Kisah Klasik Cinta Di Masa Lalu

Kisah Klasik Cinta Di Masa Lalu
Episode Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Kini, Nadia , puteri dari pasangan Erlita dan bagus sudah berusia tiga bulan. Dia sudah belajar meraih mainan yang warnanya mencolok,  sudah bisa tersenyum dan mengoceh, sudah kuat mengangkat kepalanya. Tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian Erlita, sebagai orang tuanya. Dia dokumentasikan di tiap tumbuh kembang puterinya.


Dengan hadirnya Nadia di kehidupannya, membuat Erlita kuat dalam segala hal. Termasuk, dalam menghadapi persoalan rumah tangganya yang kian hari makin tidak menemukan titik terang.


Contohnya, hari ini. Suaminya sudah dua hari tidak pulang ke rumahnya, setelah pulang malah hanya mengambil beberapa pakaian nya, dengan alasan ada rapat di luar kota.


"Mas, kamu kenapa sudah 2 hari nggak ada pulang ke rumah..?"tanya Erlita pada bagus, yang baru saja datang, sedangkan Erlita saat itu lagi menyusui bayi mereka di kamarnya.


"Aku, ada rapat di luar kota...!"jawab bagus singkat, tanpa menoleh pada isterinya. Bagus langsung mengambil beberapa helai bajunya, lalu dia masukkan di tas yang dibawanya sekarang.


"Kamu, ngapain bawa baju segala mas? mau kemana lagi..?" tanya Erlita heran dengan tingkah suaminya itu. Kemudian, Erlita menidurkan bayinya di tempat tidurnya. Lalu, dia dekati suaminya.


"Mas, aku tanya sama kamu, untuk apa kamu bawa baju kamu itu? mau kemana?"tanya erlita. Kini, Erlita menatap kedua mata suaminya itu.


"Untuk persediaan baju ganti aku, di rumah sakit. Kamu nggak usah banyak tanya, ini juga demi masa depan kita..!"kata bagus yang menjawab dengan nada tinggi. Tentu saja itu membuat kaget Erlita. Lalu, Bagus menyibukkan diri dengan menata bajunya yang baru dia ambil di lemari, ke tas ranselnya.


"Mas, aku tanya ke kamu baik baik, tapi kamu malah emosi. Apa aku salah, bila bertanya ke suamiku?kamu itu sudah 2 hari loh mas, nggak pulang, tanpa kabar. Dan sekarang malah mau bawa bajumu segala. Sebenarnya, kamu itu pulang kemana selama ini..?"tanya Erlita yang kini mehanan air matanya untuk keluar. Dia rasanya sudah tidak sanggup lagi dengan kondisi rumah tangga seperti ini.


Sedangkan bagus yang ditanya, hanya diam. Dia masih asyik dengan kegiatannya yang menata bajunya.


"Aku itu, sibuk di rumah sakit. Aku harus mempertahankan rumah sakit keluarga ku itu tetap bertahan di tengah kondisi perekonomian negara seperti ini. Kamu harus paham itu..!"terang bagus akhirnya.


Namun Erlita, tidak semudah itu percaya pada suaminya. Karena dia sebagai seorang isteri, tentunya ada perasaan yang membuat dirinya peka akan perubahan sang suami.


"Apa, kamu punya wanita lain, mas..?"tanya Erlita pelan namun penuh penekanan, akhirnya dia sudah tidak sanggup memendam sakit hatinya selama ini. Dia lakukan semua ini demi puterinya. Dia tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain.

__ADS_1


"Kalau iya, memangnya, kenapa?kan aku laki laki..!"jawab bagus dengan tingkah pongahnya. Dia mau jujur saja saat ini pada isterinya itu, dia juga lelah sembunyi sembunyi dari Erlita. Tapi, dia tetap akan mempertahankan Erlita. Apa salahnya poligami..!batin bagus.


Erlita langsung syok dengan jawaban suaminya itu, dia sebenarnya sudah tahu jika bagus punya wanita lain, tetapi, Erlita belum siap menerima kenyataan itu. Dia belum siap segalanya. Kini, hanya tangisan yang keluar, dia tidak sanggup berkata kata.


"Kamu, tenang saja. Meskipun aku punya wanita lain, aku tidak akan menceraikan kamu. Aku mau izin ke kamu, untuk segera menikahinya..!"kata bagus dengan mantap, tanpa memikirkan perasaan Erlita. Bagus merasa lega sudah mengungkapkan semuanya.


"Siapa, wanita itu.?"tanya Erlita singkat. Dia harus kuat kali ini, demi puterinya.


"Kamu mengenalnya kok, dia pernah kesini juga.!"ujar bagus, kemudian dia meraih hapenya yang kini berdering, tanda ada panggilan masuk. Tampaknya dari kekasih gelapnya, karena bagus langsung menjauh dari Erlita.


Ya,sayang...,"kata bagus.


Iya, sebentar lagi aku kesana. Kamu tunggu saja. Sabar ya sayang..!"ucap bagus lagi.


Kemudian telephone nya dia tutup. Lalu, bagus kembali ke hadapan Erlita, dia akan mengungkap keinginan nya selama ini.


"Aku ingin, kita bercerai mas..!"kata Erlita dengan tegas, yang akhirnya membuat bagus terkejut. Dia tidak akan menceraikan isterinya, dia tetap akan mempertahankan rumah tangganya.


"Apa apa an kamu ini..!aku tetap akan mempertahankan kamu, sampai kapanpun kamu tetap isteriku...!"jawab bagus dengan suara meninggi. Tak ayal, itu membuat Nadia kaget, dia langsung menangis. Padahal belum waktunya dia bangun.


Erlita kini langsung berlari ke arah tempat tidur puterinya itu, dia gendong, dia berusaha menenangkan nya dengan ia kasih ASI. Dia harus bisa menahan emosinya demi sang puteri kecilnya.


"Apa, kamu nggak pernah berpikir sebelumnya mas, kalau kamu sudah menyakiti aku, juga menyakiti anakmu..?"tanya Erlita dengan berlinang air mata, sembari dia menatap ke arah suaminya, dia tidak tahan lagi merasakan sesak di dada nya.


"Tentu saja aku berpikir. Makanya, kamu tetap akan jadi isteri pertamaku, dan Sintia akan jadi isteri kedua ku.., aku rasa itu cukup adil..!"ujar bagus tanpa ada rasa salah saat dia berucap hal itu.

__ADS_1


"Adil menurut kamu mas. Aku tetap akan menggugat cerai kamu mas, aku nggak mau kamu madu!!"tangis Erlita sudah tak terelakkan, dia menyusui sembari menangis di hadapan sang puteri, tentu saja hal itu membuat puterinya ikut menangis. Dia pasti bisa merasakan, bila saat ini mamanya sedih.


Kemudian, Erlita berusaha menenangkan puterinya. Dia usap air matanya sendiri dengan punggung tangan kanannya.


"Sudahlah, kamu nggak usah berpikir yang tidak tidak ingin bercerai dariku. karena, aku tidak akan menceraikan kmu. Aku mau keluar dulu, nanti malam aku pulang. pikirkan baik baik..!"ujar bagus sembari berlalu dari isterinya, tanpa dia mempedulikan anaknya yang tetap menangis.


Kemudian, Erlita mengambil hape dari atas nakas. Setelah itu, dia meletakkan kembali Nadia, diatas tempat tidurnya. Dia mencoba menghubungi orang tuanya. Dia berencana untuk pulang ke rumahnya hari ini juga.


"Hallo, ibu...ini Erlita!"ucap Erlita sembari dia menahan tangis, supaya ibunya, tidak menaruh curiga.


"Iyya, nak..!"kata ibunya Erlita dari seberang.


"Erlita, berencana mau pulang Bu.."ucap Erlita.


"Owalahh ndukk...mau pulang ajja kok laporan sama ibu, ya sudah pulang ajja, ibu tunggu. Oia, gimana kabar Nadia sama suami mu.?"tanya beliau dengan lembut, masih belum curiga dengan keadaan rumah tangga puterinya.


"Nadia, sehat Bu. Dan mas bagus....juga baik.!"ucap Erlita, dia tidak mau menceritakan masalah nya di telephone, dia harus bercerita langsung.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Kamu pulang sama suami kamu kan, nduk..?"tanya ibunya Erlita.


"Nggak Bu, saya kemungkinan pulang hanya berdua dengan Nadia. !"kata Erlita kemudian.


"Loh..lohh kenapa kok nggak bareng Sama suami kamu?"tanya ibunya Erlita dengan cepat.


"Nggakpapa Bu...mas bagus masih sibuk dengan pekerjaannya, Erlita berani kok Bu...!"lanjut Erlita.

__ADS_1


namun hal itu justru ditentang oleh ibunya, dia nggak mau ada apa apa dengan anak dan cucunya di jalan. Namun, Erlita sudah mantap dan bertekad untuk pulang sendirian, dia segera ingin bercerai dari suaminya.


__ADS_2