
Sudah hampir 1 jam lamanya Erlita menahan sakit di perut, pinggang dan seluruh tubuhnya, namun belum ada tanda tanda petugas untuk melakukan pemeriksaan kembali padanya.
Karena tadi sewaktu pasien baru datang, petugas sudah melakukan pemeriksaan pada Erlita, dan hasilnya masih pembukaan dua, masih lama.
"Ibu Erlita, saya permisi mau melakukan pemeriksaan pada ibu ya, nanti ibu dengarkan instruksi saya. Saya lakukan pemeriksaan dalam dulu ya bu, nanti Tarik napas dari hidung, dan nanti lepaskan dari mulut. Bisa ya Bu...?"instruksi petugas kesehatan yang bernama bidan Yunita. Sembari dia mengambil *handscoen untuk memulai pemeriksaan pada Erlita.
"Iyya..!"ujar Erlita mengangguk sembari mendesis menahan rasa sakit, sesekali erlita mencengkeram sprei rumah sakit saat dia tidak bisa menahan sakit di perutnya, akibat kontraksi.
"Baik Bu, sekarang tarik napas...!"ujar ibu bidan Yunita, sembari dia melakukan pemeriksaan dalam pada Erlita.
Setelah selesai dengan pemeriksaan nya.
"Sudah pembukaan 6 Bu, semangat ya Bu, ini audah hampir..!"ujar bidan Yunita menyemangati Erlita.
Sedangkan Susi dengan setia berdiri di samping kanan Erlita, sesekali Susi mengelus punggung tangan dan bahu majikannya itu, untuk memberi semangat.
Kemudian telephone susi berdering,,,
"Sebentar ya nyonya...!"ucap Susi pada Erlita, kemudian dia keluar ruangan.
"Susi, kamu ada dimana?"tanya mama bagus, yang bicara dari seberang, terdengar suara bising karena sekarang memang berada di tempat keramaian.
Hingga kini, bagus, suami Erlita belum juga menampakkan batang hidungnya. Sungguh keterlaluan majikan laki lakinya itu, disini isterinya mempertaruhkan nyawa, untuk melahirkan buah hati cinta mereka. Ehh ..bagus malah belum ada kabar. Untung saja mertua Erlita sangat perhatian pada menantunya.
Dan kini orang tua Erlita, pak Mahmud dan Bu siti datang dari arah depan UGD, mereka berdua tampak tergesa gesa. Lalu mereka menanyakan keberadaan pasien atas nama Erlita pada petugas resepsionis rumah sakit.
Pak Mahmud dan Bu siti mendengar berita persalinan puteri mereka itu juga dari Susi yang ngabarin, dia ngabarin waktu di dalam taxi, waktu perjalanan membawa majikannya itu ke rumah sakit.
"Bu Erlita masih di dalam ruang tindakan Bu,,,ibu erlita ini yang mau melahirkan nggeh bu..?" Tanya petugas resepsionis yang kini bertugas, sembari dia mencari nama Erlita di layar komputernya.
__ADS_1
"Iyya benar mbak, puteri saya memang mau melahirkan, apa saya sekarang bisa menemuinya mbak??"tanya ibu Susi pada petugas tersebut.
"Bisa Bu, tapi hanya ibu yang masuk, sedangkan bapak boleh tunggu diluar dulu..!"jawab petugas mempersilahkan ibu Susi untuk menemani puterinya, sedangkan pak Mahmud menunggu diluar. Sembari dia Wira Wiri tidak tenang memikirkan puterinya yang saat ini bertaruh nyawa untuk melahirkan cucunya.
Ibu Susi segera masuk ke dalam UGD, dia masuk ke dalam ruang tindakan persalinan, dimana ada beberapa bilik kamar di dalamnya, dan Erlita kini ada di bilik kamar nomor 5.
Dan ibu Susi segera menghampiri puterinya yang sedang berbaring setengah duduk sambil memegangi pinggangnya.
"Sayang...ini ibu datang nak..!"kata ibu Susi pada puterinya yang sedang kelelahan. Ibu Susi langsung merangkul tubuh Erlita dan mencium pipinya.
"Suamimu mana...?"tanya ibu Susi kemudian.
"hhmm...mas bagus sibuk, Bu. Mungkin masih dalam perjalanan dari rumah sakit kesini..!"kata Erlita dengan suara mendesis, karena dia juga capek menghubungi suaminya yang tidak ada balasan sama sekali. Aneh memang, tapi memang itu kenyataan nya.
"Lalu, Susi sekarang kemana..?"tanya ibu Susi, sambil sesekali melap peluh puterinya dengan tissue.
"Bu, minta tolong ambilkan minum itu,,,!"tunjuk Erlita pada minuman teh manis yang ada di meja sebelah ranjangnya.
"Ini nak, kamu harus kuat ya, demi keselamatan kamu dan calon anakmu ini...!"ucap ibu Susi sambil mengelus perut buncit puterinya.
"Cucunya Oma..cepet lahir ya, jangan lama lama, kasihan mama mu nak .!"do'a ibu Susi sembari mengecup perut nya Erlita.
Dan kini Erlita tampak kesakitan sangat, dia sudah tidak bisa menahannya lagi, sepertinya sakit nya kali ini, sudah mau lahiran.
"Bu,,,sakit..!"ujar Erlita yang mencengkeram baju ibunya.
"Iyya nak, sebentar, ibu panggilkan petugasnya dulu...!"ujar ibu Susi, dan langsung menghampiri ruang petugas, menyampaikan bahwa puterinya sudah mau lahiran.
Setelah ibu Susi kembali ke bilik kamar Erlita, bersama dengan bidan Yunita serta asistennya yang membantu persalinan Erlita,
__ADS_1
"Maaf ibu ibu, dimohon yang mendampingi pasien cukup 1 orang sajja ya. Demi kenyamanan pasien juga..!"ujar bidan Yunita ramah pada orang tua dan mertua erlita.
"Ini sepertinya ibu Erlita sudah pembukaan lengkap, saya mau memimpin persalinannya..!"ujar bidan Yunita pada keluarga Erlita.
"Baik Bu, kalau begitu, biar ibu Susi saja ya yang menemani Erlita,. Saya dan Susi menunggu diluar saja..!"ujar mamanya bagus kemudian. Dia tahu, Erlita saat ini pasti inginnya ditemani oleh ibunya sendiri daripada dirinya. "Mestinya, bagus sekarang yang menemani istrinya ini..!"batin mamanya bagus, yang sangat kecewa dengan puteranya itu.
"Saya keluar dulu ya Bu,,,!"beritahu mamanya bagus pada besannya, ibu Susi.
Lalu kini mamanya bagus dan Susi menunggu diluar ruang tindakan. Mereka duduk di lorong rumah sakit, tapi masih di sekitar ruang bersalin. Kemudian mamanya bagus mencoba menghubungi kembali puteranya. Pada panggilan ketiga, baru diangkat oleh bagus.
"Bagus...kamu itu keterlaluan banget ya,,,sekarang isterimu ada di rumah sakit..!"kata mamanya bagus dengan nada tinggi menahan emosi pada puteranya, dia sangat malu pada tingkah putera tunggalnya itu.
"Memangnya Erlita kenapa, ma...?"tanya bagus tanpa dosa, dengan suara orang bangun tidur.
"Apa dia memang sesibuk itu, sampai tidak bisa pegang hape nya, atau jangan jangan dia ada main dengan wanita lain ya, sampai berani mengabaikan isterinya yang lagi hamil besar...!"Batin mamanya bagus.
"Kamu tuhhh keterlaluan banget, Erlita sekarang mau melahirkan anak kalian, cepetan datang ke rumah sakit S, jangan bikin malu mama papa..!"emosi mamanya bagus saat ini sudah tidak bisa ditahan, dia sangat kasihan pada menantunya, yang berjuang sendirian. Untung ada Susi.
"Iyya Iyya, ma...bagus segera datang!!"ujarnya kemudian, yang langsung menutup telephone nya.
"Apa den bagus sudah bisa dihubungi, nyonya..?"tanya Susi takut takut, Susi mulai tadi duduk termenung di depan mantan majikannya itu. Dia memang tadi sayup sayup mendengar kemarahan mantan majikannya itu di telephone.
"Sudah, sebentar lagi dia kesini. Sekarang, saya ingin kamu jujur sama saya..!"ujar mamanya bagus yang menatap Susi dengan intens, dia ingin mengorek rumah tangga anaknya dari ART mereka. Susi pastinya tahu semuanya ."batin mamanya bagus.
"Eehhmm,,saya harus jujur apa nyonya..?"tanya Susi dengan wajah ketakutan.
"Coba sekarang cerita ke saya, apa memang sering bagus meninggalkan isterinya sendirian di rumah..?"tanya mamanya bagus yang langsung menatap tajam ke mata Susi.
Susi langsung menunduk, dia takut dengan jawaban yang akan dia sampaikan pada mamanya bagus. Susi menunduk sembari memainkan ujung bajunya, dia sangat gugup kali ini.
__ADS_1