Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.

Kisa Mistis Saat Tinggal Dirumah Panggung.
40. bisikan.


__ADS_3

Iya Pa,aku hanya minta do'a dari kalian,agar aku bisa membalaskan apa yang sudah ia lakukan selama ini ,sudah cukup kedua adikku ia ambil secara paksa. Dan sekarang tidak lagi,aku akan mengakhirinya dengan nyawa di balas nyawa" jawabku dengan mantap.


Papa hanya mengangguk,pertanda ia memberi dukungan atas apa yang aku lakukan nantinya. Aku berharap semuanya akan lancar sesuai ke inginan.


Tak terasa malam semakin larut,kini jam sudah menunjukan pukul 12:40 malam,sementara aku sendari tadi begitu gelisa saat hendak tidur.


Sudah beberapa kali aku mencari posisi tidur yang nyaman,namun hasilnya tetap sama.


Aku menggeliat di atas kasur bak seperti cacing kepanasan.


Di tambah lagi adanya suara yang terus terdengar oleh telinga. Mulai dari suara desis ular, suara raungan hewan,kadang pula aku mendengar suara teriakan,lalu di susul suara tangisan seseorang,yang semua itu entah dari mana asalnya.


Sehingga membuatku benar-benar tidak nyaman saat hendak tidur.


Sedangkan Nenek Tati terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya,bahkan suara dengkuran halus pun ikut terdengar.


Aku kembali tidur dengan posisi miring ke kanan, menghadap ke arah kiblat sembari berusaha memejamkan mata,akan tetapi seketika ada suara berbisik di telingaku.


"Datanglah sayang aku akan menunggumu,jika tidak, ibumu akan segerah menyusul adikmu " bisik suara itu di telingaku.


"Tidak!!! Astagfirullah" ucapku yang langsung bangun dan duduk di tepi kasur.


"Ternyata wanita itu tidak memberiku ketenangan sedikitpun,bahkan ia terus menghantuiku" batinku berdecik kesal.


"Cepat atau lambat,aku akan menemuimu,lagi pula aku tidak akan mengingkari janjiku" gumamku sendiri.


"Baiklah,aku akan menunggumu ingat,lebih cepat lebih baik,karna aku tidak suka menunggu" balas suara itu yang membuatku menoleh ke kanan dan ke kiri. Akan tetapi,tak ada sosok penampakan wanita iblis itu di kamarku.


"Di mana sebenaranya wanita itu,apa ia mengawasiku dari jarak jau,ataukah dari jarak dekat" bisik batinku yang sedikit ke heranan.


Aku kembali tidur dan semisal mungkin melupakan suara yang terus menggelayut di pendengaranku.


Bibirku terus mengucapkan dzikir hingga pada akhirnya,aku pun masuk ke alam mimpi.


*****


Pagi sudah menjelang,aku bergegas membersihkan diri di sumur, setelah usai membantu mama dan nenek bertempur di dapur.


Sudah hampir sepuluh menit berada di sumur, ritual mandiku pun telah usai,lalu aku kembali kerumah untuk mengganti pakaianku,karna hari ini aku akan menemui dokter Ardi.


Setalah merasa sudah rapi aku pun segerah keluar.


"Kamu udah mau berangkat" tanya mama yang berpapasan denganku,saat aku membuka pintu kamarku.


"Iya ma,aku ingin segerah menemui dokter Ardi,semoga ia dapat membantu ku kembali" ucapku yang penuh harap.


"Mama juga berharap seperti itu dan masalah ini secepatnya selesai,agar keluarga kita kembali aman seperti semula"Ujar mama, yang juga ikut berharap.


"Lina juga berharap seperti itu ma"


"Ya sudah,kamu isi perut terlebih duluh baru berangkat.mama turun duluh,mau bantu papa panen ubi" ujar mama.


"Iya ma" jawabku singgkat

__ADS_1


Mama pun beranjak keluar menuruni anak tangga.


Sedangkan aku beranjak ke dapur untuk mengisi perutku ,nampak nenek sudah terlebih duluh makan aku pun menghampirinya.


"Cepat amat makannya,kaya ayam lagi patuk jagung" ucap nenek yang melihatku makan agak sedikit cepat.


"Aku harus buru-buru nek,perasaanku semakin ngga enak,aku merasakan wanita itu selalu mengawasiku,bahkan dari semalam ia terus mengganguku" balasku setelah meneguk segelas air minum hingga habis.


"Ya ALLAH,sampai kapan wanita itu terus mengganggu kita,nenek semakin khawatir mendengarnya" ujar nenek dengan suara lirih.


"Tenang saja nek, Lina janji akan segerah mengakhiri semua ini, agar kita kembali hidup tenang" Jawabku sembari mencuci kedua tanganku.


Terlihat netral nenek menatapku dengan rasa khawatir.


"Apa kamu yakin Cu,nenek takut wanita itu akan lebih kuat dari pada sebelumnya" ucap nenek.


"Tenang saja nek, ada ALLAH bersama Lina,selagi kita meminta padanya, maka ia pun akan menolong kita" jawabku yang menghampirinya.


"Baiklah,nenek tak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan keselamatamu,dan semoga saja dokter itu mau membantumu kembali" ucap nenek sambil mengelus pundakku dengan lembut.


"Iya semoga saja,Ya sudah nek, Lina berangkat duluh, assalamu allaikum" ucapku lalu mengambil tangan nenek kucium dengan takzim.


"Wa allaikum salam".


Aku pun beranjak keluar meninggalkan nenek.


Prov dokter Ardi.


Dokter Ardi yang sendari tadi berada diruangannya terlihat mondar mandir,pikirannya terus mengarah kepada gadis yang selama ini membuatnya jatuh cinta.


Ardi kembali duduk di kursinya sembari menghela nafas kasar.


Lalu membuka laci meja dan mengambil sebuah bingkai foto yang tersimpan di sana.


Ia memandang foto itu dengan seksama,yang mana seorang gadis duduk di atas kursi kayu dengan senyum manisnya,hingga menampakan kedua lesung pipinya bak seperti preti sinta, dengan kulit saomatang serta mata yang agak sedikit cipit seperti orang korea.


Ya, itulah Lina,gadis dengan nama lengkap,Lina Syaputri Imran,yang memiliki ahlak sempurna di matanya, sehingga membuat ia jatuh cinta kepada gadis desa itu,walaupun ia belum berani mengutarakan perasaannya kepada gadis itu.


Takut jika gadis itu menolak,karna perbedaan usia yang hampir tujuh tahun.


"Kenapa dari semalam aku begitu gelisa memikirkan Lina,apa ia sedang mendapatkan masalah" gumamnya, dengan menyimpan bingkai foto itu di atas meja kerjanya.


Lalu memandangnya sembari menyandarkan punggungungnya di sandaran kursi miliknya.


"Apa sebaiknya aku menemuinya ya,untuk memastikan ia baik-baik saja" ucapnya yang berpikir sejenak.


"Ah... Alangka sebaiknya aku segerah menemuinya,perasaanku benar-benar tidak enak,sepertinya ada sesuatu yang terjadi padanya" ujarnya lalu beranjak dari kursinya dan meninggalkan ruangannya.


"Prov Lina


Dari kejauhan beberapa puluh meter,sudah nampak gedung putih rumah sakit di kota ini.


Tak menunggu waktu lama,motorku pun masuk di area perkiran.

__ADS_1


Setelah usai memakirkan motor,aku sempat berdiri sesaat memandang bangunan yang sempat menyimpan duka disini.


Baru saja hendak ingin masuk,sudah nampak dokter Ardi keluar dari bangunan itu,dengan langkah sedikit cepat menujuh are parkiran mobil.


"Dokter Ardi" teriaku.lelaki itupun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahku.


Nampak terukir senyum di bibirnya dan berlari kearahku.


"Lina,kamu ada di sini,emangnya siapa yang sakit? Tanya ia setelah menghampiriku.


Aku terdiam sesaat dengan kepala menunduk.


"Dok,ada yang ingin aku katakan "


"Ada apa Lin,apa ada sesuatu yang sudah terjadi padamu,ayo katakan"


****


Aku pun mulai menceritakan semuanya sehingga membuat ia begitu terkejut.


Setelah mendengarkan semua penuturanku,kami memutuskan pergi menemui ustad zein yang mana ia juga perna membantuku.


Hanya 20 menit di perjalanan menujuh ke rumah beliau,kami pun sudah tiba di halaman rumah dengan nuansa bergaya modern.


Aku mengekor dari arah belakang, setelah kami turun dari kendaraan masing-masing.


Dokter Ardi pun mengetuk pintu seraya mengucapkan salam.


"Assalamu Allaikum.


"Wa allaikum salam" terdengar dari arah dalam suara seorang wanita,kini pintu pun terbuka dengan lebar.


"Eh,nak Ardi,tumben baru datang,dari mana ajah ?" tanya seorang wanita paruh baya itu dengan ramah.


Lalu dokter Ardi pun menyalami tangan wanita itu,begitu pun denganku.


"Biasa umi,lagi sibuk,karna akhir-akhir ini banyak pasien" Jawabnya.


"Ouh gitu,ya udah mari masuk" pinta wanita itu mempersilahkan kami masuk.


"Lalu ini siapa, calon ?" Tanya wanita itu yang ia panggil umi. Terlihat netral bahagia saat melihat kami berdua,hingga membuatku sedikit keki.


" Bu-bukan umi,dia teman saya, kami datang kesini ingin menemui ustad" jawabnya sedikit gugup.


"Walah,umi kira tadi calon jika ia, umi juga akan setujuh,ya sudah tunggu bentar ya,umi panggil duluh, karna kebetulan beliau baru ajah tiba dari pesatren" ujarnya lalu beranjak meninggalkan kami.


Tak berselang lama,lelaki dengan peci hitam itu pun datang menghampiri kami.


"Ada yang bisa ustad bantu" tanya ustad zein kepada kami dengan begitu ramah.


Akupun menceritakan tujuanku datang kesini.


Terlihat ustad zein sesekali mengelengkan kepala sembari beristigfar.

__ADS_1


"Baiklah,selepas sholat ashar,kita akan berangkat ke tempat itu" ucap ustad zein.


Akupun merasa bersyukur setelah mendapatkan bantuan dari beliau.


__ADS_2