
Kedua sahabat semasa sekolah menengah pertama itu, masih bertahan di cafe tersebut hingga satu jam lamanya. Mereka menikmati kebersamaan mereka yang hanya tersisa hitungan jam. Karena Aldo harus keluar kota mengikuti kegiatan rapat di kantornya, sore nanti. Dan untuk Fatih sendiri, dia besok sore harus kembali ke kota K, tempat dia mengais rezeqi. Tentunya, Fatih meninggalkan isterinya disini bersama keluarga besar Fatih.
"cafe ini tuh, milik orang pendatang, bukan asli sini. Tapi dia sudah lama tinggal disini.itu tuh yang rumahnya tadi kamu lewati, dekat lampu merah kanan jalan, ada rumah besar. Ya, itu sudah!" jawab Aldo sedetail mungkin menjawab pertanyaan Fatih.
"Ooww Iyya, aku tahu.!"kata Fatih. Tak terasa, makan siang mereka yang diselingi obrolan mereka sudah berjalan satu jam lebih. Dan Fatih harus kembali, karena dia lupa harus beli barang titipan isterinya.
"Ooiya...Aldo,.maaf aku harus pulang dulu,aku lupa kalau isteriku nitip suruh beli sesuatu nih...!"ujar Fatih yang benar benar lupa dengan pesan isterinya.
"Oke, gakpapa bro...lain waktu, kita ketemu lagi. Mungkin kalau pas aku ada acara ke kota K, aku akan mampir ke tempatmu. Salam ya buat Sisca..!"lanjut Aldo. Kemudian keduanya saling berjabat tangan, dan Aldo menuju ke kasir untuk membayar tagihan mereka.
Kedua sahabat itu, kini sama sama menuju ke arah dimana mobil mereka diparkir. Keduanya saat ini berpisah, ke tempat tujuan mereka masing masing. Fatih masih berniat mampir ke minimarket, membeli titipan untuk isterinya.
Dan kini, Fatih telah sampai di rumah, ternyata, isterinya nampak kesakitan di kamar mereka.
"Sayang..kamu, kenapa??"tanya Fatih, yang lalu menghambur ke arah isterinya. Dia panik melihat ekspresi isterinya yang sangat kesakitan.
"Mas..ini, sakit sekali..!"kata Sisca memegangi perut lalu beralih memegangi punggung nya. Dia meringis, hingga mengeluarkan air matanya.
"Kita, ke rumah sakit yukk, sayang..!"ajak Fatih pada isterinya. Dia sudah nggak tega melihat isterinya yang kesakitan. Lalu, fatih mengambil tas perlengkapan bayi yang sudah siap untuk dibawa, bila sudah waktunya Sisca melahirkan.
Fatih menuntun sang isteri ke ruang depan.
"Kamu, tunggu sini dulu ya, sayang.., aku, mau panggil ibu dulu!"ujar Fatih pada isterinya. Dia membantu mendudukkan isterinya ke kursi ruang tamu.
Fatih mencari ibunya ke kamar orang tuanya.
__ADS_1
Tok...tok..tok..... Fatih membangunkan ibunya yang sedang istirahat. Setelah itu, ibunya Fatih membukakan pintu, untuk anaknya itu.
"Bu, sepertinya Sisca, mau melahirkan..ini kita mau berangkat ke rumah sakit..!"kata Fatih pada ibunya, yang nampak tergesa gesa.
"Lohh...sepertinya, kan belum waktunya...ya sudah. Kamu tunggu dulu, ibu juga mau ikut..!"kata ibunya Fatih kemudian.
Setelah memakai baju seadanya namun masih terlihat sopan, ibunya Fatih kini sudah siap dan menuju ke ruang tamu dimana anak dan menantunya telah menunggunya.
"Yukk, kita berangkat, ayahmu nanti menyusul. Mana Sisca, Fatih..?"tanya nya kemudian, kepada Fatih yang terlihat mondar mandir di ruang tamu.
"Yuk, Bu..., Sisca sudah menunggu kita mulai tadi di dalam mobil..!"ajak Fatih pada ibunya. Kini mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan langsung menuju ke arah rumah sakit yang terdekat dari rumah mereka.
Sedangkan sisca, tampak menahan sakit yang menderanya. Peluh besar besar tampak mewarnai di dahi dan pelipisnya.
Fatih mengendarai mobilnya dengan cepat, beruntung kondisi jalanan masih kondusif. Mungkin itu semua, sudah digariskan sama Yang Maha Kuasa, untuk mempermudah jalan nya proses kelahiran anak dari Sisca dan Fatih.
Setelah 15 menit menempuh perjalanan, kini Fatih langsung berhenti di depan UGD rumah sakit. Dia langsung meminta petugas rumah sakit untuk membantu membopong isterinya ke dalam UGD menggunakan kursi roda.
"Mas, minta tolong kursi roda, ini isteri saya mau melahirkan..!"ujar Fatih memberitahu petugas yang ada di UGD dengan tergesa gesa.
Kemudian, dengan sigap. Petugas yang ada di sekitar, langsung membawakan kursi roda untuk Sisca.
"Mari, Bu...!"kata petugas laki laki yang saat ini bertugas kepada Sisca, setelah pintu mobil itu dibuka oleh Fatih. Dan untuk ibunya Fatih juga ikut membawakan barang bawaan mereka.
"Ayo, sayang..., Ini pegang tanganku dulu, lalu kamu duduk sini..!"ujar Fatih yang membantu isterinya untuk segera duduk di kursi roda, biar segera dibawa ke dalam UGD.
__ADS_1
"Iyya, sebentar...ini masih sakit sekali..!"kata Sisca sambil merintih memegang perut dan pinggangnya.
Setelah Sisca sudah duduk di kursi roda, dengan segera petugas tersebut mendorong nya ke dalam ruang tindakan.
"Untuk keluarga yang boleh masuk ke dalam hanya suaminya ya,,,!"beritahu petugas tersebut pada Fatih dan ibunya Fatih.
"Iyya, pak. Ibu tunggu disini ya, do'akan Sisca lancar ya bu...!"ujar Fatih, pada ibunya, sembari dia mengambil tas peralatan bayi yang tadi di bawa oleh ibunya itu. Tas bayi yang berwarna merah.
"Iyya, nak..semoga Sisca diberi kelancaran proses persalinan nya, ibu pasti mendo'akan yang terbaik untuknya dan anak mu...!"lanjut ibunya Fatih. Tak henti hentinya ibunya Fatih berdo'a untuk menantunya itu, yang saat ini berjuang bertaruh nyawa.
Kemudian Fatih mengikuti langkah petugas UGD tadi yang mendorong Sisca ke dalam ruang tindakan. Dia merapalkan banyak do'a untuk kelancaran proses persalinan isterinya. Ini merupakan pengalaman pertama untuk Fatih maupun Sisca.
Setelah sampai di dalam ruang tindakan...
"Mari pak, dibantu ibu untuk berbaring di tempat tidurnya...!"kata petugas tersebut, lalu dia mengkunci rodanya. Dia juga membantu mengarahkan Sisca untuk naik ke atas tempat tidur nya.
"Baik, ibu, berdiri dulu, kaki kanan diangkat dulu Bu, mari saya bantu ..!"ujar petugas tersebut dengan sopan. Petugas tersebut menahan kursi roda nya, biar tidak terbalik, dan Fatih memegangi tubuh sang isteri untuk naik ke tempat tidur.
Setelah itu, Sisca masih kesakitan. Dia tidak mungkin bisa tidur nyaman, jadinya Sisca saat ini hanya duduk di tepi tempat tidur.
"Baik, pak, bu. Saya tinggal dulu. Sebentar lagi ada petugas yang memeriksa ibu..!"ujar petugas laki laki yang mendorong Sisca dari UGD tadi.
"Iyya, pak. Terima kasih..!"jawab Fatih dengan sopan. Fatih kemudian menenangkan diterima, dengan mengelus punggungnya dengan telaten.
Lalu ada petugas wanita dengan baju serba putih menghampiri Sisca, sembari mendorong trolley yang diatasnya terdapat berbagai macam peralatan kesehatan. Ada tensimeter (alat untuk mengukur tekanan darah), stetoskope, bengkok (alat kesehatan untuk menaruh barang kotor), Doppler (alat kesehatan untuk mendeteksi detak jantung janin), temperatur suhu, tempat kassa, korentang (alat kesehatan untuk mengambil kassa steril), juga beberapa alat untuk pasang infus, handscoon (sarung tangan), serta cairan infus.
__ADS_1