Kisah Klasik Cinta Di Masa Lalu

Kisah Klasik Cinta Di Masa Lalu
Episode Empat Puluh Sembilan


__ADS_3

Erlita mengambil hape nya yang dia letakkan di atas ranjangnya, kemudian dia mencari aplikasi pesan berlogo hijau itu. Lalu Erlita menscroll ke atas percakapan terakhirnya dengan Fatih.


Erlita dengan cepat mengetikkan pesan ke Fatih.


"Fatih, maaf, aku baru membalas pesanmu. Aku terima tawaranmu untuk lowongan dokter di perusahaan tempatmu bekerja..!"pesan Erlita terkirim. Lalu, dia letakkan kembali hape nya di atas nakas, sementara Erlita mau mandi, karena dia mau ke minimarket untuk menyiapkan keperluan Nadia, sebelum Erlita tinggal bekerja di kota K.


"Mumpung Nadia masih tidur, aku harus segera belanja sekarang..!"ujar Erlita pada dirinya sendiri. Dia mandi dan berganti pakaian dengan cepat, yang penting berpakaian masih sopan.


Kemudian, Erlita izin keluar pada orang tuanya dan dia menitipkan nadia yang sedang tidur, pada ibunya yang saat ini sedang menyapu teras depan.


"Bu...Erlita, nitip Nadia dulu ya, mumpung sekarang, dia masih tidur. Lita, mau belanja kebutuhan Nadia, Bu..!"ucap Erlita dengan sopan. Lalu setelah dijawab dengan aggukan, Erlita berlalu ke garasi dimana motornya diparkir.


Erlita kemana mana selalu mengendarai motor matiknya, dia selalu memakai pelindung kepala demi keselamatannya sendiri. Tak lupa, Erlita juga membawa surat berkendaranya.


"Hati hati, nak..!",ujar ibunya Erlita dari teras rumahnya. Namun, tidak sempat di dengar dengan baik oleh Erlita.


"Kebiasaan tuhh anak..!"gumam ibunya Erlita, sembari tersenyum. Dia bahagia bila melihat puterinya juga bahagia.


Semoga saja keputusan kedua orang tua Erlita melepas nya kembali saat ini, ke tempat yang jauh untuk bekerja, merupakan keputusan yang tepat. Itu merupakan harapan kedua orang tua Erlita.


Hampir dua jam lamanya, Erlita belanja untuk memenuhi kebutuhan puterinya, diantaranya belanja susu formula, Pampers, beberapa baju, bedak bayi, cemilan. Dan kebutuhan itu cukup untuk satu bulan lamanya. Selama nanti dia bekerja di kota K, Erlita pasti akan merindukan puterinya.

__ADS_1


"Sudah datang kamu, nak..!"ujar ibunya Erlita, yang melihat Erlita datang membawa banyak belanjaan di tangan kanan dan kirinya. Beliau kebetulan sedang bermain di teras bersama cucunya, Nadia.


"Iyya, Bu. Maaf Erlita agak lama, tadi jalanan ramai dan minimarket nya juga antri orang yang belanja. Maklum, sekarang tanggal muda..!"ujar Erlita sembari dia meletakkan kresek belanjaannya di lantai. Dia langsung mencuci tangan di wastafel teras rumahnya. Dan meraih puterinya yang asyik duduk di kursiny, untuk dia pangku dan dia ciumi.


Melihat hal itu, ibunya Erlita menitikkan air matanya tanpa disadari. Betapa dia nggak tega melihat Nadia, yang dalam hitungan hari, akan berpisah jauh dari mamanya, demi pekerjaan yang di impikan oleh Erlita selama ini. Beliau tahu, bahwa semenjak lulus kuliah, Erlita ingin bekerja, namun dilarang oleh suaminya kala itu. Tapi, tak apa, itu semua demi masa depan Nadia.


"Nak, lebih baik, kamu ganti baju sama dulu geh...biar Nadia sama ibu dulu!"ujar ibunya Erlita yang ingin mengambil Nadia dari pangkuan Erlita. Namun, Nadia menolak, dia langsung menangis. Sepertinya Nadia juga enggan jauh jauh dari mamanya, mungkin dia tahu, bahwa lusa mamanya akan pergi jauh.


"Cup...cup..cup... Sayang, anak mama yang cantik..!"Erlita berusaha menenangkan puterinya. Dibawanya Nadia jalan jalan di depan rumah, melihat lalu lalang kendaraan, biasanya dia senang bila diajak jalan jalan. Ternyata benar, tak lama kemudian, Nadia diam. malah dia menunjuk ke arah orang jualan balon.


"Ooww, Nadia mau balon itu..!"tanya erlita senang melihat puterinya berhenti menangis. Nadia hanya tertawa senang yang terus mengajak ke arah balon. Akhirnya Erlita membelikan dua balon yang ditunjuk Nadia, yakni merah dan kuning. karena sekarang Nadia sudah mengenal beberapa warna.


Ternyata tidak berselang lama, beliau melihat puterinya menggendong Nadia ,sambil membawa dua balon. Kini, sang nenek bisa bernapas lega.


"Owalah nduk...ternyata dia ada maunya ya...!"senyum ibunya Erlita pada dua wanita beda generasi, yang selalu membuat hatinya terhibur dengan kehadiran mereka.


Kemudian Erlita menyerahkan Nadia pada sang nenek, karena dia sendiri gerah ingin mandi setelah berpanas panasan. Nadia menurut saja, dia lalu main balon di dalam rumah, sembari diberikan cemilan kesukaannya.


Setelah Erlita masuk di dalam kamarnya, dia mengecek kembali hapenya, siapa tahu ada pesan balasan dari Fatih. Ternyata, benar. Fatih membalas pesannya kurang lebih satu jam yang lalu. Pas disaat Erlita keluar belanja.


Dalam pesannya tersebut, Fatih memberitahukan bahwa mereka harus berangkat ke kota K, besok sore pukul enam dengan menggunakan armada pesawat, dan Fatih juga sudah memesankan tiket berangkat untuk mereka berdua.

__ADS_1


Kemudian Erlita mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Fatih.


"Terima kasih, Fatih. Kemungkinan sampai disana kan malam, penginapannya bagaimana?"pesan Erlita terkirim, dan langsung muncul centang dua, yang tandanya langsung dibaca oleh Fatih.


Dengan deg deg an, Erlita menunggu pesan balasan dari Fatih. Dia berdo'a semoga Fatih tidak memanfaatkannya, benar benar dia berniat membantu Erlita sebagai sahabat.


"Untuk penginapan, sudah aku sediakan juga. Di dekat bandara ada, dan paginya, kamu bisa langsung interview dengan pihak perusahaan, siapkan saja surat lamarannya..!"pesan balasan Fatih langsung dibaca oleh Erlita. Dia sangat bersyukur bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan pasca pertemuannya dengan Fatih tempo hari.


Fatih memang punya jabatan di tempatnya bekerja. Sekali Fatih minta tolong untuk posisi di perusahaan, pasti permintaannya itu akan diperhitungkan oleh pihak manajemen. Fatih terkenal cerdas dan loyal. Jadi, perusahaan merasa beruntung memiliki pekerja seperti Fatih.


Tak lama kemudian, Erlita kembali mengetikkan kata kata untuk membalas pesan dari fatih


"Terima kasih, sekali lagi, maaf aku sudah merepotkanmu.!"pesan balasan dari Erlita untuk Fatih. Memang Fatih menunggu pesan dari Erlita, yang sejak tadi Fatih ada di cafe langganannya. Dia rela berlama lama disana, demi bisa bebas berkirim pesan dengan Erlita.


Fatih tidak ada maksud untuk menduakan isterinya, namun, hati Fatih masih belum bisa memutus rasa cintanya pada Erlita. Biar waktu yang menjawab semuanya. Begitu pikir Fatih.


Fatih, memang merencanakan akan menyatakan cintanya kembali pada Erlita, bila mereka sudah sampai disana. Dia tidak bisa menahan nya lama lama. Fatih tidak peduli dengan statusnya sekarang, Fatih yang masih memiliki isteri, maupun Erlita yang sudah janda dengan satu anak.


Fatih, akan poligami, asalkan dia bisa adil dengan kedua isterinya. Dan Fatih berharap Erlita akan menerimanya kembali, itu yang terpenting.


Sebenarnya, masih ada getaran cinta di hati Erlita untuk Fatih, buktinya di saat mereka saling berkirim pesan, selalu ada rasa deg deg an di hatinya, dan terakhir mereka yang bertemu di pusat pertokoan tempo hari, Erlita bisa merasakan kalau kala itu, jantungnya berdebar debar. Namun, hal itu selalu dipungkiri oleh Erlita, karena dia tidak ingin menyakiti isterinya Fatih.

__ADS_1


__ADS_2