Kisah Klasik Cinta Di Masa Lalu

Kisah Klasik Cinta Di Masa Lalu
Episode Empat Puluh Delapan


__ADS_3

Dua wanita yang beda usia itu, masih asyik mengobrol di dapur, mereka adalah Erlita dan ibunya. Ibunya Erlita dengan bijak memberi masukan pada Erlita, bila dia menerima tawaran dari Fatih. Namun, semua keputusan ada di tangan Erlita. Dan ibunya Erlita tidak keberatan sama sekali, bila mereka dititipi cucu, untuk mereka rawat, yang nantinya akan jauh dari Erlita.


"Semua keputusan ada di tanganmu, nak.., tapi nanti ibu coba bicarakan lagi dengan ayahmu..!"ujar ibunya Erlita mengakhiri. Dan kini, mereka berdua melanjutkan aktifitasnya kembali setelah sempat tertunda dengan obrolan yang cukup serius.


Kemudian Erlita membangun kan puterinya, Nadia. karena ini sudah waktunya, Nadia untuk mandi dan sarapan. Nadia, memang tergolong anak yang pengertian dan tidak rewel, jadi Erlita tidak kesusahan merawatnya sendirian.


Tuhan memang Maha Adil, Dia tidak akan memberatkan umatnya, bila memang umatNya tidak kuat memikul semua beban hidup di dunia.


Kemudian, ayahnya Erlita muncul dari teras depan rumah, kebiasaan beliau, bila pagi hari itu membaca koran sambil minum kopi di teras rumahnya. Kemudian, beliau mengambil kursi di tempat biasanya keluarga makan bersama.


Ibunya Erlita menyiapkan nasi diatas piring suaminya, dia pilihkan lauk dan sayur kesukaannya, kemudian meletakkan piring tersebut di depan suaminya. tak lupa menyediakan air putih di sisi kiri tempat suaminya duduk.


"Terima kasih, Bu..!"ujar ayahnya Erlita singkat.


Yang hanya dijawab dengan senyuman dan anggukan dari isterinya. Hal itu, sudah menjadi pandangan Erlita setiap hari semenjak dia kecil.


"Pak, ada hal penting yang mau dibicarakan Erlita sama bapak, setelah makan ini..!"kata ibunya Erlita memecah kesunyian di meja makan. Sudah kebiasaan dalam keluarga Erlita, bila makan, dilarang bicara membahas sesuatu, menunggu sampai acara makan selesai.

__ADS_1


Dalam hening mereka bertiga makan menikmati rezeqi pagi ini, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang meramaikan suasana meja makan. Dan, Nadia, sedang asyik dengan cemilannya di depan televisi yang jaraknya tak jauh dari ruang makan.


Setelah Lima belas menit kemudian, mereka bertiga selesai dengan sarapannya. Dan ibunya Erlita langsung berdiri membersihkan piring kotor sisa makanan untuk dibawa ke wastafel pencucian piring.


"Sudah sana, katanya, kamu ada perlu sama ayahmu, biar ini ibu yang membereskan..!"ujar ibunya Erlita mencegah anaknya membantu mengangkat piring kotor yang tak seberapa. Lalu semua piring kotor beliau angkut, dan untuk makanan yang masih ada, diangkat dan ditaruh di lemari makanan.


"Ada perlu apa, nak..?"tanya ayahnya Erlita dengan sabar. Ayah Erlita memang memiliki kepribadian orang yang sabar dan bijak dalam menasehati anaknya selama ini. Dan hal itu, tentu menguntungkan Erlita sebagai anaknya. Dia bersyukur kepada Tuhan YMA telah diberi orang tua yang pengertian.


"Erlita mau kerja ke kota K, pak. Mumpung ada tawaran pekerjaan disana..!"ujar Erlita dengan hati hati. Erlita berharap, ayahnya merestui nya kali ini, pergi jauh untuk bekerja dengan statusnya sekarang sebagai janda anak satu.


"Kok jauh...,itu di rumah sakit atau klinik.."tanya ayahnya yang tampak biasa saja, karena sebenarnya ayah Erlita sudah tahu dari isterinya tadi malam. waktu mereka mau tidur, ibunya Erlita cerita tentang keinginan Erlita untuk kerja ke luar kota.


"Begini, nak...kalau ayah sama ibu, terserah padamu, karena kamu sekarang memiliki anak yang harus kamu pikirkan. Ayah tidak keberatan, kamu kerja ke kota K. Hanya satu pesan ayah, kamu harus bisa menjaga nama baik kamu dan keluarga..!"ujar ayahnya Erlita dengan bijak.


Dan itu membuat kelegaan di hati Erlita. Akhirnya, kini dia bisa bekerja dan bisa menerapkan ilmunya untuk orang lain. Erlita janji, dia akan mencari rezeqi untuk puterinya dan kedua orang tuanya di jalan yang halal.


"Terima kasih, ayah. Erlita juga nitip, Nadia sama ayah dan ibu. Maaf Erlita sudah merepotkan kalian berdua...!"ujarnya terharu, sebenarnya Erlita merasa malu dengan kondisinya sekarang yang sudah tidak muda lagi, tapi masih membuat repot orang tua. Namun, dia bisa apa, memang takdirnya menjadi seorang janda.

__ADS_1


Erlita langsung berhambur ke pulakan ayahnya. Dia menangis dalam pelukan laki laki yang menjadi cinta pertamanya itu. Erlita sangat berterima kasih pada kedua orang tuanya, atas perjuangannya selama ini, yang terus memberikan support untuknya.


"Sudah, nak..kamu jangan pernah berpikir bahwa kami kerepotan merawat Nadia. Justru, kami sangat terhibur dengan adanya Nadia di tengah tengah kami, kalau tidak percaya, kamu bisa tanya ibumu...!"ujar ayahnya, yang berusaha menenangkan Erlita yang lagi sesenggukan, menahan tangisnya.


Kemudian, Erlita kembali duduk di kursinya tadi. Dia mengelap air mata dan hidung dari ingusnya dengan memakai tissue. Erlita juga merapikan rambutnya yang berantakan, kemudian Erlita tersenyum bahagia ke arah ayahnya.


"Terima kasih, ayah. Erlita, akan selalu ingat dengan jasa ayah dan ibu. !"ucap Erlita mendekap tubuh ibunya itu yang sedang menggendong Nadia, puteri Erlita.


"Tapi, ibu pesan ke kamu, jaga diri disana baik baik, disana kita tidak ada keluarga..!"ucap sang ibu penuh pengertian. Beliau membelai lembut rambut sang puteri. Orang tua pasti akan bersedih bila anaknya sedang tidak baik baik saja, dan hal itu mereka rasakan disaat rumah tangga Erlita berantakan dan berakhir dengan perceraian.


"Iyya, Bu. Erlita akan selalu ingat pesan ayah dan ibu. Do'akan Erlita, semoga disana Erlita menemukan rezeqi yang barokah dan kebahagiaan..!"harap Erlita. kemudian Erlita mengambil alih puterinya untuk dia beri cemilan.


"Ayo, nak..sama mama..!"ujar Erlita yang mengangkat tubuh anaknya, kemudian di taruh di kursinya sendiri. Sudah kebiasaan Erlita, bila para orang tua selesai sarapan, kini giliran Nadia, untuk menikmati cemilan sehatnya.


Nadia sekarang sudah pintar panggil mama dan beberapa kosakata lainnya. Dia juga sudah mengenal beberapa warna, pintar mengoceh. Untungnya, Nadia anaknya cerdas, dia tidak rewel bila ditinggal Erlita hanya berdua dengan neneknya.


Sampai Nadia berusia hampir satu tahun, hanya 1 kali, bagus, mengunjungi anaknya. Padahal, Erlita tidak pernah melarang bagus untuk menemui puterinya sendiri. Tapi bagus sering mengirimkan makanan ataupun mainan untuk puterinya itu.

__ADS_1


"Maafkan mama ya, nak...dua hari lagi, mama akan kerja di tempat yang jauh, Nadia, disini sama kakek dan nenek, nggak boleh rewel ya, sayang...!"ujar Erlita yang menciumi wajah puterinya. Tak pelak, erlita menitikkan air matanya.  Sebenarnya, dia berat meninggalkan puteri semata wayangnya, namun keadaan yang mengharuskan dia harus berangkat bekerja di tempat yang ditawarkan Fatih.


Erlita langsung tersadar, bahwa dia belum menghubungi Fatih sampai saat ini ,tentang keputusannya.


__ADS_2