
Di tempat kediaman Erlita dan bagus, tepatnya di kota J.
Kini kandungan Erlita sudah memasuki usia 9 bulan, dan untuk perkiraan persalinan masih 1 Minggu lagi. Namun, Erlita mulai pagi waktu bangun tidur, sudah merasakan kontraksi yang sering. Namun belum keluar air ketuban, Sedangkan bagus, suaminya sudah sejak 2 bulan jarang pulang, dengan alasan sibuk lembur. Erlita, percaya percaya saja dengan alasan suaminya itu.
kini bagus masih ada di kliniknya, dia sekarang menjabat sebagai direktur utama Rumah Sakit "Harapan Kita", yang juga termasuk rumah sakit keluarga.
Dulu yang mengelola papanya bagus, mertua dari Erlita. Sekarang beliau ingin pensiun, karena sudah ada bagus yang berkompeten untuk mengelola rumah sakit keluarga itu.
Erlita semakin sering merasakan sakit di daerah pinggang dan perutnya.
Erlita mencoba menghubungi suaminya. Namun tidak ada respon hingga 5 kali dia telephon namun tidak diangkat. akhirnya Erlita memanggil ART nya, yang bernama Susi.
"Bibik...bik...!"Panggil Erlita dari arah kamarnya, sedangkan ART mereka kebetulan ada di ruang tengah sedang bersih bersih.
Sejak perutnya usia 8 bulan, Erlita sudah pindah kamar yang ada di lantai 1, biar tidak beresiko bagi Erlita.
"Iyya nyonya...!"jawab bik Susi, dengan tergopoh gopo dia menemui majikannya, bibi Susi mulai bekerja di rumah itu mulai awal Erlita dan bagus menikah, awalnya bik Susi merupakan ART orang tua bagus. Namun, Karena di rumah orang tua bagus sudah ada 5 orang ART disana, akhirnya dibawalah Susi ke rumah Erlita, kelima orang ART orang tua bagus itu kesemuanya memiliki tugas masing masing
"Loh nyonya,,,kenapa duduk di bawah?,,"ujar bibi Susi, akhirnya dia membantu majikannya itu untuk duduk diatas ranjang besarnya.
"Bik,,,tolong bantu saya bik...!"ujar Erlita yang menahan sakit, akibat kontraksi
"Mari saya bantu, nyonya, harusnya anda memanggil saya mulai tadi nyonya.....!"lanjut bik susi sembari meraih kedua bahu Erlita, untuk dia bantu berbaring secara perlahan.
"Bik, minta tolong hubungi suami saya, bilangin kalau saya sepertinya mau lahiran...!"kata Erlita dengan mengerang kesakitan, sembari dia memegangi pinggulnya. Kini Erlita sudah tidak bisa diam, ingin bersandar, kadang juga ingin jalan.
"Aduh bik...sakit sekali...!"ujar Erlita lagi, dia sudah tidak bisa menahan sakitnya.
"Iyya nyonya, sebentar nyonya...sabar dulu ya... Ini masih belum diangkat sama tuan...!"ujar Susi gelisah, sambil masih memegang hape yang dia dekatkan di telinga nya itu.
Lalu Karena tidak sabaran, kemudian Susi menghubungi mertua Erlita, yakni orang tua bagus.
__ADS_1
Pada panggilan kedua, diangkat oleh mamanya bagus.
"Hallo, ya Erlita...!"kata mama nya bagus langsung menjawab panggilan dari hape menantu nya itu.
"Maaf nyonya, saya Susi. Ini nyonya Erlita sepertinya mau melahirkan...!"jawab Susi dengan tergesa gesa dan agak tersendat bicaranya, karena dia gugup melihat kondisi majikannya.
Sedangkan Erlita kini, merasakan kontraksi yang terasa makin sering, saking tidak tahannya, Erlita menjerit memanggil ART nya itu...
"Adduhh Susi....!"panggil Erlita, dengan menjerit dan mencengkeram kuat sprei kasurnya.
Hingga akhirnya, sang mertua mendengar teriakan menantunya itu.
"Erlita bagaimana itu bik?"tanya mamanya bagus dengan nada khawatir.
"Bagus kemana sih bik ..?"tanya mama bagus dengan nada marah.
"Katanya sih, den bagus masih ada pekerjaan di rumah sakit, nyonya...!"kata Susi yang masih ragu dengan jawabannya, karena Susi melihat tuannya keluar dari rumah sudah dari kemarin.
"padahal isterinya sedang hamil besar, tapi den bagus seperti tidak merasa khawatir..!"batin Susi dalan hatinya.
"Baik nyonya, saya tutup telephone nya, saya mau pesan taxi dulu..?"lanjut Susi dengan nada tergesa gesa. Lalu dia menutup telephonya, dia pencet pesanan taxi di aplikasi yang bertanda kendaraan warna hijau.
Setelah taxi sudah dia pesan, dia langsung menghampiri majikannya yang terlihat masih kesakitan.
"Nyonya, ini apa saja yang mau dibawa..?"tanya Susi pada Erlita, yang sekarang masih memegangi perutnya yang sakit. Erlita gelisah, terkadang dia duduk, kadang juga berdiri mondar mandir.
"Bawa tas perlengkapan bayi itu bik,,,!"ujar Erlita menunjuk ke arah meja dekat ranjang.
Tas bayi itu memang sudah dipersiapkan Erlita jauh jauh hari, biar dia gampang membawa nya disaat darurat seperti ini.
Lalu Susi menuju kearah yang ditunjuk Erlita, dia menenteng tas perlengkapan bayi itu dengan ukuran yang lumayan besar, tas warna merah itu bergambar bayi dan payung kecil.
__ADS_1
"Mas bagus apa masih belum bisa dihubungi bik...?"tanya Erlita gelisah, kini dia mendesi lagi menahan rasa sakit yang mulai datang lagi.
"Belum nyonya, mungkin tuan masih sibuk...!"jawab Susi, dia berusaha menenangkan majikannya itu.
Dia sebenarnya kasihan dengan majikan mudanya itu. Den bagus sering meninggalkan isterinya itu, kadang sampai 2 hari tidak pulang. Padahal isterinya sedang hamil anak pertama mereka.
Sungguh beda perlakuan den bagus disaat awal awal pernikahan mereka..."batin Susi dalam hatinya, seraya menuntun Erlita.
Di depan rumah ternyata sudah ada taxi pesanan Susi, kini keduanya langsung menuju kearah taxi online tersebut.
"Dengan ibu Erlita...?"tanya driver taxi, sembari dia membukakan pintu taxi.
"Iyya pak...!"jawab Susi. Kini Susi menuntun Erlita sampai ke kursi penumpang, sedangkan bawaan mereka di bawakan oleh bapak drivernya untuk diletakkan di bagasi mobil, bagian belakang.
"Bik...sakit...!"ujar Erlita,yang mengeluh kesakitan sambil memegang perut dan pinggangnya.
"Iyya, sabar nyonya. Ini kita sudah mau berangkat..."kata Susi dengan sabar.
"Pak, kita ke rumah sakit S ya, yang cepet ya pak, ini majikan saya mau melahirkan..!"ujar Susi pada bapak driver nya, sembari tergopoh gopoh.
"Iyya Bu,,,ini saya berusaha secepatnya, sabar Bu...!"ujar driver taxi online tersebut.
Sopir taxi itu menyetir dengan cepat tapi masih memperhatikan keselamatan penumpangnya. Untungnya jalanan tidak padat, jadi perjalanan mereka tidak ada hambatan apapun. Dalam waktu 15 menit, taxi sudah sampai di rumah sakit S. Sopir taxi menurunkan Erlita dan Susi, tepat di depan pintu UGD.
Susi yang turun duluan, dia langsung menuju ke pintu ugd, untuk meminta bantuan petugas yang sedang bertugas.
"Pak...ini ada pasien mau melahirkan, tolong bantu saya pak...!"ujar Susi tergopoh gopoh masuk dan berbicara ke petugas.
Sedangkan untuk bapak sopir, membukakan pintu mobil untuk erlita, meskipun mereka tidak saling mengenal. Namun ini dalam bentuk perikemanusiaan. "Kemana suami ibu muda ini...?"batin sopir tersebut dalam hatinya.
Dari arah dalam UGD rumah sakit S, ada 2 petugas yang membawa brankar untuk mendorong pasien. Kemudian juga muncul Susi berjalan dengan agak berlari, menuju ke majikannya.
__ADS_1
"Mari nyonya, saya bantu naik...!"ujar Susi pada majikannya itu, sambil meraih kedua bahu Erlita untuk dia papah naik ke atas brankar.
Susi dengan dibantu petugas rumah sakit, mereka menaikkan Susi diatas brankar dan membawanya ke dalam UGD, dimana tempat penanganan ibu yang mau melahirkan, sedangkan sopir taxi membawa kan tas perlengkapan bayi, milik Erlita.