Tuhan langsung cabut tuh nyawa, akhirnya meninggal seperti itu" jawab ibu di sampingnya.


"Sebaiknya, jasanya langsung di bawa kerumah saya saja,untuk segerah di mandikan dan di kebumikan,agar tahlilnya bersamaan dengan Lisa" ucap papa kepada warga.


Mereka pun mengiyakan serta berbondong-bondong membantu papa mengangkat tubuh Bibi Lastri serta, memasukkannya ke dalam mobil yang sudah di siapkan warga.

__ADS_1


Setibanya di rumah, jasad bibi lastri pun segerah di mandikan, tak ada kesedihan yang terpancar di raut wajah nenek,mungkin papa sudah memberi tahu semuanya,atas apa yang sebelumnya terjadi.


Rasa panas semakin membara,saat setelah jasad bibi ingin di kafankan,para pelayat terlihat mandi keringat mengurus jenazah bibi.


Warga yang lainnya yang baru saja tiba, enggan berlama-lama melihat jasad bibi,karna mereka juga merasakan hawa panas bak seperti di pinggir api yang membara.


Begitu juga denganku yang mana,baju hitam yang ku kenakan sudah basah oleh keringat yang tiada henti bercucur.


Suami bibi baru tiba bersamaan dengan Pa RT,nampak tiada raut kesedihan di wajahnya,hanya rasa kesal terpancar di sana.


Jasad bibi pun di angkat di keranda mayat,mereka terlihat kepayahan mengangkat jasad bibi.


Begitupun dengan suaminya,terlebih lagi dengan papa yang sudah sendari tadi mandi dengan keringat.


*****


Setibanya di pintu gerbang pemakaman, parah pelayat pun segerah turun dan mengangkat keranda mayat menujuh kearah liang lahat.


Lagi-lagi parah pelayat merasakan beban berat,mereka terlihat oleng mengangkat keranda tersebut.


Kini cuaca yang tadinya cerah seketika berubah menjadi gelap,suara guntur mulai menggelegar di are pemakaman,di susul kilatan petir mulai menyala yang membuat kami semua merasa takut.


"Mbur....


Hujan deras pun mulai turun membasahi parah pelayat,dengan segerah mereka berjalan menujuh ke arah liang lahat.


Setibanya diliang lahat,papa pun segerah turun di susul dengan suami bibi yang ikut turun,agar jasad bibi segerah di makamkan selagi liang lahat belum tergenang air sepenuhnya.


Tak ada pembacaan do'a setelah pemakaman, karna hujan semakin deras belum lagi kilatan petir semakin menjadi-jadi,para pelayat pun bergegas kembali menujuh kearah mobil,dengan membawa keranda mayat yang sudah ringan.


kini yang tertinggal hanya Papa dan juga Lina, mereka masih bertahan untuk mengirimkan doa kepada bibi Lastri.


Sedangkan suami bibi enggan berlama-lama,ia bahkan ikut dengan para pelayat menujuh ke arah mobil.


Seusai mengirim do'a, mereka berdua pun beranjak meninggalkan are pemakaman.


Baru beberapa meter meninggalkan kuburan bibi Lastri, kini sudah terdengar suara teriakan minta tolong di susul suara tangis yang mulai pecah.


"Tolong..... Hiks...hiks...hiks...

__ADS_1


__ADS_2