
Setelah berjuang dan bertaruh nyawa, tepat pukul 23.00, pas hari kamis. Sisca, melahirkan seorang anak laki laki dengan panjang 151 cm dan berat badan 2,8 Kilogram. Persalinan berjalan dengan lancar, yang ditolong oleh tenaga kesehatan handal tentunya. Dan bayi mungil tersebut lahir denganspontan dan menangis dengan keras.
Ooeekk oeekk ....suara bayi baru lahir masih menggema di ruangan tindakan persalinan.
Kemudian bayi tersebut dibersihkan oleh petugas rumah sakit. Sebelumnya, Fatih maupun Sisca tidak ingin tahu jenis kelamin bayi mereka, biar ada kejutan untuk keduanya.
Fatih siap meng Adzani sang putera mereka. Digendong lah sang bayi, dan di adzani di telingan kanan dan kiri nya. Putera mereka yang belum memiliki nama itu, tampak tenang ketika di adzani oleh sang ayah.
Ketika selesai di adzani, Fatih memanjatkan do'a yang terbaik untuk puteranya itu.
"Jadilah anak yang Sholeh ya, nak. Jadi anak yang kuat dalam menghadapi masalah di dunia. Dan jadilah anak kebanggaan ayah sama ibu..!"do'a yang di panjatkan oleh Fatih untuk putera pertamanya.
Setelah selesai, Fatih menyerahkan bayi mereka pada isterinya.
"Sayang, terima kasih ya, sudah berjuang untuk melahirkan putera kita. Dia tampan..!"ujar Fatih kepada isterinya. Memang bayi mereka tampan seperti Fatih, hidung mancung, rambut tebal, kulit masih merah.
"Iyya, dia tampan seperti kamu, mas...!"ujar Sisca tersenyum manis pada suaminya itu. Kini, mereka berdua tampak bahagia, sudah lengkap kebahagiaan mereka saat ini.
"Maaf Bu, kita bersihkan dulu ya, setelah ini ibu dan si kecil kita pindahkan ke ruangan..!"ujar petugas kesehatan perempuan yang tadi membantu persalinan Sisca. Dengan telaten beliau merawat Sisca, dengan menggunakan sarung tangan.
Setelah selesai dibersihkan, kini Sisca dan putera nya telah dipindahkan ke ruangan. Sang bayi tampak kuat menyusu pada ibunya. Hampir Tiga Puluh Lima Menit dia menyusu. Dan, kini tidur lelap di gendongan Sisca.
__ADS_1
"Sini, nak. Biar ibu bantu tidurkan di box nya, kamu juga biar istirahat..!"ujar ibunya Fatih pada Sisca. Beliau langsung mengambil sang cucu dari gendongan menantunya, lalu ditidurkan di box bayi yang ada di ruangan tersebut.
"Kamu, makan dulu ya, sayang...!"ujar Fatih pada isterinya. Lalu, dia mengambil ransum nasi yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Ada daging sapi, tahu, tempe, sayur wortel, serta buah melon.
"Iyaa, tapi sebenarnya, aku masih ngantuk, mas...!"kata Sisca, yang memang kelihatan lemah. Karena selama dua hari dia tidak nyenyak tidurnya.
"Biar, aku suapin ya, kamunya tiduran sambil bersandar ajja..!"kata Fatih yang langsung memposisikan Sisca bersandar di ranjang nya, lalu fatih mengambil makanan yang ada di atas meja, kemudian Fatih meletakkan diatas pahanya.
"Ayok...buka mulut kamu, aaa'...!" Ujar Fatih kepada isterinya.
"Kamu harus makan yang banyak, ya sayang..., Karena sekarang kan ada anak kita yang harus kamu beri ASI..!"lanjutnya kemudian.
Dengan telaten Fatih menyuapi isterinya. Fatih merupakan laki laki yang sabar dan romantis pada isterinya.
"Aku benar benar ngantuk mas, aku mau tidur dulu ya, mumpung si kecil tidur. Nanti dua jam lagi, bangunin aku. Aku mau menyusui lagi..!"ujar Sisca, dia memelorotkan badan nya utk tidur terlentang.
Untuk bayi baru lahir, memang lebih baik di susui tiap dua jam sekali. Biar asupan nutrisinya tercukupi. Meskipun si kecil lagi tidur, diupayakan untuk dibangunkan. Biar bayi tidak kekurangan cairan, dan tidak meningkatnya kadar bilirubin dalam darah.
"Ya sudah, kamu tidur dulu, istirahat ya, sayang. Nanti pasti aku bangunkan..!"lanjut Fatih kemudian. Fatih membenarkan posisi selimut isterinya hingga menutupi tubuh nya hingga sebatas dadanya. Di kecup kening sang isteri dengan sayang.
"Aku mencintaimu, sayang, tidurlah..!"gumam Fatih saat mencium kening isterinya. Fatih merasa bersalah pada isterinya, Karena di awal pernikahan mereka, Fatih masih belum sepenuhnya mencintai Sisca. Fatih masih selalu kepikiran dengan sosok Erlita, cinta pertamanya.
__ADS_1
"Fatih, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk, anak kalian..?"tanya ibunya Fatih, yang saat ini menata baju dari tas untuk dia letakkan di lemari pakaian, di ruang rawat inap tersebut.
"Sudah,Bu. Namanya Muhammad Habibullah Fatah, nanti bisa dipanggil Habib..!"lanjut Fatih dengan tersenyum. Nama merupakan do'a terbaik yang diberikan oleh orang tua.
"Nama yang bagus, nak. Semoga kelak anak kalian bisa menjadi anak Sholih, berbakti pada agama dan orang tua...!"ujar ibunya Fatih tersenyum. Dia bangga akan anak anaknya yang selama ini selalu membuat orang tua bangga.
"Aminnn. Semoga saja Bu. Fatih, juga terima kasih kepada ibu dan ayah, yang selama ini membesarkan Fatih, dan menemani Fatih disaat Fatih berada di titik terendah..!"kata Fatih yang bersimpuh dihadapan ibunya.
Fatih masih ingat, bagaimana dia merasa sendiri disaat dia mengalami kecelakaan, meskipun saat itu dia hilang ingatan. Namun, dengan sabar dan perjuangan yang besar, kedua orang tuanya merawatnya. Tidak hentinya kedua orang tua fatih berdo'a untuk kesembuhan puteranya itu, dan membawa Fatih hingga keluar kota demi kesembuhannya.
"Nak, tidak perlu engkau berterima kasih pada ibu dan ayah, itu merupakan kewajiban kita sebagai orang tua, demi kebahagiaan anak anaknya. Dan, itu akan engkau rasakan kelak, bila anakmu sudah besar..!"ujar ibunya Fatih dengan sabar dan bijak. Beliau tidak pernah membeda bedakan antara Fatih dan adiknya, mereka berdua diperlakukan sama.
Ibu dan anak yang sedang asyik mengobrol, tiba tiba dikagetkan dengan kedatangan ayahnya Fatih. Memang beliau tidak betah bila berlama lama di dalam rumah sakit, karena tidak bisa terpisahkan dengan kebiasaan merokok nya.
"Ayah, darimana?"tanya isterinya itu. Beliau kini berdiri dari duduknya dan menghampiri suaminya, lalu menyodorkan segelas air putih, itu merupakan kebiasaan suami isteri itu, yang senantiasa tampak romantis, meskipun usia sudah tak muda lagi. Jadi, membuat iri Fatih saat ini.
"Biasa bu, ayah cuma dari parkiran...!"jawab suaminya itu, dia mengambil gelas yang diberikan isterinya itu. Hanya dengan dua kali teguk, kini minuman itu sudah habis. Yang mampu menghilangkan dahaganya, setelah tadi dari luar, cuaca siang ini memang begitu terik.
Fatih yang melihat komunikasi kedua orang tuanya itu, merasa iri dan sangat mendambakan kerukunan dalam rumah tangganya, seperti rumah tangga orang tuanya selama ini. Namun, sampai saat ini, Sisca belum bisa memperlakukan Fatih sebaik ibunya yang memperlakukan ayahnya.
Fatih berjanji, setelah Sisca melahirkan ini, Fatih akan mengajari Sisca secara perlahan tentang cara memperlakukan suami yang baru datang kerja.
__ADS_1
Selama hampir satu Minggu Fatih diam di kediaman orang tuanya, banyak hal yang dipelajari Fatih, dari cara ibunya itu memperlakukan ayahnya. Ibunya Fatih, memang benar benar isteri idaman.