Kisah Klasik Cinta Di Masa Lalu

Kisah Klasik Cinta Di Masa Lalu
Episode Tiga Puluh


__ADS_3

Kini Erlita sudah dipindahkan ke ruang pemulihan tepatnya di ruang anggrek 2.


Ada kedua orang tua Erlita dan juga mertuanya disana, tanpa ada bagus.


Sampai sekarang bagus juga belum menemui isterinya, entah apa yang dilakukan sampai tidak sempat menemani isterinya yang sedang melahirkan.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk puterimu ini, nak..?"tanya ibu mertuanya dengan sayang. Sembari dia masih menggendong cucu pertamanya itu.


"Belum ma, masih nunggu mas bagus,,,! Mungkin sebentar lagi ma bagus datang, ini masih di jalan katanya ma...!"ujar Erlita santai. dia sudah tidak akan ambil pusing dengan tingkah laku suaminya, dia harus fokus dengan puteri kecilnya.


Tak lama kemudian, tepatnya jam 18.00, bagus masuk ke ruangan dimana Erlita dirawat.


Sedangkan disana sudah tidak ada orang tua Erlita, mereka sudah kembali ke rumahnya. Rencana besok kembali lagi.


Tok..Tokk...Tokk..bagus menyembulkan kepalanya di balik pintu yang setengah terbuka.


"Darimana saja kamu, Gus..?"tanya papanya bagus dengan nada meninggi.


"Sudah tahu isterimu melahirkan malah nggak pulang pulang, nggak kasihan apa kamu sama isterimu, dia bertarung nyawa melahirkan puterimu, kamu malah enak enakan...!"cecar papanya lagi tanpa henti. Tanpa memberikan kesempatan bagus untuk menjawab.


Sedangkan bagus yang merasa tersudut, langsung menghampiri isterinya, dan puteri kecilnya.


"Sayang...maafin aku ya..!"ujar bagus pada isterinya. Dia membelai kepala, kening dan kedua pipi Erlita dengan sayang. Namun hal itu malah membuat Erlita jijik. Karena Erlita tahu, bahwa kini suaminya memiliki wanita lain.


"Papa tanya sama kamu. Sudah tahu salah. Apa alasan kamu kali ini, nggak mendampingi isterimu tadi. Bikin malu ajja..!"ujar papanya bagus yang langsung menghampiri bagus dan menatap kedua mata putera nya itu.


"Pa..,bagus tadi masih ada urusan. Ada kerjaan rumah sakit yang nggak bisa bagus tinggalin..!"jawab bagus dengan nada merendah. Dia sadar bahwa dirinya salah. Dia mulai kemarin memang bersama dengan Sintia, kekasihnya. Sintia selalu beralasan takut bila ditinggal sendirian di rumah, yang dibelikan bagus di daerah jalan Suprapto.

__ADS_1


Daerah elite yang terkenal dengan rumah rumah mewah.


Ya, kini Sintia sudah menguasai bagus sepenuhnya. Bagus sudah terlena dengan rayuan Sintia, yang terkenal dengan mulut manisnya. Hingga bagus jarang pulang pada Erlita, setiap harinya Sintia selalu ingin bersama bagus, tentu saja hal itu dituruti oleh bagus dengan senang hati. Karena Sintia sejak dulu susah didekati oleh bagus, hingga akhirnya bagus bertemu dengan Erlita di bangku kuliah dan dia jatuh cinta pada Erlita, yang kini berstatus isteri sah nya.


"Bagus, sini kamu, ada yang mau papa omongin sama kamu, tapi tidak disini...!"ajak papanya ke arah keluar kamar ruang rawat inap Erlita saat ini.


Mereka berdua kini yakni bagus dan papanya, duduk di kursi kosong yang ada di taman belakang rumah sakit.


"Papa, sangat kecewa sama kamu, nak...! Papa tidak pernah mengajarkan kamu bertingkah seperti ini pada isterimu. Ada masalah apa kamu sama Erlita?"tanya papanya dengan tenang, karena dia ingin ngobrol dari hati ke hati dengan putera tunggalnya.


"Maaf pa, bagus memang salah. Tidak mendampingi isteri bagus disaat melahirkan, tapi bagus memang ada kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, pa...!"ujar bagus yang berusaha menutupi keburukannya. Padahal dia bersenang senang dengan kekasihnya, Sintia.


"Papa, mama itu malu dengan tingkah mu hari ini. Isterimu kesakitan, kamu malah tidak ada di sampingnya. Dia sudah bertaruh nyawa demi puterimu, nak..!"ujar papanya bagus dengan tegas.


"Papa, tidak mau ada kabar seperti ini lagi. Kamu harus bisa menjaga hari Erlita. Mau ditaruh dimana muka papa, kalau sampai kamu bertingkah seperti ini lagi. Untung mertuamu orangnya sabar..!" Lanjut papanya bagus kemudian.


"Iyya pa,,,bagus akan dengar nasehat papa..!"kata bagus yang hanya dimasukkan di kepalanya, tanpa ada niat untuk memperbaiki kesalahannya.


Padahal selama ini Erlita diam, tidak mau membuka aib suaminya,biar orang tuanya tahu dengan sendirinya. Tapi bagus, malah berpikiran negatif tentangnya.


"Ya sudah, kamu temani isterimu. Papa masih mau santai disini...!"lanjut papanya bagus. Ada sesuatu yang ingin dia selidiki. Tanpa sepengetahuan puteranya.


"Iyya bagus duluan, pa...!"ucap bagus, dan dia langsung menuju ke kamar isterinya. Di dalam kamarnya, isterinya sedang memberikan ASI yang pertama untuk puteri kecilnya itu.


"Papamu mana, Gus?"Tanya mamanya, disaat bagua kembali ke kamar itu tanpa suaminya. Saat itu, mamanya bagus sedang membereskan perlengkapan baju cucunya, yang baru dia beli khusus untuk cucu pertama mereka.


"Papa masih ada kepentingan..!"jawab bagus singkat. Lalu dia mencium puterinya yang sedang tidur, setelah kenyang minum susu langsung dari mamanya.

__ADS_1


Kemudian, Erlita menanyakan perihal nama untuk puterinya.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk puteri kita, mas..?"tanya Erlita sembari dia meletakkan bayinya di box bayi yang didominasi warna pink, dengan tutup bagian atas jaring, serta ada roda di bagian bawah box.


"Sudah, namanya Nadia Puteri Hartawan...!"ujar bagus dengan memancarkan senyum bahagianya. Karena kini rumah tangganya sudah lengkap, dengan hadirnya bayi mungil yang cantik.


"Nama yang cantik, secantik cucunya Oma...!"senyum mamanya bagus dengan menatap sang cucu, yang kini sedang tersenyum dalam tidurnya.


Lalu bagus berujar pada Erlita, seolah olah dia cemburu...


"Wajahnya lebih dominan ke kamu ya, nggak ada miripnya sama aku....!"kata bagus sambil dia memandangi puterinya yang sedang tidur terlelap di box nya.


"Kalau masih bayi memang gitu, mas. Pasti berubah ubah wajahnya, bisa jadi sekarang mirip aku, mungkin besok bisa mirip kamu, mas...!"jawab Erlita dengan sabar, dia tahu suaminya itu cemburu, karena puterinya tidak ada mirip miripnya sama dia.


"Aahh, mana mungkin. Ya nggaklah...!"elak bagus. Lalu dering telephone bagus berbunyi...


Bagus mengambil hape nya yang dia letakkan di saku celana bagian kanan. Dia lihat di layar ternyata panggilan dari Sintia. Sang kekasih gelap. Bagus kemudian langsung mematikan panggilan dari Sintia.


Kemudian, bagus langsung keluar dari kamar rawat inap isterinya, dia tidak ingin pembicaraannya di dengar oleh mamanya dan juga isterinya.


"Mau kemana bagus itu, setelah dapat telephone kok malah keluar, mencurigakan..!"ujar mamanya bagus yang bertanya pada dirinya sendiri.


"Papanya harus tahu hal ini..!"ujarnya kemudian.


"Apa bagus sering seperti itu, Lita?, Mama minta tolong sama kamu, nak. Jangan pernah menutupi kesalahan bagus, ada mama papa yang akan selalu menjaga kalian. Mama tidak ingin kamu sedih sendirian..!" Ujar mamanya bagua pada Erlita. Beliau tahu, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Erlita selama ini.


"Apalagi sekarang ada Nadia, mama tidak ingin kamu kepikiran seorang diri, kasihan anakmu. Dia butuh kasih sayang kedua orang tuanya. Kalau bagus seperti itu terus, bagaimana dia memberikan perhatian pada kalian berdua??"ujar mamanya bagus lagi. Dia sekarang sangat kecewa dengan tingkah puteranya itu.

__ADS_1


"Tidak sering kok, ma..mama tenang saja!!"ujar Erlita kemudian, yang mencoba bersabar dengan semuanya


Erlita sudah biasa dengan hal itu. Dia sering memergoki suaminya itu bicara mesra dengan seorang wanita. Kalau di tanya, pasti bagus akan marah marah pada Erlita. Sehingga, Erlita selalu diam selama ini. Dia hanya memendam sakit hatinya sendirian.


__ADS_2