
kini, tepatnya di bandara kota J, tepat pukul Lima sore waktu setempat, Fatih sudah tiba terlebih dahulu. Dia mencari cari keberadaan Erlita. Fatih juga berkirim pesan pada Erlita, bahwa dia sudah sampai dan sekarang menunggunya di pintu 1, namun pesannya masih centang satu, tandanya pesan belum terkirim ke hape Erlita.
Tak lama kemudian, Fatih menuju ke arah pintu masuk, dan dia langsung melihat Erlita yang baru turun dari taxi, dengan membawa 1 koper besar, dan tas punggungnya.
Namun, Fatih berpura pura tidak melihat Erlita, dia langsung menuju ke pintu satu lagi. Bukannya dia tidak mau membantu membawa kopernya Erlita, namun dia harus menjaga image nya..hehehe.
Erlita kemudian mengeluarkan hapenya dari saku bajunya. kemudian dia mengaktifkan data selulernya, tak lama muncul banyak pesan, termasuk dari Fatih.
Erlita langsung membuka pesan dari Fatih terlebih dahulu, Erlita mencari arah ke pintu satu, dimana saat ini Fatih sedang menunggunya.
Erlita melihat Fatih di kursi tunggu yang sedang memangku tas nya.
"Sudah lama yang nunggu? maaf tadi anakku masih rewel, jadi aku harus membujuknya terlebih dahulu..?"sapa Erlita pada fatih dan menjelaskan kenapa dirinya sedikit terlambat. Lalu Fatih melihat ke arah bawaan koper Erlita,
"Gakpapa, santai saja, toh kita tidak terlambat...yukk..!"ajak Fatih yang langsung mengambil alih bawaan koper Erlita dari tangannya. Sedangkan Fatih, hanya membawa satu tas ransel yang kini ada di punggungnya. Bila orang lain yang tidak mengenal keduanya, pasti akan salah sangka. Mereka memang tampak serasi, padahal mereka bukan pasangan suami isteri.
Keduanya kini masuk ke dalam pesawat, dan Fatih mencari kursi sesuai tiket mereka. Ternyata, Erlita duduk di dekat jendela, jadi dia bisa melihat dengan bebas pemandangan yang ada di luar, sedangkan Fatih duduk di samping Erlita.
Erlita, nampak tegang dengan keadaan saat ini, dia belum terbiasa dengan kebersamaan mereka yang sangat dekat saat ini. Dan ini tentu saja mengingatkan memorinya akan masa lalu, di saat mereka masih menjadi sepasang kekasih.
Fatih sendiri kini harus mengatur debar jantungnya yang bertalu talu dengan keras. Selama dengan Sisca, isterinya. belum pernah Fatih merasakan getaran cinta seperti dia saat bersama dengan Erlita. Fatih melirik ke arah Erlita, dan ternyata wanita pujaan hatinya sedang menikmati pemandangan di luar jendela.
"Lagi melamunkan apa..?"tanya Fatih mengagetkan Erlita yang sepertinya sedang melamun. Mungkin dia sedang memikirkan puterinya.."pikir Fatih.
"Gakpapa, aku hanya sedang memikirkan puteriku, tidak pernah aku berjauhan dengannya seperti sekarang..!"ujarnya, kemudian Fatih melihat mata Erlita yang berkaca kaca.
__ADS_1
"Oohh..maafkan aku, aku nggak berniat membuatmu sedih..!"Fatih merasa bersalah karena pertanyaannya. Jadi, membuat Fatih salah tingkah, dan membuat bingung apa yang harus dia perbuat untuk menenangkan Erlita.
"Gakpapa, aku saja yang terlalu. Kasihan, dia harus jauh dari aku. Sekarang hanya tinggal dengan orang tuaku, tanpa kasih sayang kedua orang tuanya..!"Erlita jadi mencurahkan isi hatinya pada Fatih, karena dia bingung harus bercerita pada siapa lagi. Sedangkan dia, hanya tinggal sendiri saat ini.
"hhmm...kalau boleh tahu, kenapa, kamu sampai bercerai dari, suami kamu..?"tanya Fatih dengan suara pelan, dia takut pertanyaan nya akan membuat Erlita tersinggung dan menambah kesedihannya.
"Karena dia tergoda dengan wanita lain, wanita di masa lalunya..!"jawab Erlita yang nampak tegar saat bercerita tentang mantan suaminya. Mungkin dia sudah bisa melupakan mantan suaminya itu.
Nampak, Fatih mengepalkan tangannya, dia merasa membenci mantan suami Erlita meskipun dia tidak mengenalnya. Kenapa bisa mantan suaminya itu tega menyakiti hati erlita dan malah memilih wanita lain.
Namun, pemikiran tadi segera dia tepis. Dia malah bersyukur Erlita bercerai dari suaminya.
Yah...meskipun, Fatih bersorak gembira diatas kesedihan Erlita. Tentu saja itu menguntungkan Fatih untuk mendekati Erlita kembali, meskipun dia kini sudah ada Sisca dan habib, putera mereka.
Otomatis tindakan Fatih tersebut, membuat kaget Erlita. Dia langsung menarik kembali tangannya dari genggaman Fatih.
"Maafkan aku.., aku nggak ada niat melecehkanmu, tadi hanya spontanitas..!"ujar Fatih yang merasa bersalah, telah membuat Erlita nggak enak hati.
"Sudahlah...gakpapa. memang sudah nasibku harus hidup seperti ini. Aku, terima takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan untukku..!"lanjut Erlita yang sudah pasrah dengan garis hidupnya. dia bersyukur telah diberi kepercayaan seorang puteri kecil yang sangat cantik.
Erlita menoleh ke arah luar jendela lagi. Dia berpikir bahwa dia tidak pernah menyesali garis hidupnya saat ini. Malah dia bersyukur atas nikmat Tuhan yang telah memberikannya hidup seperti saat ini.
Ya, hanya dengan bersyukur, kita akan merasakan nikmatnya hidup ini.
"Puterimu, siapa namanya?sudah usia berapa dia sekarang..!"tanya Fatih yang berusaha menetralkan kekakuan diantara keduanya. Fatih mulai tadi tak henti hentinya memperhatikan wajah Erlita yang makin mempesona baginya.
__ADS_1
"Namanya Nadia, sekarang sudah usia satu tahun...!"jelas Erlita dengan senyum sumringahnya. Lalu Erlita memperlihatkan foto puterinya yang dia jadikan wallpaper di hapenya. Memang, puteri Erlita sangat cantik, kulit putih, mirip sekali dengan Erlita.
"Cantik...!"gumam Fatih di dekat telinga Erlita. Tentu saja hal itu mengagetkan Erlita, lalu dia menoleh ke arah Fatih, yang secara kebetulan, Fatih juga lagi memperhatikan wajah Erlita. Kini keduanya saling berpandangan, saling memperhatikan wajah masing masing dengan jarak yang cukup dekat.
Tak lama kemudian, dengan sadar Erlita mengalihkan perhatian ke arah luar jendela, dia sangat malu pada Fatih saat ini. Dia takut Fatih akan berpikiran yang tidak tidak tentangnya. Karena, sudah berani menatap wajah Fatih dengan jarak cukup dekat.
"Maaf...!"ujar Erlita, tanpa menoleh ke arah Fatih. Kemudian, Fatih tanpa permisi meraih telapak tangan Erlita yang berada di atas kakinya. Awalnya, Erlita berusaha menarik, namun Fatih menggenggam dengan erat, seolah dia tidak mau berpisah.
"Fatih, lepaskan tanganku...!"ujar Erlita yang masih berusaha menarik tangannya.
"Dengarkan aku dulu... kamu nggak perlu meminta maaf seperti tadi, justru aku yang harus meminta maaf padamu..!"ujar Fatih yang ingin menjelaskan kesalahannya dulu. Sekarang, Erlita sudah tidak berusaha berontak dari genggaman tangan Fatih.
"Aku dulu, setelah mengantarmu pulang, di jalan aku mengalami kecelakaan yang sangat parah, sampai dokter yang merawatku bilang bahwa tidak ada harapan aku hidup saat itu. Tapi, Tuhan memberikan aku kesempatan untuk hidup hingga saat ini, aku masih sehat bugar..!"jelas Fatih panjang lebar, kenapa dia dulu tidak ada kabar sama sekali. Fatih tidak ingin meninggalkan kesan buruk di hati Erlita.
"Tapi, kenapa tidak ada yang tahu soal kecelakaan itu?aku sampai bingung mencarimu saat itu..!"ujar Erlita yang kini menangis saat mengingat masa lalunya bersama Fatih.
"Maafkan aku, saat itu keluargaku harus berjuang demi keselamatan ku, tanpa memikirkan perasaanmu..!"lanjut Fatih yang merasa bersalah telah menyakiti hati mantan kekasihnya ini.
"Gakpapa, maafkan aku, sudah larut dalam kesedihan. Aku sadar kalau Kamu memang bukan jodohku..!"ucap Erlita dengan tegas. Lalu dia melap air matanya dengan tissue yang diberikan Fatih.
Fatih saat ini ingin membawa Erlita dalam dekapannya, namun, itu semua tidak mungkin. Jadi, dia harus menahannya.
"Istirahatlah, perjalanan kita masih panjang..!"ujar Fatih kemudian.
Dan obrolan mereka pun berakhir, dan Erlita menarik tangan nya dari genggaman Fatih. Keduanya, kini saling diam dengan pemikiran mereka masing masing.
__ADS_1