Kisah Klasik Cinta Di Masa Lalu

Kisah Klasik Cinta Di Masa Lalu
Episode Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

Susi berkali kali berdehem, menahan kegugupannya kali ini. Dia sebenarnya kasihan pada majikan nya, nyonya Erlita, karena selama ini tuan bagus sering tidak pulang, pas pulang pasti akan marah marah. Pulang ke rumah mereka saja, hanya 1 malam dan untuk malam selanjutnya, alasannya sibuk di rumah sakit.Dan hal itu terjadi semenjak kehamilan Erlita menginjak 8 bulan. Entah kenapa, tuan bagus berbeda sikapnya. Padahal waktu Susi pertama kali ikut mereka, tuan bagus sangat sayang pada nyonya Erlita.


"Maaf nyonya, saya takut salah..!"ujar Susi ketakutan, sambil dia menunduk, takut menatap mantan majikannya itu.


"Kamu nggak usah takut, kalau nanti ada yang memarahi kamu, tinggal bilang ke saya..!"lanjut mamanya bagus dengan tegas.


Belum sempat Susi cerita, kemudian..


Dari arah kanan mereka duduk, hadir papanya bagus dengan tampak tergesa gesa.


"Bagaimana keadaan Erlita, ma..?"tanya papanya bagus pada isterinya itu. Dia langsung ambil tempat duduk di sebelah isterinya.


"Masih di dalam pa, mungkin sekarang sudah dipimpin untuk lahirannya .!"ujar mamanya bagus.


"Ini sampai sekarang, bagus belum datang loh pa..mulai kemarin dia juga nggak pulang, dengan alasan sibuk di rumah sakit. Memangnya di rumah sakit tidak ada dokter selain anak kamu itu..?"semprot mamanya bagus pada suaminya, padahal papanya bagus tidak menahu hal ini.


"Lohh...kemana memangnya anak itu?perasaan setiap hari bagus tidak sesibuk itu dehh..!"ujar papanya bagus dengan tegas.


"Sekarang, Susi kamu cerita sama kamu. Memangnya ada apa dengan rumah tangga anakku..?"tanya mamanya bagus yang langsung menatap lagi ke arah Susi.


"eehhmm..maaf kan Susi sebelumnya, nyonya. Disini bukannya Susi mau membuka aib yang selama ini Susi tutupi. Memang selama ini tuan bagus jarang pulang ke rumah, setiap pulang pasti akan marah marah ke nyonya. Sempat pulang sih nyonya, namun mungkin hanya 1 malam, selanjutnya, entah pulang kemana...!"jawab Susi dengan takut takut, seringkali menunduk terkadang juga berani menatap mamanya bagus.


"Apa Erlita sudah pernah menasehati bagus selama ini atau dia diam saja?"tanya mamanya bagus kemudia


"Nyonya sering menasehati, namun tuan bagus langsung marah marah pada nyonya Erlita. Kalau tuan bagus marah, nyonya Erlita langsung diam, dan masuk ke kamarnya..!"jawab Susi dengan detail.


"Ya Tuhan...anakku, kenapa bisa seperti ini .!!! Kasihan Erlita,,!"gumam mamanya bagus, tapi masih bisa di dengar oleh suaminya dan juga Susi.

__ADS_1


"Apa sudah lama rumah tangga mereka seperti itu..!"tanya papanya bagus, menimpali dari percakapan kedua wanita yang ada di hadapannya itu.


"Kira kira sejak kehamilan nyonya Delapan bulan, tuan..!"jawab Susi pasti. Kemudian dia pasti akan menunduk lagi. Dia tidak enak sudah menceritakan aib majikannya,


"Ya Tuhan...apa yang harus aku sampaikan pada Erlita dan keluarganya .!"ujar mamanya bagus sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tampak kini mamanya bagus menangis tersedu. Dia merasa malu dengan tingkah putera tunggalnya dan kasihan pada menantunya yang kini berjuang antara hidup dan mati.


Padahal dulu bagus sangat menyayangi isterinya. Sering juga bagus menunjukkan kemesraan mereka berdua dihadapan orang tuanya. Makanya, sekarang sebagai orang tua, dia cukup heran dengan perubahan sikap bagus yang sangat signifikan seperti saat ini. Di saat isterinya mau melahirkan, dia tidak ada di tempat, malah susah dihubungi.


"Pa...bagaimana ini..?"tanya mamanya bagus kemudian pada suaminya, yang termenung. Papanya bagus menyandarkan punggungnya di sandaran kursi rumah sakit. Dia sangat kaget dengan berita yang didengarnya hari ini.


"Kita selesaikan kalau sudah di rumah saja, ma...kalau sekarang nggak enak, ada orang tua Erlita juga..!"jawab papanya bagus kemudian.


Kemudian, dari arah dalam bilik ruang bersalin...


"Keluarga dari ibu Erlita...!"kata petugas rumah sakit, yang turut serta membantu proses persalinan Erlita. Dia juga masih menggunakan baju pelindung nya yang berwarna tosca.


"Ibu Erlita sudah melahirkan, dan ini puteri kecilnya, bapaknya yang mana ya..?mungkin bisa meng adzani sekarang..!"kata petugas yang masih memakai baju pelindungnya itu, sambil menatap ke arah papanya bagus.


"Maaf Bu, papanya masih dalam perjalanan kesini, apa bisa saya yang meng adzani? Saya kakeknya..!"ujar papanya bagus kemudian. Sembari ingin menggendong cucu pertamanya.


"Apa masih lama?kalau masih lama, ya nggak papa bila kakeknya yang mengadzani..!"ujar petugas tadi yang menggendong anak dari bagus.


Akhirnya kini papanya bagus menggendong cucunya, kemudian dia masuk ke dalam ruang tindakan. Dia mengadzani cucunya di telinga kanan dan kirinya. Papanya bagus nampak menitikkan air mata, dia mencium kening cucunya untuk pertama kali.


"Jadilah anak yang Sholihah sayang, jadilah anak yang menjadi panutan keluarga..!"do'a seorang kakek untuk cucu pertamanya.


Kemudian pak Mahmud menghampiri papanya bagus, dia juga ingin menggendong cucunya.

__ADS_1


Pak Mahmud mengucap salam pertama kali untuk cucunya, kemudian dia mencium kening nya, juga kedua pipinya.


"Cantik sekali cucuku .!"ujar pak Mahmud bergumam, pada dirinya sendiri.


"Iyya cucu kita cantik sekali..!"ujar papanya bagus menimpali.


Kedua laki laki itu yang kini sudah dipanggil kakek, keluar dari ruang tindakan dengan bergantian menggendong seorang puteri kecil yang cantik jelita.


Setelah itu, dari ruang tindakan keluar ibu Susi, orang tua Erlita.


"Pak, Bu...mungkin jenengan mau masuk melihat kondisi Erlita, dia menanyakan anda berdua..!"ujar ibu Susi pada kedua besannya itu.


"Oohh iya Bu,,,saya memang ingin melihat kondisi Erlita. Bagaimana tadi Bu?Erlita kuat kan Bu?"tanya mamanya bagus pada ibu Susi.


"Alhamdulillah, diberi kelancaran. Yaahhh meskipun Erlita sempat merasa tidak kuat tadi waktu mengejan..., namun ibu bidannya tadi dengan sabaran memimpin Erlita untuk selalu kuat..!"jawab ibu Susi dengan wajah sedihnya.


"Baik Bu, saya mau ke dalam dulu ya..!"pamit mamanya bagus kemudian. Sembari membungkukkan badannya, tanda hormat pada besannya.


Akhirnya kini mama dan papanya bagus masuk ke dalam ruangan dimana Erlita beristirahat setelah bertaruh nyawa demi melahirkan buah cintanya dengan bagus.


"Sayang...bagaimana keadaanmu nak..?"tanya mamanya bagus dengan rasa sayang. Sambil dia mencium pipi sang menantu.


Dan Erlita langsung meraih tangan mamanya bagus, dia cium punggung tangan kanan mama mertuanya itu. Kemudian Erlita juga menyalami papa mertuanya.


"Alhamdulillah Erlita baik ma, pa...!"ujar Erlita dengan senyum manisnya.


"Mas bagus apa sudah datang ma, pa..?"tanya Erlita kemudian, Erlita tidak ingin mertuanya itu tahu bagaimana tingkah laku anak laki laki nya selama ini. Biar dia pendam selama dia kuat menghadapinya sendiri. Itu janji Erlita.

__ADS_1


Erlita tidak tahu, bahwa kini kedua mertuanya itu sudah tahu bagaimana perilaku putera kebanggaan mereka telah mengecewakan keluarga.


__ADS_2