
Kini Sintia semakin berani menampakkan dirinya di depan umum yang berusaha mendapatkan bagus. Contohnya, saat ini. Sintia berani menemui bagus di tempat kerja.
Biasanya mereka akan bertemu secara sembunyi sembunyi, entah itu di hotel atau di rumah yang dihadiahkan bagus untuk dirinya.
"Apa, dokter bagus ada di tempat..?"tanya Sintia pada satpam rumah sakit yang bertugas di lobi.
"Maaf, ibu, siapa nya dokter bagus?"tanya balik satpam, namanya Hendro, yang diketahui dari nama yang melekat pada dada bagian kiri nya.
"Saya Sintia, bilang saja saya disini, dan saya sudah bikin janji sama beliau..!ucap Sintia dengan penuh penekanan. Kini, Sintia jadi sorotan karena penampilannya yan cukup ****.
Sintia memakai baju atasan ketat warna putih dengan motif bunga di bagian depan, lengan pendek, sebatas diatas sikunya. Untuk bawahan dia memakai rok pendek warna hitam, yang hanya beberapa Senti diatas lutut.
Kemudian, satpam yang bernama Hendro menghampiri Sintia yang sedang menunggu di kursi depan lobi.
"Dengan ibu Sintia..dokter bagus menunggu anda di ruangannya. Anda bisa naik di lantai 4, disana ada ruangan direktur, anda bisa masuk..!"penjelasan Hendro pada Sintia dengan sopan.
"Baik, terima kasih..!"ujar Sintia, kemudian dia langsung menuju ke arah lift.
Kebetulan di dalam lift hanya ada petugas rumah sakit yang hendak naik ke lantai 6. Dan Sintia memencet tombol 4, itu artinya dia menuju ke ruangan direktur. Bagi petugas rumah sakit yang melihat penampilan Sintia saat ini, mereka sangat heran, karena baru kali ini ada pengunjung rumah sakit berpakaian ****, dan dia menuju ke ruangan direktur. Mereka saling berpandangan satu sama lain, melihat Sintia yang menurut mereka janggal dari penampilannya saja.
Kemudian muncullah angka 4, di bagian dinding atas lift, itu artinya lantai yang dituju oleh Sintia. Sedangkan penumpang lift yang lain melanjutkan perjalanannya ke lantai atas.
"Perempuan tadi **** sekali, baru kali ini ya, direktur kita, menerima tamu yang penampilannya sangat ****...!"ujar laki laki yang memakai tutup kepala warna hijau pada temannya.
"Iyya, jangan jangan...!"seringai teman satunya, juga seorang pria, yang juga memakai tutup kepala warna hijau. Tapi, mereka tidak berani melanjutkan gunjingan tentang direktur mereka lama lama, bisa bisa mereka dipecat. hehehe
Ternyata mereka itu dokter yang bertugas di rumah sakit milik Bagus. Mereka mau menuju ke ruang kamar operasi yang ada di lantai 6, lantai paling atas.
__ADS_1
Dan kini, Sintia nampak terpukau dengan rumah sakit milik kekasihnya itu. Dia berjalan menuju ruangan direktur sembari tersenyum yang mencurigakan.
"Nggak rugi aku, bila merebut bagus dari isterinya..!"gumam Sintia pada dirinya sendiri.
Sekarang, Sintia sudah sampai di ruangan yang bertuliskan Direktur Rumah Sakit.
"permisi, hhmm dokter bagusnya ada..!"tanya Sintia dengan sopan, pada wanita berkerudung coklat, yang di depannya ada komputer dan sejumlah tumpukan kertas kertas. Dia adalah asisten bagus, namanya Fitri.
Kemudian, Fitri langsung berdiri dari kursinya...
"maaf, dengan ibu Sintia ya...!"tanya Fitri balik, sambil menelisik penampilan tamunya itu, yang cukup heboh menurut pandangan Fitri.
Beda sekali dengan penampilan isteri dr.bagus, yang sopan, lemah lembut dan tak kalah cantik tentunya..gumam Fitri dalam hatinya.
"Iyya..!"jawab Sintia dengan singkat.
"Ibu sudah ditunggu dokter bagus di dalam, silahkan masuk..!"ujar Fitri pada tamu direkturnya itu, sembari dia menunjuk ke arah pintu ruangan direktur.
Tokk...tokkk....
"Masukk..."kata bagus, dari dalam ruangannya.
Kemudian, Sintia langsung masuk ke ruangan sang kekasih hatinya, dengan senyum manis dan tentunya dengan sikap manjanya.
"Sayang...!"kata Sintia dengan manja, yang langsung menghampiri bagus di meja kerjanya, kemudian dia langsung duduk di pangkuan bagus.
Sedangkan bagus kaget dengan sikap kekasih gelapnya itu, dia juga takut ketahuan orang lain, bila tiba tiba ada orang yang datang ke ruangannya itu.
__ADS_1
"sayang, kenapa kesini?kan bisa tunggu aku di rumah...!"kata bagus yang berusaha melepaskan tubuh Sintia dari pangkuannya. Namun Sintia malah merangkul bagus dengan erat.
"hhmm,,,kamu nggak suka ya, aku datang kesini, menemani kamu kerja..!"rajuk Sintia sembari dia mendekatkan wajahnya pada bagus.
"Bukannya begitu, coba ini, penampilan kamu sangat ****, aku takut orang lain akan memperbincangkan aku, kamu, harus paham itu, kalau sampai didengar oleh keluargaku, kan bisa jadi Masalah besar bagi kita...!"kata bagus yang mulai merendah suaranya, dia takut kekasihnya itu akan marah padanya.
"Lain kali kalau mau kesini, kasih kabar dulu. Dan jangan berpenampilan seperti ini, tubuh kamu itu hanya untuk aku seorang, aku nggak pengin kamu jadi pusat perhatian. .!"kata bagus yang merasa cemburu dengan penampilan kekasihnya yang sangat ****.
"hhmm kamu cemburu ya...!"lanjut Sintia yang berusaha menggoda bagus, namun bagus masih tetap dengan pendiriannya, dia masih berusaha menjauhkan dirinya dari sang kekasih.
"Aku tuh kesini, karena kangen sama kamu, sudah 2 hari kamu nggak datang ke rumah, sayang...!"kata Sintia dengan manja.
Lalu, bagus berusaha merayu sintia untuk duduk di sofa yang ada di seberang meja kerjanya. Dia nggak mau dipergoki oleh orang lain, disaat kini dia bersama Sintia. Belum saatnya dia mempublikasikan Sintia di depan umum..! Batin nya.
Kemudian, Fitri, asisten nya bagus, ingin meminta tanda tangan direktur mereka, ada banyak surat yang masuk hari ini, dan dia harus segera memberitahukan bos nya itu
Tok..tok..tok..., Fitri mengetuk daun pintu ruang kerja bos nya. Dan kemudian ada suara "masuk"dari arah dalam ruangan. Dan itu merupakan suara bagus, sang pemilik ruangan.
"maaf pak, mengganggu waktunya..!" ujar Fitri kemudian. Sembari dia membawa tumpukan dokumen yang harus diselesaikan hari ini juga.
"ya, ada apa..?"tanya bagus pada asistennya itu, untungnya, pas Fitri masuk, Sintia sudah duduk manis di sofa empuk milik nya. Jadi, dia tidak akan menanggung malu.
"ini, ada beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani, pak. Dan harus selesai hari ini juga..!"ujar Fitri pada bagus yang menjabat sebagai direktur rumah sakit, tempat dia mengais rezeki.
Fitri langsung meletakkan tumpukan dokumen tersebut, diatas meja kerja sang direktur. Lalu Fitri pamit undur diri dari ruangan direktur, dia harus kembali ke tempat semula, sebelum ada akhir cerita yang menegangkan.
Sedangkan di kediaman bagus. Erlita, justru berusaha menenangkan puterinya yang rewel, tidak hentinya dia menangis keras. Sampai membuat bingung Erlita dan juga bik Susi.
__ADS_1
Sudah di beri ASI, diganti bajunya, mungkin saja dia gerah, di gendong, tapi tetap rewel.
Mungkin puteri kecil mereka, Nadia. merasakan bahwa saat ini papanya telah menyakiti hati mamanya yang telah melahirkan dia ke dunia.