
Tak terasa, kini sudah hampir sembilan bulan lamanya, Sisca dan habib, puteranya tinggal di rumah orang tuanya Fatih. Jadi, kedua orang tua Fatih merasa senang, karena mereka tidak kesepian lagi, ada hiburan untuk orang tua Fatih yang kini punya gelar baru sebagai nenek dan kakek.
Sedangkan, adik Fatih, yang bernama Laura kini tinggal diluar kota untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dia akan pulang kampung, bila ada libur semester, itupun bila dia tidak mengikuti semester pendek di bangku kuliahnya. Laura memang menargetkan lulus kuliah harus sesuai, yakni empat tahun, dan sekarang masih masuk semester empat.
"Sisca, apa jadi fatih yang datang, besok..?"tanya ibunya Fatih dari arah dapur, yang sembari membawa kudapan untuk keluarga ke ruang tengah. Saat sore hari memang sudah kebiasaan keluarga mereka, ngobrol di ruang tengah, sembari menikmati kudapan dan minum teh bersama.
"InsyaAllah jadi Bu, tadi pagi mas Fatih telephone Sisca, katanya jadwal pemberangkatan pesawatnya jam delapan pagi tadi. Mungkin sekarang masih di jalan..!"jawab Sisca yang sembari menyusui putera ya, yang saat ini sudah berusaha sembilan bulan.
"Dia, pasti kangen anaknya...!"ujar ibunya Fatih yang saat ini memperhatikan cucunya sedang menyusu dengan kuat nya.
"Nggak cuman kangen anaknya lah Bu, dia pasti kangen isterinya juga...!"celetuk ayah mertuanya, otomatis membuat Sisca malu, hingga wajahnya bersemu merah.
"Ayah ini, ada ada saja, jangan membuat malu Sisca, kasihan dia..!"kata ibunya Fatih, yang membela menantunya, dari rasa malu nya.
Memang ayahnya Fatih, kalau menggoda tidak tahu tempat. Sedangkan, ayahnya Fatih biasa biasa saja, seperti tidak merasa bersalah, dengan santainya beliau meneruskan aktifitasnya yang membaca koran langganannya.
Tok..tok...pintu ruang depan rumah mereka, ada yang mengetuk dari luar.
__ADS_1
Ibunya Fatih langsung menuju ruang depan, untuk membukakan pintu tamunya.
"Ya ampun, nak....ibu pikir siapa..??"kata ibunya Fatih yang senang dan langsung memeluk puteranya itu.
"hehehe Iyya bu, lawong tadi pintunya dikunci, jadi, Fatih nggak bisa langsung masuk..!"ujar Fatih sambil membawa dua tas bawaannya. Satu dia letakkan di punggungnya, satunya lagi dia jinjing.
"Ayo masuk, itu kamu ditungguin isteri kamu. Panjang umur kamu nak, tadi kita ngomongin kamu loh...!"ujar ibunya Fatih yang ikut membantu membawakan tas jinjing puteranya. Dia membawa bawaan agak banyak kali ini, karena dia membawakan oleh oleh oleh mainan untuk puteranya, yang saat ini sudah berusia sembilan bulan. Sedangkan fatih berencana akan tinggal di rumah orang tuanya, selama kurang lebih satu Minggu. Setelah itu, dia berencana akan memboyong isteri dan puteranya ke kota K.
"hheemm..ngomongin Fatih yang baik baik apa yang buruk nih...!"goda Fatih pada ibunya, sembari menggandeng lengan sang ibu tercintanya, mereka berdua masuk menuju ruang tengah, dimana keluarga sudah menantinya sedari tadi. Fatih memang paling dekat dengan sang ibu, daripada dengan ayahnya.
"hhemm kamu tuh...tentu saja kami membicarakan yang baik baik, lawong kamu anak ibu yang paling tampan..!"kata ibunya Fatih yang menggoda balik sang anak. Mereka memang selalu dekat, bercanda bersama, itu sudah kebiasaan mereka, dua manusia yang berbeda usia.
Tak lama, muncul sosok Fatih dari balik tembok ruang tamu rumahnya.
"Sayang....!"ujar Fatih yang langsung menghampiri isterinya, dan mencium lembut kening sang isteri. Sisca kemudian, meraih tangan kanan suaminya, untuk dia cium punggung tangan kanannya dengan takzim.
Sedangkan kedua orang tua Fatih, langsung menuju ke belakang rumah mereka, mereka berdua memberikan ruang untuk suami isteri itu yang telah lama dilanda kerinduan. Hampir empat bulan lamanya mereka berpisah tempat tinggal, Fatih di kota K tempat dia mengais rezeqi, dan Sisca masih tinggal di rumah orang tuanya fatih. Karena pada saat usia anak mereka empat bulan, Fatih sempat pulang kampung lagi, namun hanya tiga hari lamanya.
__ADS_1
Lalu Fatih memberitahu isterinya, bahwa kedua orang tuanya mengerti bila puteranya sangat merindukan isterinya.
"Ayah sama ibu, ke belakang, mereka tahu kalau aku sangat merindukanmu, sayang..!"ujar Fatih menggoda isterinya. Fatih berusaha mencium bibir Sisca, namun Sisca mendorong dada Fatih, dia menolak dicium di tempat terbuka seperti ini.
"iihhhh...jangan disini lah, mas...kan malu, takutnya nanti pas ada orang yang masuk kesini..!"kata Sisca yang mulai celingukan ke arah belakangnya. Dan wajahnya memerah, bak kepiting rebus.
"Kamu tambah cantik, sayang..beneran nih, aku sangat rindu kamu.!"Fatih mencubit mesra pipi sang isteri. Lalu, fatihmenghampiri puteranya, habib, yang kini menangis di tempat tidurnya. Mungkin dia sadar, bahwa ayahnya telah datang.
"Oia, gimana nih kabar anaknya, ayah..!"Fatih menggendong puteranya, kemudian dia tak henti hentinya menciumi wajah, perut sang anak. Karena kegelian, tangisnya mereda, yang berganti dengan ketawa khas anak kecil.
"Wah...anak ayah, sudah besar nih. Makin pinter ajja. Sudah bisa apa ajja nih, sayang..?"tanya Fatih sembari mengangkat tinggi anaknya, dan habib mulai mengoceh dan tertawa tawa. Mungkin, anaknya itu tahu kalau saat ini ayahnya begitu merindunya.
"Habib cudah pintel panggil ayah dan ibu loh...!"ujar Sisca yang menirukan suara anak kecil. Sisca menggandeng lengan sang suami, dan menciumi lengannya. dia memang sangat merindukan suaminya.
"Apa, kamu sangat merindukan aku, sayang..?"goda Fatih sembari melihat ulah isterinya yang mulai tadi menciumi lengannya. Akhirnya, kini Fatih merasakan bagian bawahnya sudah tegak berdiri, ingin dimanjakan oleh sang isteri.
"Ayyuk sayang, kita ke kamar saja ya, aku sudah nggak tahan nih,...kita bikin adiknya habib...hehehe!"goda Fatih yang langsung mengajak isterinya, masuk ke dalam kamar mereka. Dan kini mereka bertiga naik ke lantai dua, dimana kamar mereka berada. Namun, ada peer untuk Sisca, yang harus menidurkan putera mereka terlebih dahulu.
__ADS_1
Keluarga kecil mereka tampak lengkap dan sangat bahagia. Dari arah belakang, ibunya Fatih memperhatikan interaksi keluarga puteranya. Tak hentinya sang ibu tersenyum bahagia. Kalau mau mengingat tiga tahun yang lalu, disaat sang putera,Fatih mengalami kecelakaan, keluarga besar merasa tak percaya dengan kondisi Fatih saat ini. Karena, disaat itu kondisi Fatih sangat kritis, masih diberi hidup itu suatu mukjizat dari Yang Maha Kuasa.
Sampai fatih hilang ingatan di saat itu. Dan keluarga besar saat itu tidak mau memberitahu kekasih Fatih saat itu, Erlita. Karena, mereka tidak mau, bila nantinya Erlita ikut terpuruk melihat kondisi Fatih pasca kecelakaan. Hingga akhirnya, keluarga besar Fatih mendengar kabar bahwa Erlita telah menikah, setelah sekitar tujuh bulan lamanya, tragedi Fatih yang kecelakaan. Mungkin memang mereka, Fatih dan Erlita tidak berjodoh. Begitu pikir keluarga besar Fatih saat itu.