
Pasca melahirkan 1 Minggu, kini Erlita sudah mulai beraktifitas kembali seperti sediakala. Dia memasak, mencuci baju, membersihkan kamarnya. Karena Erlita nggak mau, kamarnya dibersihkan oleh ART mereka. Karena, kamar itu merupakan tempat paling privasi.
Dan hari ini, mertuanya juga akan kembali pulang ke rumahnya, setelah menemani menantu dan cucunya selama 1 Minggu pasca Erlita melahirkan.
"Lita, mama hari ini mau pulang dulu, gakpapa kan kalau kamu mama tinggal pulang..?"tanya ny.rahmat, yakni mertuanya. Sembari mereka ngobrol santai di depan televisi, sedangkan baby nadia, puteri Erlita kini sedang tidur di box nya.
"Gakpapa lah, ma...Erlita juga sudah biasa seperti ini, tanpa mas bagus yang sibuk dengan kerjaannya. Kan ada bik susi juga yang membantu Lita...!"jawab Erlita menenangkan sang mertua.
"Mama nggak perlu khawatir, tenang saja...!"lanjut Erlita. Sembari Erlita meraih kedua tangan mama mertuanya.
"Kamu memang menantu kesayangam mama, Lita..!"ujar mamanya bagus, dia membelai sayang rambut menantunya.
"Mama, terima kasih ke kamu, sudah kasih cucu yang cantik buat mama...!"lanjut nya kemudian.
Karena ny.rahmat mulai dulu memang mendambakan anak perempuan, tapi hanya diberi kepercayaan seorang putera, namun sejak kehadiran Erlita di kehidupan bagus, ny.rahmat sangat senang, dan sekarang ditambah hadirnya seorang cucu perempuan.
"Mama, nggak usah bilang terimakasih ke erlita. Nadia, merupakan anugerah terindah dari Tuhan untuk keluarga kita..!"kata Erlita dengan senyum yang merekah.
Dua wanita yang beda usia itu pun, saling berpelukan menumpahkan perasaannya masing masing. Mereka saling menyayangi, meskipun Erlita bukan anak kandungnya, tetapi Bu Rahmat sudah menganggap Erlita adalah puterinya.
"Sayang, mama pamit sekarang ya, kamu baik baik di rumah. Itu taxi mama sudah datang..!"kata mamanya bagus, kemudian dia menghampiri cucunya yang sedang tidur, dia cium berkali kali dengan sayang.
"Iyya mama,,hati hati di jalan, salam Lita, buat papa..!"ujar Erlita sembari mencium punggung tangan mertuanya.
"Pasti sayang. Oia, bilangin ke bagus, suruh dia telephone mama, begitu dia pulang..!"lanjut mamanya bagus, dia sangat kecewa dengan perilaku bagus pada Erlita, yang seperti tidak peduli lagi pada keluarga.
Kemudian Bu Rahmat, mamanya bagus, naik ke taxi pesanan nya menuju ke bandara, yang dia pesan lewat aplikasi di hape nya.
Keluarga bagus saat ini tinggal di kota K, butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan untuk sampai di kota K, itu bila ditempuh dengan transportasi jalur udara.
Kini, di rumah yang lumayan besar itu, Erlita hanya ditemani oleh ART yakni, bik Susi dan juga puteri kecilnya, karena suaminya juga jarang pulang, dengan alasan sibuk pekerjaan.
__ADS_1
Namun Erlita sudah tahu bahwa suaminya itu memiliki wanita lain. Hanya, Erlita belum ada waktu untuk menyelidikinya.
Erlita tidak mungkin menyelidiki suaminya, karena dia harus menjaga puteri kecilnya. Baginya, puterinya adalah prioritas yang utama.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil suaminya datang.
"Kok sepi..?mama kemana..?"tanya bagus pada isterinya, lalu dia mendudukkan dirinya di sofa sambil melepas alas kaki serta dasinya.
"Mama sudah pulang, mulai tadi jam 11, Karena pesawatnya jam 1an. Tadi mama juga sudah telephone kamu, mas. Tapi nggak kamu angkat katanya...!"ujar Erlita, yang kini menggendong puterinya, untuk dia kasih ASI. tiap 2 jam sekali, Erlita akan membangunkan puterinya untuk dia kasih ASI.
"hhmm, iya aku nggak sempat lihat hape. Tadi banyak sekali pasien, banyak orang sakit sekarang...!"kata bagus kemudian.
"Gimana nih, kabar puterinya papa..!"ujar bagus yang mau mencium puterinya, namun dihalangi oleh Erlita.
"Kenapa sih, aku kan mau mencium puteriku..!"kata bagus dengan wajah cemberut.
"Kamu kan baru datang, mas. Sana mandi dulu, baru bisa pegang Nadia. Takutnya ada penyakit yang nantinya kebawa kamu, pas pulang ke rumah..!"ujar Erlita dengan tegas. Dia nggak mau puterinya terkontaminasi penyakit yang dibawa oleh suaminya, dari tempat kerjanya. Bisa bahaya.
Lalu, Erlita mencoba mencari hape suaminya itu. Siapa tahu itu panggilan penting.
Setelah dilihat, ternyata panggilan dari nama SS, nama yang tidak jelas. Dan Erlita tidak mengenal nama ataupun nomor itu.
Pasti ini dari dia..!"batin erlita.
Kemudian Erlita mencoba mengangkat hape suaminya..
"Ya, halloo...!"kata Erlita. Tidak ada suara dari seberang, si penelphone misterius itu hanya diam. Namun panggilan masih tersambung.
"Halo, ini siapa...?"tanya Erlita lagi. Tapi amsih tetap diam. Hingga akhirnya, dia menutup sendiri panggilannya.
Kini, Erlita tidak hilang akal. Dia mencatat nomor misterius itu, untuk dia simpan di hape nya, dia akan menyelidiki secara perlahan. Atau mungkin dia akan minta bantuan pada 2 sahabatnya, yakni Dewi dan sofia. Dia akan mengatur strategi nya dulu.
__ADS_1
Lalu, Erlita meletakkan kembali Hape suaminya itu ke dalam tasnya. Dan dia menidurkan baby nadia di box nya. Puterinya termasuk kuat jika menyusu, kini setelah kenyang, Nadia akan tidur kembali.
"Bik..bibik..!"Nadia memanggil bik Susi ART mereka. Dia ingin minta bantuan bik susi untuk membawakan tas suaminya di atas. Karena dia sendiri akan menggendong puterinya, untuk dia tidurkan di kamarnya.
"Iya, nyonya...!"jawab Susi pada majikannya.
Dengan tergopoh gopoh Susi menghampiri Erlita, sembari membawa kain lap di bahunya.
"Bik, minta tolong bawakan tas suami saya, ini ya..!"ujar Erlita.
"Saya susah mau bawa,.!"lanjut Erlita pada ART, bik Susi.
"Iyya, nyonya. Mungkin adalagi yang mau dibawakan, nyonya...?"tanya Susi, sembari dia mengambil tas majikannya yang ada di meja ruang keluarga itu.
"Sudah, tidak ada. Nanti minta tolong, ruangan ini dibersihkan ya bik, mungkin besok ada teman saya mau kesini..!"ujar Erlita. Kini dia dan ART nya menaiki tangga, naik ke lantai 2.
"Siap, nyonya...!"jawab Susi, kemudian dia mengikuti majikannya itu.
Setelah sampai diatas..
"Sudah bik, taruh disana saja..!"tunjuk Erlita ke arah kursi yang ada di sudut ruangan itu. Di ruang lantai 2 itu terdapat 4 ruang, kamar utama, kamar puteri mereka yang di dominasi warna pink, dan ada lagi 1 kamar yang digunakan bila ada saudara mereka menginap disana, lalu di pojokan sebelah kanan dari tangga merupakan ruang kerja suaminya, yang di dominasi warna putih.
"Terima kasih ya bik,,,sekarang bibik bisa istirahat...!"lanjut Erlita pada asisten rumah tangganya.
"Sama sama, nyonya. Permisi nyonya, Saya mau ke bawah dulu..!"kata Susi kemudian.
Lalu Erlita masuk ke dalam kamar puteri nya, kamar itu cukup luas, kamar dengan ukuran 6x7 m2, ada ranjang bayi warna pink di sudut ruang itu, serta sofa , dan juga ada tempat tidur ukuran 120 cm. Yang biasanya digunakan Erlita di saat dia menemani puterinya.
Di sudut kiri ruangan, ada pintu yang terhubung dari kamar puterinya ke kamar mereka. Jadi, bisa memudahkan Erlita untuk memantau puterinya.
Kini, Erlita menidurkan puterinya dengan perlahan, dia pandangi sang puteri yang kini semakin cantik dan Alhamdulillah semakin bertambah untuk berat badannya.
__ADS_1