
Kini, Erlita telah sampai di tanah kelahirannya, tepatnya di kota J. Dia keluar dari rumahnya sendiri tanpa sepengetahuan suaminya, yakni bagus. Dia akan menggugat cerai suaminya, dia nggak mau bila dimadu, lebih baik dia berpisah. Dan Erlita akan mengambil hak asuh puterinya.
Tok..Tokk...Tokk..
Erlita mengetuk pintu, rumah orang tuanya, tempat dia di besarkan.
"Ya ampun, Erlita, anak ku...!"ujar ibunya Erlita. Dia kaget dengan kedatangan sang puteri yang membawa serta cucunya, tanpa dibaremgi suaminya. Sembari, ibunya Erlita menuntun sang puteri untuk masuk ke dalam rumah, dia juga membawakan tas bawaan puterinya yang lumayan besar.
"Erlita, ada apa ini nak? Kok kamu pulang sendirian..mana suami kamu..?"tanya bapaknya Erlita yang tadi masih ada di belakang. Laki laki yang kini sudah berusia 67 tahun itu, masih tampak sehat bugar. Karena, beliau selalu menjaga pola makan dan rutin berolahraga jalan pagi.
Kemudian mereka bertiga duduk di ruang tengah, ruangan yang di dominasi dengan nuansa vintage. Orang tua Erlita memang masuk komunitas kolektor barang barang jadul.
"Maafkan Erlita, bapak, ibu.... Erlita pulang mendadak seperti ini, mohon izin Erlita untuk tinggal disini sementara waktu !" Kemudian, Erlita bercerita bagaimana suaminya saat ini yang memiliki wanita idaman lain, dan dia akan segera menikahinya tanpa menceraikan Erlita.
"Mas bagus, ingin menikah dengan wanita itu, tanpa menceraikan Lita, Bu, pak...!"ujar Erlita. Dia sudah tidak dapat menyembunyikan perasaan nya. Air mata senantiasa menemaninya setiap hari.
"Ya ampun...tega sekali , anak itu...!"kata bapaknya Erlita. Kemudian, dia termenung, lalu menghampiri sang cucu yang saat ini masih tidur di gendongan Erlita. Beliau membelai sayang cucunya. Kasihan cucuku..!"batin nya kemudian.
"Bapak, nggak ikhlas nak, kalau kamu diperlakukan seperti itu. Bapak mendukung semua keputusanmu, kamu nggak usah sungkan untuk tinggal disini, ini juga rumahmu. Kembalilah pada kami..!"ujar bapaknya Erlita, yang kemudian beliau masuk ke dalam kamarnya, yang ada di dekat taman rumah.
"Bu,,maafkan Erlita, sudah membuat bapak sama ibu bersedih. Ini bukan kemauan Erlita Bu,..!"menangislah kembali Erlita di pelukan ibunya. Kedua perempuan yang berbeda usia itu, kini saling menguatkan. Erlita tidak menyangka, pernikahannya hanya akan bertahan selama 2 tahun saja. Impian dia ingin awet dalam berumah tangga, seperti orang tuanya, sudah kandas.
__ADS_1
"Nak, menangislah sekarang, tumpahkan semua kesedihanmu pada ibumu ini. Tapi, untuk besok, ibu ingin kamu selalu tersenyum bahagia. OK..!"ibunya Erlita menyemangati puteri nya. Dia sangat menyayangkan menantunya yang dia kira bisa membahagiakan puterinya, ternyata tidak sesuai harapan.
Ibunya Erlita, kini mengambil sang cucu dari gendongan Erlita. Dia tidak ingin cucunya terganggu tidurnya karena isakan tangis Erlita yang semakin menjadi.
"Sekarang, tidurlah di kamarmu, nak. Biar Nadia sama ibu..!"ujar ibunya Erlita, pada puterinya itu. Dia nggak tega melihat kondisi Erlita saat ini.
"Beneran gakpapa, Bu..?"tanya Erlita yang tampak lesu. Dia mengusap air matanya dengan bajunya.
"Gakpapa, nak. Istirahatlah.., nanti bila Nadia menangis, ibu bawa ke kamarmu. Percaya sama ibu...!"lanjut ibunya erlita. Dia lalu membawa sang cucu di kamar tamu, dia tidurkan disana. Nadia, memang bayi sang sangat pintar, dia tahu kondisi kedua orang tuanya yang berantakan. Tapi dia tidak rewel, hanya sesekali rewel.
Kini Erlita, naik ke lantai dua, dimana kamarnya berada. Kamar yang masih sama semenjak ditinggal oleh nya. Masih rapi, bersih, nuansa kamar yang di dominasi warna biru muda, warna favorit Erlita. Ada balkon di kamarnya, yang langsung menghadap ke arah taman.
Erlita meletakkan barang bawaannya di sudut ruangan kamarnya, dia akan menata kembali baju bajunya di lemari pakaian besok pagi, pas dia santai. Sekarang Erlita ingin mengistirahatkan pikiran dan badannya. Dia sangat lelah. Untuk ART Erlita, saat ini sudah kembali ke kampung halamannya di solo.
"Berarti sampai sekarang, mas bagus belum pulang ke rumah, buktinya, dia tidak ada mencari aku dan puterinya..!"gumam Erlita pada dirinya sendiri. Dia sangat kecewa dengan sikap suaminya seperti ini, padahal dulu dia begitu sayang pada Erlita.
"Kenapa aku harus mendapatkan cobaan seperti ini, ya Tuhan...apa aku akan mendapatkan rizqiMu yang lebih setelah ini...??"tanya Erlita pada sang Maha Pencipta Nya. Sembari dia menatap dirinya di cermin.
Pagi ini, Erlita berjemur sambil menggendong sang puteri kecilnya. Rencana siang nanti dia akan ke pengadilan agama, untuk mendaftarkan kasus perceraian nya. Dia tidak ingin masalahnya ini berlarut larut. Biar dia akan menitipkan puterinya, pada sang ibu. Dia sudah memompa ASInya yang sudah dia simpan di kulkas, stok mencukupi untuk 2 hari.
"Sayang,,,maafin mama ya...,kita harus berpisah dari papa, tapi jangan khawatir, mama akan selalu memperjuangkan mu, nak..!"ucap Erlita pada puteri kecilnya, sambil dia menciumi wajah puterinya, yang sekarang mulai belajar duduk, dan mengoceh. Nadia lah, yang menjadi penyemangat Erlita, untuk senantiasa kuat menghadapi masalah ini.
__ADS_1
Dari arah dalam rumah orang tua Erlita...
"Lita..,kamu sarapan dulu, nak. Itu sudah siap. Biar Nadia, sama ibu. Sini...!"ujar ibunya Erlita, sambil mengarahkan kedua tangannya di hadapan cucunya. Dan sang cucu, langsung tertawa, dia juga minta digendong oleh sang nenek.
"Sana, kamu makan yang banyak, biar ASI mu lancar, dan temani bapakmu sarapan...!"ibunya Erlita berucap sembari dia mengambil alih cucunya, ke dalam gendongannya. Nadia, dibawa jalan jalan ke warung depan rumah orang tua Erlita.
Dan kini, Erlita sudah jadi bahan gunjingan para tetangga yang usil. Mereka selalu ingin tahu masalah orang lain, sekarang, giliran Erlita yang jadi bahan gunjingan mereka.
Tetangga bertanya tanya, kenapa Erlita pulang hanya dengan anaknya tanpa sang suami.
"Bu..kenapa Erlita, pulang kok nggak sama suaminya??"tanya tetangga sebelah rumah orang tua erlita, yang terkenal dengan keusilannya.
"Biasa, suami Erlita sekarang lagi sibuk sibuknya. Dia punya tanggung jawab mengelola rumah sakit, dan rumah sakitnya besar...."jawab ibunya Erlita dengan tegas. Dia harus bisa menjaga nama baik sang anak, apapun masalahnya.
"Wah...jadi direktur, maksudnya??"tanya ibu ibu yang usil tadi yang belum ada puasnya mengorek informasi tentang rumah tangga erlita.
"Iyya Bu, itu loh rumah sakit harapan Kita..yang ada di kota sebelah..!"jawab ibunya Erlita dengan penuh penekanan. Biar tetangganya itu stop untuk berbicara lagi.
Lalu, ibunya Erlita langsung memotong pembicaraan mereka, sebelum tetangga usilnya itu berlanjut bertanya.
"Sudah ya Bu, saya duluan. Ini, cucu saya waktunya minum ASI..!"sembari berlalu dari tetangga usilnya, yang dia tidak sadar, bahwa dengan perkataannya akan melukai hati orang lain.
__ADS_1
Ibunya erlita nggak betah dengan orang yang selalu ingin tahu masalah orang lain. Dan ibunya Erlita, termasuk tipe wanita pendiam, orang rumahan. Dan itu menurun pada Erlita.