Kisah Klasik Cinta Di Masa Lalu

Kisah Klasik Cinta Di Masa Lalu
Episode Empat Puluh Lima


__ADS_3

Pada hari ketiga Fatih berada di kampung halamannya. Saat ini dia ingin pergi ke minimarket membeli kebutuhan rumah tangga pesanan isterinya, sembari membawa catatan kecil yang dia tulis tadi.


Saat sampai di dalam, Fatih nampak kelihatan sosok Erlita yang menggendong anak kecil. namun hal itu ditepis oleh pikiran Fatih,


"Ahh...nggak mungkin lah, Erlita ada disini!!"gumam Fatih pada dirinya sendiri


Sedangkan di balik rak tempat Fatih berdiri saat ini, memang ada Erlita yang kini tampak memilih milih kosmetik yang cocok untuknya. Setelah itu, tanpa sengaja Erlita menoleh ke arah kiri..


"bukankah itu Fatih??" gumam Erlita sepelan mungkin, karena Erlita saat ini berada di toko langganannya untuk membeli kosmetik. kemudian, Erlita mendatangi Fatih untuk menyapanya.


"Fatih ya...!!"sapa Erlita sopan, dia juga takut salah menyapa orang. Erlita dengan menunjuk tangannya ke arah Fatih yang bengong dan kaget melihat Erlita, setelah sekian lama mereka berpisah.


Fatih belum siap jika saat ini dia harus bertemu dengan mantan kekasihnya itu, dia belum siap dalam segala hal. Dia takut jatuh cinta lagi, disaat dia belajar mencintai isterinya. Apalagi, kini sudah ada habib, putera pertama mereka berdua. Namun, rasa terkejutnya Fatih tak lama. Kemudian, dia tersadar dengan lingkungan di sekitarnya.


"lohh, Lita ya..., Apa kabar?"Fatih mengulurkan tangan nya terlebih dahulu ke arah Erlita, dan Erlita langsung menyambutnya. Kini mereka bebincang saling menanyakan kabar dan menanyakan tentang rumah tangga keduanya.


"Bagaimana kabarmu, Lita..?"tanya Fatih yang merasakan debaran jantungnya tidak beraturan. Dan tentu saja hal itu, juga dirasakan oleh Erlita yang tampak gugup dan deh deg an disaat bertatap muka dengan Fatih, sang mantan kekasih yang sudah sekitar tujuh tahun lamanya mereka berpisah.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kabarku baik..!"jawab Erlita dengan gugup, terkadang dia menundukkan wajahnya dari Fatih. Dia langsung teringat dengan masa, disaat mereka masih bersama dulu. Dimana, Fatih selalu bersikap manis pada Erlita.


"Kabar kamu sendiri, bagaimana?tinggal dimana sekarang?"tanya Erlita dengan antusias. Sedangkan anak Erlita mulai gelisah dalam gendongan mamanya, dia selalu ingin turun dan meraih barang barang yang ada di rak toko.


"Kabar aku, juga baik. Aku masih tinggal disekitaran sini, di tempat yang dulu..ini, anak kamu, lita?"tanya Fatih yang kini mulai mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil, yang cantik jelita, kecantikan yang diturunkan dari mamanya, Erlita.


"Iyya, anak aku satu ini..!"lanjut Erlita yang menggandeng tangan kecil puterinya.


"Kamu, tinggal dimana sekarang?"tanya Fatih yang kini berdiri lagi menatap wajah Erlita. Dia merasakan getaran yang tak biasa. Benih cinta itu sepertinya, kini telah hadir kembali tanpa diminta.


"Aku, sekarang masih tinggal sama orang tuaku, karena aku sendiri, akhirnya orang tuaku melarang untuk tinggal hanya berdua dengan anak ku. ehh..maaf, kok aku jadi curhat gini..!"ujar Erlita yang merasa tak enak dengan ucapannya. Karena Erlita nggak mau mengganggu rumah tangga mantan kekasihnya.


"Ohh maaf, aku nggak tahu hal itu. Aku nggak berniat membuka luka hati kamu..!"ujar Fatih yang merasa bersalah, yang otomatis membuka luka lama Erlita.


Lalu, Fatih mengajak Erlita untuk duduk di cafetaria yang disediakan oleh pihak toko. Mereka melanjutkan perbincangan mereka tadi dengan memesan minuman hangat. Fatih memesan kopi hitam, sedangkan Erlita memesan teh susu hangat.


"Aku, beneran nggak tahu, kalau kamu saat ini sendiri, maaf ya, Lita..!"ucap Fatih yang masih merasa bersalah dengan status Erlita saat ini sebagai single parent. Tak pernah terbayangkan ,berita yang pernah disampaikan Aldo dulu, sahabatnya, itu benar adanya. "Kasihan Erlita...gumam Fatih.

__ADS_1


"Gakpapa, itu memang sudah takdirku, dan itu sudah lewat. Aku juga nggak sendiri, kini aku sudah memiliki puteriku ini, itu sudah cukup bagiku..!"ujar Erlita, yang nggak mau dikasihani oleh mantan kekasihnya. Sementara, Fatih memiliki keluarga yang lengkap, tidak seperti dirinya. Itu pemikiran Erlita.


"Maaf, kalau boleh tahu, apa sudah lama kamu yang berpisah dari suamimu..?"tanya Fatih, yang masih mengorek informasi tentang privasi Erlita. Dia kini, ingin tahu segala hal tentang Erlita.


"hemm....sejak anak aku masih usia lima bulan...!"jawab Erlita, yang membenarkan posisi duduknya, karena sang puteri ingin berada dalam pangkuannya. Sedangkan puteri Erlita, yang bernama Nadia, mulai tadi melihat ke arah laki laki yang berbincang dengan mamanya.


"Maafkan aku...apa aku boleh tahu nomor hape kamu?"ujar Fatih, yang mulai mengeluarkan hape dari saku kiri celananya. Kemudian, Erlita menyebutkan angka angka nomor hape nya. Kemudian, keduanya kini saling bertukar nomor hape. Namun Erlita tidak ada niat untuk merebut Fatih dari isterinya.


Keduanya saling berbincang hampir satu jam lamanya. Sampai mereka berdua sama sama menghabiskan minuman nya. Kemudian, Erlita berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, karena puterinya sudah waktunya tidur dan mulai rewel, karena mengantuk.


Aku pamit dulu ya, salam buat keluarga..!"ujar Erlita mengakhiri percakapan mereka. Lalu, Erlita menggendong puterinya menggunakan selendangnya.


"Oke, hati hati ya, maaf aku nggak bisa mengantar kamu..!"ujar Fatih kemudian dia membantu mengambilkan belanjaan Erlita yang ada di bawah kakinya.


"Terima kasih..!"lanjut Erlita. Kemudian dia keluar dari minimarket tersebut, lalu dia mengambil motor maticnya yang dianparkir di depan toko. Dengan perasaan yang tidak karuan, Erlita menangis dalam perjalanan ke arah rumahnya. Dia masih teringat dengan masa lalunya bersama Fatih, cinta pertamanya. Namun, kini mereka bertemu kembali di saat yang tidak tepat. Di saat Fatih bahagia dengan keluarga kecilnya, dan Erlita sebagai single parent dengan satu anak.


"Ya Tuhan...kenapa dengan hatiku ini, kenapa juga harus begini perjalanan cintaku..!"sesal Erlita dalam tangisnya. Sedangkan Nadia, sang anak, tampak sudah terlelap dalam gendongan mamanya. Dia tidak tahu menahu dengan perasaan mamanya.

__ADS_1


Erlita yang biasa cukup kencang mengendarai motor maticnya,kini, dia tidak berani cepat cepat, hanya jalan 40 km per jam. Di satu sisi, dia membawa serta sang puteri yang sedang tidur, dan juga dia lagi sedih karena pertemuannya dengan Fatih, tadi.


Dia tidak ingin mengambil resiko di jalan. Erlita harus mengutamakan keselamatan mereka berdua. Dari spion, Erlita selalu memperhatikan wajah sang puteri, dia menangisi nasib nya yang harus hidup sendiri tanpa suami. Dan anaknya harus hidup tanpa kasih sayang ayahnya.


__ADS_2