
"Maaf pak, kami menggangu waktu bapak..!" Ujar Sutrisno mengawali pembicaraan mereka di ruangan direktur.
Fatih sendiri diam, menunggu Sutrisno selesai menyampaikan keperluannya.
"Ahh tidak, santai saja, kira kira, ada perlu apa sama saya?"tanya Andi pada Sutrisno.
"Begini pak, saya mau mengajukan cuti 3 hari, saya mau menikah kan anak saya..!"izin Sutrisno pada bos nya itu. Sembari dia agak membungkukkan badan nya di hadapan bosnya.
"Ooww, mulai tanggal berapa?"tanya Andi kemudian.
"Mulai tanggal 10 sampai 13 pak, untuk pekerjaan saya sudah saya selesaikan semuanya...!"lanjut nya. Sutrisno memang tergolong pegawai teladan di divisinya.
"Baiklah, tolong bila ada pekerjaan yang sekiranya bersifat urgent, kamu alihkan ke Fatih ya..!"lanjut pak Andi, sembari dia memandang ke arah Fatih, yang mulai tadi diam.
"Saya tunggu pengajuan surat cuti nya hari ini..!"ujar pak Andi kemudian.
Pak Andi memang terkenal bos yang baik hati dan pengertian pada sesama.
"Baik pak, terima kasih banyak..!"ujar Sutrisno tersenyum sembari dia mengatupkan kedua tangan di depan dada nya, tanda berterima kasih.
"Maaf pak, saya menyela. Saya hari ini mau izin pulang terlebih dahulu, mau memeriksakan isteri saya..!"lanjut Fatih, mengutarakan maksud kedatangannya itu.
"Sakit apa isterimu? Kan kalian yang baru menikah itu ya...!"tanya Andi pada Fatih, yang terkenal disiplin waktu dan pintar dalam bidang IT.
"Muntah muntah pak, mulai kemarin...! Rencana mau saya bawa ke dokter nanti jam 02.00...!"lanjut Fatih.
"Iyya silahkan, untuk absen nya, kamu bisa langsung ke HRD terkait jam kerjanya dan semoga isterimu lekas sehat kembali..!"ujar pak Andi kemudian.
"Baik pak. Terima kasih..!"ujar Fatih ramah.
Kini keduanya telah selesai dengan urusan mereka masing masing.
__ADS_1
"Kami berdua permisi dulu pak...!" Ujar Sutrisno mengakhiri pembicaraan mereka.
"Karena sudah juga selesai dengan urusan kami...!"lanjut nya.
Fatih hanya mengikuti Sutrisno, karena dia lebih senior dan lebih memahami watak bos mereka.
"Iyya, silahkan...!" Ujar Andi pada kedua anak buahnya. Mereka sangat loyal pada perusahaan, Sutrisno pernah 1x mendapat gelar pegawai teladan, dan untuk Fatih, belum mendapat predikat itu, karena dia tergolong pegawai baru. Yang harus di lihat kinerjanya selama 1 tahun, sedangkan Fatih, masih hitungan bulan kerja di perusahaan itu.
Sutrisno dan Fatih pun keluar dari ruangan direktur. Mereka sama sama berjalan menuju ruangan mereka yang ada di lantai 5.
"Kalau beneran isteri kamu hamil,,tokcer juga ya, kamu...!"canda Sutrisno mengawali pembicaraan mereka saat di dalam lift.
"Ya... Alhamdulillah, aku sama isteri diberi kepercayaan secepat ini..!"lanjut Fatih tersenyum bangga.
"Apa aku bilang dulu, waktu kamu diutus mengikuti pelatihan...ingat nggak? aku bilang, kalau kamu bakalan ketemu jodohmu disana. Ternyata, benar kan...!"lanjut Sutrisno, mengingatkan perkataannya dulu pada Fatih, waktu dia akan berangkat Diklat untuk sfatt baru.
Dan Fatih mulai mengingat ingat perkataan temannya itu.
"Yaaa, aku ingat itu...hahhaa!"kata Fatih tertawa renyah, dia malu kalau ingat saat itu.
"Hei...ngapain senyum senyum sendiri...!"ujar Sutrisno menyenggol bahu temannya itu.
Merekapun keluar dari lift, menuju ke ruangan mereka.
"Gakpapa, aku dulu berpikir, nggak akan bisa jatuh cinta lagi. Ternyata, itu salah...!"lanjut Fatih sambil tersenyum bahagia mengingat isterinya. Apalagi sebentar lagi, mereka akan dikaruniai seorang anak, semoga saja.
"Memangnya, kamu pernah jatuh cinta sebelumnya...?"tanya Sutrisno.
"Iyya, tapi itu dulu. Dan sekarang aku sudah nggak pernah ketemu dia lagi, sekarang dia sudah bahagia dengan keluarganya...!"ujar Fatih yang tampak bersedih, bila mengingat Erlita.
"Heii, kamu kenapa kelihatan seperti sedih gitu, saat cerita masa lalumu..?"tanya Sutrisno dengan menyenggol bahu fatih.
__ADS_1
"Ahh nggak...biasa ajja!"sangkal Fatih. Padahal dia memang terkesan sedih, bila mengingat mantan kekasihnya, yang kini sudah jadi milik orang lain.
"Sepertinya masa lalumu itu tidak akan pernah hilang dari hatimu,,aku yakin itu..!"tebak Sutrisno dengan tegas.
"Sok tahu kamu, sudah ahhh, kita harus kembali kerja..!"elak Fatih, dia nggak mau mengingat kembali luka lama nya. Semua memang salahnya, keluarga besarnya tidak memberi kabar pada Erlita, disaat dia mengalami kecelakaan.
"Ahh sudahlah, itu masa laluku. Sekarang aku sudah memiliki Sisca,..!"batin Fatih kemudian.
Dan kini, keduanya sudah ada di meja kerja mereka masing masing. Sibuk dengan rutinitas pekerjaan sehari hari. Setiap hari mereka kerja di depan komputer, dari pagi hingga sore hari, terkadang bisa lembur hingga malam hari. Tapi dari sanalah, mereka menghidupi keluarga.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, saatnya jam istirahat. Sutrisno menghampiri Fatih di mejanya, lalu ia menarik kursi kosong untuk ia duduki sendiri.
"Fatih, aku minta tolong ke kamu, selama 3 hari ke depan, bila ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, tolong kamu handle dulu ya. Semua data ada di komputer ku itu...!"ujar Sutrisno, sembari mengambil permen yang ada di meja Fatih.
"Siap,,kamu nikmati ajja cuti mu. Aku juga sebentar lagi mau izin pulang dulu ya, aku harus antar isteriku..!"lanjut Fatih, kemudian dia mematikan komputernya sendiri, dan membereskan segala sesuatu yang berantakan di meja.
"Oia, ini undangan pernikahan anak ku, aku harap kamu bisa datang...!"Sutrisno memberikan kartu undangan pernikahan berwarna coklat keemasan pada Fatih. Hanya teman yang dia kenal baik saja yang dapat undangan dari Sutrisno. Karena dia nggak enak bila mengundang teman yang beda divisi sama dirinya.
"Iya, aku usahakan untuk datang, tapi aku kemungkinan nggak bisa ajak isteriku..!"lanjut Fatih.
"Gakpapa, yang penting itu kamu bisa datang. Aku do'akan semoga ada kabar baik dibalik sakitnya isterimu...hehehe!"ujar Sutrisno sembari menepuk bahu Fatih.
"Oke, makasih. Aku mau pulang dulu ya, kasihan isteriku sudah menunggu mulai tadi..!"kata Fatih yang merasa nggak enak sudah memotong pembicaraan Sutrisno.
"Nggak masalah. Hati hati bro..!"ujar Sutrisno, lalu dia sendiri meninggalkan meja Fatih, menuju ke kantin untuk makan siang. Biasanya dia akan makan bekalnya, namun hari ini Sutrisno tidak membawa bekal, karena isterinya sibuk dengan pesanan kue.
Kini, Fatih turun menuju ruang HRD untuk absen pulang lebih awal. Setelah absen, Fatih menuju tempat parkir dimana mobilnya berada. Dengan santai, Fatih mulai mengemudikan mobil hitamnya, yang dia dapat dari hasil kerja kerasnya selama ini.
Siang itu, jalanan tidak begitu padat, karena belum waktunya jam pulang kerja karyawan.
Tapi bila pagi dan sore hari, jalanan akan tampak padat, hingga susah bagi pejalan kaki untuk menyeberang jalan.
__ADS_1
Fatih, dalam perjalanan pulang ke rumahnya melewati rumah sakit tempat dia akan memeriksakan isterinya.
Setelah menempuh perjalanan waktu, sekitar 20 menit. Kini, Fatih sudah tiba di rumahnya. Dia langsung memarkirkan mobilnya di depan rumah.